Sabtu, 19 April 2014

/ Travel

Istana Versailles, Tempat Ratu Pop Marie Antoinette Berpesta!

Selasa, 20 September 2011 | 16:04 WIB

Baca juga

KOMPAS.com - Pengagum peninggalan sejarah kebesaran bangsa Perancis yang dapat berkunjung ke Istana Versailles ibarat sebuah impian bagi mereka. Istana Versailles di Paris, Perancis, merupakan istana emas peninggalan abad ke-16 milik Raja Matahari.

Le Château de Versailles pertama kali saya datangin tahun 1995. Lama benar ya? Saya masih berumur belasan tahun namun sudah duduk di bangku universitas. Saat itu, saya mengunjungi Perancis hanya berdua bersama kakak saya.

Untungnya, kami sudah dianggap dewasa dan memang sudah terbiasa dengan perjalanan mengunjungi beberapa negara. Jadi sudah tak terlalu merasa takut terbang karena hanya berdua atau ikutan tur wisata tanpa orang tua.

Pemandu wisata kami berdua saat itu juga bukan orang asing, melainkan mantan pacar alias suami saya sekarang ini. Kami mengunjungi Perancis, selain untuk berkenalan dengan keluarga David alias Kang Dadang, juga sekalian untuk berlibur.

Tentunya saat itu status saya dan suami masih dalam tahap naksir-naksiran, he-he. Jadi belum resmi pacaran. Jikapun kami berdua kenal itu dikarenakan suami saya dulu pernah menjadi anak asuh keluarga kami saat pertukaran pelajar.

Kenangan indah saat pertama kali mengunjungi istana Versaille begitu membekas di hati saya. Istilahnya, mata saya dibuang 'bling-bling', karena bersinar melihat keindahan dan kemegahan bangunan. Belum lagi dekorasi, pahatan ukiran, lukisan hingga tamannya yang sangat luas.

Taman ditata begitu memukau dengan air mancur yang indah menyembur dari hasil kreasi seniman abad itu. Tentu saja saya begitu kagum, pada zaman itu belum menggunakan sistem canggih seperti saat ini. Namun pancuran air yang menari-nari membuat saya terkagum memikirkan kehebatan arsitek di masa itu.

Maka musim panas ini, mengunjungi Istana Versailles masuk dalam daftar liburan keluarga kami di Paris. Versailles terdapat di luar Paris, sekitar 16 kilometer dari kota Paris. Transportasi ke sana selain dengan mobil, bisa juga dengan bus atau kereta, seperti yang kami pilih saat itu karena sangat praktis.

Menyibak keindahan istana yang pada awalnya dibangun atas keinginan Raja Louis ke-13 ini tak bisa dihitung dengan beberapa jam. Namun harus menyisihkan waktu satu hari, bila memang ingin menguak dan menikmatinya.

Memang Raja Louis ke-13 lah yang memulai tahap pembangunan di kota Versailles ini. Tetapi pembesaran istana terjadi secara bertahap, sesuai dengan kepemimpinan saat itu.

Pukul sembilan pagi kami sudah berada di stasiun kereta. Bisa dari stasiun mana saja asalkan terdapat kereta RER (kereta kota Paris dan sekitarnya). Dari sanalah kami naik kereta menuju kota Versailles. Saat kami berangkat masih tersisa bangku kosong.

Setelah tiga kali berhenti di stasiun, jangankan bangku tersisa, napas saja sudah menjadi sesak. Bahasa yang terdengar pun campur aduk. Rupanya, boleh dibilang kereta ini mengangkut 90 persen wisatawan dengan tujuan Istana Versailles.

Tahun 1995, saya menaiki kereta menuju Versailles dengan santai. Mungkin karena turis belum sebanyak sekarang ini atau karena tahun itu saya datang di musim dingin. Sementara tahun 2011 ini kami sekeluarga datang di musim panas.

Tiba-tiba saya merasa seperti sedang mudik saja, desak-desakan dalam kereta. Begitu pula saat kereta berhenti di kota Versailles, kerumunan orang yang keluar dari kereta bagaikan berhamburan. Sampai-sampai untuk lewat dari pintu stasiun, badan harus rela terhimpit.

Saya dan suami sampai bingung, karena mengingat bagaimana 16 tahun yang lalu, suasana begitu berbeda. Jalan-jalan santai tak mungkin kami lakukan lagi. Trotoar di kanan dan kiri, penuh dengan manusia. Ahhh lagi-lagi tujuannya hanya satu, istana emas!

Benar saja, dari 200 meter, mata kami sudah dibenturkan oleh lautan manusia di depan gerbang Château de Versailles. Antrean untuk membeli tiket, cocok benar dengan lirik lagu "ular naga panjangnya bukan kepalang".

Untungnya, sebelum berangkat kami sudah menyiapkan bekal untuk makan siang. Karena dari mulai antre untuk membeli tiket hingga antre untuk masuk dalam istana memakan waktu 2-3 jam. Jadi bisa dibayangkan, jumlah waktu yang harus disisihkan. Apalagi dua setengah jam waktu yang telah berlalu untuk antre itu belum termasuk waktu untuk kunjungannya.

Sementara, Château de Versailles yang megah dan luas itu, memakan waktu berjam-jam untuk disibak keindahannya. Saat kami mengantre untuk masuk istana, waktu telah menunjukan pukul 12 siang. Kami pun makan bekal berupa roti isi salmon asap. Kami terpaksa makan sambil berdiri.

Lucunya bukan hanya kami yang melakukan makan siang ala berdiri seperti ini. Karena pengunjung yang lain sebagian besar memang telah menyiapkan bekal mereka. Daripada mencari tempat untuk makan siang yang tak mudah dan akan kehilangan waktu, cara makan seperti inilah yang paling efisien. Makan sambil mengantre, begitulah.

Jurnalis atau tidak, tetap harus ikut mengantre di jalur yang sama. Hanya bedanya brosur yang dibagikan kepada saya mendapatkan keterangan khusus untuk wartawan. Tiket masuk ke Istana Versailles berbeda-beda, mulai dari 18 euro hingga 25 euro, tergantung kepada beberapa tempat yang akan dituju.

Anak-anak dibawah 18 tahun gratis! Hebat kan? Gratis untuk mengunjungi istana dan pamerannya, untuk tempat lain seperti taman dengan air mancur harus membayar, namun tak mahal.

Di Istana Versailles, disediakan mobil kecil seperti mobil untuk bermain golf, tentu saja harus menyewa. Namun ada juga kereta wisata yang membawa kita berkeliling daerah istana.

Tujuan pertama kami tentunya, Château de Versailles, tempat Raja Louis 14, Raja Louis 15, dan Raja Louis 16 bermukim. Ditempati secara resmi sejak tahun 1682 hingga tahun 1789.

Bangunan tersebut memiliki luas sebesar 63.154 meter persegi dan terdiri dari 2.300 ruangan. Dari 2.300 ruangan, terdapat 1.000 ruangan yang kini digunakan sebagai museum. Hal yang paling tersohor dari bangunan ini adalah ruangan kaca, apartemen raja dan ratu, serta tentunya kamar raja dan ratu.

Sayang sekali, kami tak dapat menikmatinya dengan santai. Mengapa? Boro-boro mau lihat tempat tidur raja atau mengagumi dekorasinya, lorong setiap ruangan padat dengan manusia. Badan benar-benar terjepit. Si kecil Bazile terpaksa ditaruh di atas pundak ayahnya, karena tak bisa berjalan.

Tetapi, cara ini malah mendapat teguran dari petugas. Alasannya takut anak kami jatuh, luka, dan pihak Istana Versailles yang wajib menanggung akibatnya. Adam, anak sulung kami mulai menggerutu, karena dirinya bukan saja tak bisa melihat, namun mengambil gambar pun kesulitan. Saat itu, para pengunjung memadati istana dengan rata-rata tangan di atas menggenggam kamera, memotret ala kadarnya.

Kesan yang tergores memang jadi berbeda. Enam belas tahun lalu, dengan santai saya bisa menikmati setiap ukiran, lukisan, kemegahan dan kemewahan peninggalan para raja dan ratu Perancis. Kini, melihat pun jadi terasa tak nyaman. Hingga keindahan yang harusnya memesona jadi terlewatkan begitu saja.

Pelan-pelan saya tenangkan anak sulung saya, untuk melihat ke atas memandangi keindahan lukisan dari langit-langit atap istana yang dilukis begitu memukau. Berhasil, cari ini membuatnya begitu tenang.

Si kecil Bazile pun mulai terlihat seru sendiri. "Wowww banyak bidadari ya, Ma, di atas, bagus ya," katanya. "Siapa yang tinggal di sini dulu, Ma? Kok rumahnya gede banget dan banyak emas, orang kaya ya, Ma?" tanyanya polos.

Memang, melihat dan membayangkan bagaimana kehidupan para bangsawan zaman keemasan rasanya bagaikan mimpi. Bila kita pernah melihat film mengenai para raja Perancis atau film Marie Antoinette, dari sutradara terkenal Sofia Coppola, maka di sinilah hati kita akan berbicara, "Oh inilah tempat mereka tidur", "Ahhh di sinilah mereka menjamu tamu kerajaan", dan "Wahhh tidur saja begitu penuh dengan kemegahan".

Tetapi, di istana yang boleh dibilang tak kekurangan apapun, hanya satu yang tak bisa kita temukan, yaitu kamar kecil untuk buang air kecil dan besar. Karena para ratu dan raja, terbiasa buang hajat di atas baskom khusus untuk kotoran yang nantinya dibersihkan oleh para pelayan istana.

Setelah mengunjungi château utama, kami langsung menuju tempat Ratu Marie Antoinette. Belasan tahun yang lalu, saya tak sempat mengunjungi tempat ini. Ternyata banyak orang yang melewatkan istana Si Ratu Pop yang satu ini.

Bagi wisatawan, Istana Versailles adalah bangunan keemasan yang megah. Maka melihat istana utama sudah terwakili, bahkan terkadang taman nan cantik pun terlupakan. Tahun 1995 saya tak berkesempatan mendatangi taman karena sedang dalam tahap renovasi dan tertutup untuk umum. Luas taman dari Château de Versailles kabarnya saat ini lebih kecil 10 kali dari luas awalnya.

Menuju istana ratu dari Louis ke-16 yang nyawanya berakhir dengan pisau guillotine di tahun 1793 ini, sebaiknya menggunakan kereta karena cukup jauh. Ada dua kediaman dari wanita yang menikah di usia 15 tahun ini, Petit Trianon dan Hameau de la Reine, "hamlet" dalam bahasa Inggris dan "dukuh" dalam bahasa Indonesia.

Jauh dari kilauan emas, itulah yang tersirat saat melihat kepulauan istana milik ratu asal Austria ini. Istri dari Louis ke-16 yang kabarnya ratu pesta, ternyata memiliki istana yang sangat bertolak belakang dengan gambaran Château Versailles.

Kedua tempat tinggal Marie Antoinette ini sangat berhubungan. Hanya tipenya begitu berbeda. Petit Trianon berupa bangunan kerajaan kecil. Sementara Hameau de la Reine, berbentuk gubuk-gubuk mungil, lucu, dan cantik bila dilihat dari kejauhan, bagaikan rumah mainan yang cocok untuk para kurcaci dengan taman dan danau di sekitarnya.

Istana Trianon merupakan hadiah dari Raja Louis ke-15 atas permintaan dari selirnya untuk Marie Antoinette. Namun sejak kematian Louis ke-15, suaminya Antoinette yang meneruskan dan membangun taman serta beberapa gubuk bagaikan di sebuah desa perternakan yang dinamakan Hameu de la Reine, untuk sang istri yang kerap merasa kesepian.

Sejak pernikahannya dengan pangeran Versailles yang kemudian menjadi Raja Louis ke-16 di tahun 1774, Marie Antoinette lebih sering sendiri. Belum juga terbiasa dengan lingkungan Perancis, wanita pirang yang memiliki kulit sangat pucat itu selalu ditinggal oleh suaminya.

Salah satunya ditinggal untuk berburu yang merupakan hobi sang suami. Keduanya menikah pada usia 15 tahun. Pangeran Versailles masih saja senang berburu sementara Marie Antoinette yang masih menyukai bermain dan berkumpul dengan teman.

Marie Antoinette mencoba melepaskan kesunyiannya dengan mengadakan keramaian, berpesta menjadi simbol yang disandangnya. Anak-anak dari Raja Louis ke-15 pun sangat memengaruhinya dalam pergaulan.

Bukan hanya pesta saja, kegemaran lainnya yaitu mengikuti mode. Beberapa perancang dipanggilnya untuk selalu membuatkan kostum agar dirinya selalu terlihat nge-tren.

Apalagi dirinya masih belia dan tak kunjung juga dikaruniai keturunan, hal ini membuat gosip tentang kemandulannya menyebar dan membuat Marie Antoinette yang keturunan bangsawan Austria ini semakin tertekan.

Meksipun pada akhirnya wanita kelahiran Wina ini memiliki putri, tetap saja gunjingan tentang dirinya di dalam lingkungan kerajaan tak terputus. Saat Marie Antoinette melahirkan anak keduanya yang seorang pria, hal ini membuat Raja begitu bangga. Namun sayangnya kedudukan dirinya sebagai ratu tetap tak dianggap.

Raja sangat menyukai istrinya, hobi sang istri berpesta tak pernah dipermasalahkannya. Bahkan Raja pun ikut menikmati setiap pesta yang diadakan Marie Antoinette. Marie Antoinette ternyata memiliki kekasih gelap yaitu Hans Axel de Fersen, seorang bangsawan turunan Swedia.

Antoinette sangat menyukai teater dan kesukaannya ini mendapat dukungan dari Sang Raja. Maka dibuatlah teater untuk Antoinette. Tak segan-segan, Ratu sendiri kerap bermain teater. Sering kali dirinya berperan sebagai pelayan dan mengolok suaminya, Sang Raja Perancis.

Raja selalu terkagum dengan permainan Marie Antoinette, bertepuk tangan bagi si istri begitu juga penonton Hanya saja, di belakang mereka mencemooh kedua pasangan tersebut yang dinobatkan sebagai raja dan ratu saat keduanya berusia 18 tahun.

Marie Antoinette juga sangat memengaruhi Raja dalam masalah politik. Misalnya memengaruhi dalam mengangkat dan memecat para menteri istana. Hal ini membuat Marie Antoinette semakin banyak dimusuhi oleh kalangan kerajaan.

Memang tak seperti pasangan raja dan ratu lainnya, Marie Antoinette terkenal sebagai ratu yang memiliki sejarah abadi. Cerita mengenai dirinya tak habis diperbincangkan orang dan selalu menjadi inspirasi bagi para penulis, seniman, dan dalam dunia film.

Kematiannya yang tragis dengan leher terpotong oleh pisau guillotine, seolah menambah satu sisi sejarah penting dalam kehidupannya. Ia diadili dalam pengadilan saat Revolusi Perancis terjadi. Tuduhan pertama yang dikenakan pada Antoinette adalah melakukan inses dengan putranya, Louis ke-17. Hal ini membuat hati Marie Antoinette terluka hingga menolak untuk menjawab tuduhan tersebut.

Kabar yang tersirat dari tuduhan itu merupakan tuduhan palsu yang sengaja dilontarkan padanya karena alasan kecemburuan. Ada pula tuduhan-tuduhan lainnya yaitu Ratu Perancis ini dianggap sebagai mata-mata bagi negara musuh. Ia dituduh memberikan dana bantuan kepada beberapa negara musuh perancis.

Boleh dikatakan, ia disidang secara tak adil. Tak ada pengadilan, hanya tuduhan baginya. Ia pun tidak diberikan kesempatan untuk mengumpulkan bukti kebenaran. Ia langsung saja dinyatakan bersalah dan dikenakan hukuman mati.

Dini hari pada pukul empat, hukuman guillotine diberikan dan siang harinya pelaksanaan langsung diterapkan. Marie Antoinette tak diberikan waktu sedikit pun. Tersiar kabar, segala tekanan itu yang membuatnya dirinya menua dengan cepat dan rambutnya memutih.

Seorang pelukis revolusi saat itu menyatakan Ratu dengan penuh keberanian berjalan selama satu jam hingga kedua kakinya naik panggung. Di atas panggung seorang algojo telah menunggunya.

Tanggal 16 oktober 1793, itulah akhir dari kehidupan Sang Ratu Pop Perancis. Ia meninggal di usia 38 tahun, menyusul suaminya Raja Louis ke-16 yang juga mati oleh pisau guillotine.

Kematian kedua pasangan raja dan ratu ini kemudian hari menjadi sebuah sejarah yang digambarkan sebagai kejahatan perang revolusi. Napoleon sendiri berkata membunuh ratu merupakan sebuah kejahatan yang jauh lebih kejam dibandingkan pembunuhan terhadap raja.

Kini nama Marie Antoinette begitu terkenal. Termasyur akan kecantikannya, kegemarannya, dan juga istana pribadinya. Di Hameau de la Reine inilah saya bisa membayangkan dirinya menghabiskan waktu sehari-hari.

Salah satunya terdapat sebuah gubuk yang bertuliskan rumah merenung Marie Antoinette. Apakah yang dia renungkan hingga akhir hayatnya? Benarkah dirinya telah menghianati suaminya sendiri? Mata-matakah dia selama dinobatkan sebagai Ratu Perancis? Misteri tentng sosok Marie Antoinette setidaknya bisa kita sibak di Château de Versailles ini.... (DINI KUSMANA MASSABUAU)


Editor : kadek