Rabu, 23 Juli 2014

/ Travel

Wisata Jepang

Anjing Saja Tertib Berlalu Lintas

Jumat, 23 September 2011 | 12:17 WIB

KOMPAS.com - Artikel kali ini saya ingin menceritakan betapa tertibnya negeri matahari terbit, Jepang. Ketertiban yang bikin sumringah, shock, senang, nyaman, aman, dan kagum. Judul dengan perbandingan “Anjing” pun, bukan semacam umpatan, tetapi adalah kenyataan.

Saat itu saya sedang menunggu lampu merah menjadi hijau. Di seberang saya ada orang dengan seekor anjingnya yang tanpa tali atau rantai, alias anjingnya dilepas begitu saja, tanpa si majikan merasa takut anjingnya akan mengganggu orang lain.

Nah, ketika lampu merah, anjing tersebut duduk dengan santainya. Ketika lampu berubah menjadi hijau, tanpa dikomando oleh sang majikan yang bahkan tak tahu lampu telah berganti warna menjadi hijau, anjing itu langsung berdiri. Si anjing pun menyebrang dan diikuti oleh sang majikan. Kawaii (lucunya)!

Ya, itulah sekelumit cerita pembuka saya dan hal-hal yang akan saya ceritakan berikutnya, juga sepertinya enggak kalah menarik dan bisa menjadi pembelajaran bagi kita.

Kesadaran Masyarakat Jepang Soal Menyebrang Jalan

Shibuya adalah tempat untuk melihat ribuan pejalan kaki menyebrang dengan tertibnya di jalanan Tokyo yang padat. Ini adalah sebuah pemandangan yang menarik bagi para turis.

Pada detik-detik sebelumnya, lalu lintas dipadati oleh mobil. Namun jalanan tersebut sontak akan terdiam sedetik dan kemudian berganti dengan ribuan gerakan kaki yang sedang berjalan tergesa-gesa diiringi oleh bunyi tit-tut-tit-tut sebagai penanda waktunya pejalan kaki untuk bergerak.

Lalu kemudian di detik-detik berikutnya jalanan kembali menjadi sunyi dan berubah dipenuhi oleh mobil. Begitu saja seterusnya kegiatan pagi sampai malam hari di Shibuya.

Okelah bisa dikata jika di Shibuya mereka bisa tertib menyebrang karena itu adalah jalan besar dan ramai yang mungkin juga banyak CCTV yang bisa-bisa jika mereka melanggar akan  dikenakan hukuman atau denda.

Tetapi, inilah kenyataan di Jepang. Saya tinggal di Nagano, di sebuah kota kecil yang juga tidak terlalu banyak mobil. Bahkan pada jam-jam tertentu keadaan jalan bisa sunyi.

Para pejalan kaki tetap saja menunggu dengan setia lampu merah berubah menjadi hijau. Bahkan, kejadian ‘terlalu taat’ ini juga saya jumpai ketika ada jalanan kecil yang hanya kalau dikira-kira hanya muat untuk satu mobil.

Hanya dengan jarak tidak lebih dari dua meter, orang Jepang tersebut dengan setianya berdiri menunggu lampu berubah menjadi hijau. Barulah kemudian dia menyebrang. Padahal jika Anda tahu, kondisi jalanan saat itu adalah super sepi tanpa ada suara derum mobil bahkan dari jauh sekalipun. Hebat ya!

Tentunya tak mungkin tak ada cela. Sesekali memang terlihat pejalan kaki yang ‘nakal’. Ia menyebrang sebelum lampu berubah menjadi hijau. Tetapi, tahukah Anda? Selama 2,5 bulan tinggal di sini, saya baru 3 kali melihat sosok ‘nakal’ tersebut.

Jumlah itu pun berarti lebih banyak jumlah saya melanggar lalu lintas dibanding jumlah orang yang saya lihat melanggar lalu lintas, he-he. Ya, karena tidak sabar, saya sering kali menyebrang tidak pada tempatnya dan ‘lari’ karena sudah terlihat mobil hendak melintas.

Oya, jika Anda di Jepang dan melihat tombol untuk menyebrang. Sebaiknya di pencet ya. Karena saya pernah mencoba untuk memencet maupun tidak memencet tombol tersebut. Hasilnya?

Ketika kita memencet tombol tersebut, maka lampu merah akan lebih cepat berganti hijau dibanding ketika kita tidak memencet tanda ingin menyebrang tersebut.

Saya pernah menunggu sekitar 3 menit karena tidak memencet tombol itu. Sedangkan ketika memencet tombol tersebut, hanya dalam waktu tak lebih dari 1 menit, lampu sudah kembali menyala hijau.

Kondisi mobil yang ruwet di persimpangan lampu merah di Jakarta, bukanlah hal yang aneh. Satu mobil buru-buru dari arah selatan, bertemu dengan mobil sembrono dari arah utara dan terjepit mobil yang sebetulnya tertib dari arah timur.

Lalu diperparah dengan mobil yang cuma bisa terdiam karena terkunci dari arah barat. Akhirnya, kondisi diam pun terjadi. Tak ada mobil yang bisa bergerak karena semua posisi dalam keadaan terkunci.

Duh, pusing deh kalau membayangkan kemacetan Jakarta! Mengapa hal ini tidak terjadi di Tokyo yang juga banyak mobil? Rahasianya tentu karena mereka tertib berlalu lintas.

Inilah yang saya rasakan selama tinggal di Jepang. Masyarakatnya sangat patuh berlalu lintas dan meski dalam keadaan terburu-buru, mereka sangat berusaha untuk tetap berada pada jalur patuh berlalu lintas.

Misalnya ketika dari jauh terdengar bunyi ambulans, meski lampu sudah menyala hijau, mereka akan tetap dengan taat, berdiam di tempat tanpa memanfaatkan lampu yang sudah menunjukkan tanda “jalan” tersebut.

Bahkan ketika ambulans lewat dan ternyata lampu sudah berwarna merah kembali, mereka tidak mengumpat dan menyesal. Mereka tetap dengan taat menunggu lampu kembali menjadi hijau, untuk melanjutkan perjalanan.

Mereka selalu berhenti sebelum berbelok untuk menengok apakah di kanan dan kiri ada mobil yang akan berjalan lurus. Mereka selalu mengutamakan yang berarah lurus daripada membuat diri mereka langsung berbelok yang dapat berakibat bahaya.

Namun hebatnya, ketika mobil dari arah kiri atau kanan tersebut ternyata juga hendak berbelok, maka dia tidak akan semena-mena main belok.

Melainkan mobil tersebut juga akan berhenti dan membiarkan mobil yang telah lebih dahulu berhenti, berjalan dulu. Wow saling pengertian di jalan, membuat Jepang menjadi terlihat sangat teratur.

Pengendara mobil sangat menghargai pejalan kaki. Jadi, hal yang sangat aman dan nyaman untuk menjadi pejalan kaki di Jepang.

Karena ketika ada orang hendak menyebrang (ditempat yang telah ditentukan untuk menyebrang) maka meski tak ada lampu merah atau lampu peringatan lainnya, mobil secara otomatis akan berhenti dan memberi Anda waktu untuk menyebrang.

Pejalan kaki mendapat posisi teratas pada hirarki lalu lintas di Jepang. Pejalan kaki memang seolah memiliki tanda VIP di seluruh tubuhnya. Karena kendaraan apapun, mau mewah, kuno, sedan, bus, semuanya harus lebih mengutamakan si pejalan kaki.

Bahkan ketika si pejalan kaki adalah penyandang cacat atau manula sehingga harus berjalan sangat lambat, kendaraan (mobil, motor, truk, atau bahkan mobil presiden sekalipun) harus menunggu dengan sabar sampai orang tersebut selesai menyebrang dengan selamat. Barulah kendaraan boleh melanjutkan perjalanan.

Jadi jangan heran jika Anda ke Jepang, maka ada banyak anak-anak TK yang bahkan pulang sekolah seorang diri, menyebrang jalan seorang diri. Karena ya semuanya serba aman. Mereka sedari kecil sudah diajari bagaimana cara menyebrang, yaitu menunggu lampu berwarna hijau.

Tentu saja hal ini sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia. Pejalan kaki di Indonesia, tak hanya rawan dijambret, kulit menghitam karena polusi knalpot, tetapi juga trotoar yang dipangkas karena digunakan oleh kendaraan untuk parkir bahkan pedagang kaki lima.

Hal ini sangat berbeda dengan di Jepang yang trotoar sungguh sangat luas dan mewah. Tak ada gangguan pedagang, tak ada gangguan parkir liar, dan terlebih kulit tak harus menghitam karena hitamnya knalpot jalanan.

Oya, trotoar di Jepang pun sangat ramah bagi mereka yang tuna netra. Nyaris di semua trotoar yang pernah saya lewati, di sana ada jalan berwarna kuning dengan tekstur kasar. Ini adalah jalur untuk mereka yang kehilangan indera penglihatannya. Sehingga dengan tongkatnya ia bisa meraba jalanan dan berjalan lurus tanpa takut ‘nyasar’ masuk ke jalan raya.

Apa Sih yang Membuat Mereka Bisa Tertib?

Ini nih yang serem. Hukum di Jepang sangat tegas dan tidak ba-bi-bu (katanya) hukuman bagi pelanggan lalu lintas adalah mulai dari harus bekerja sosial selama beberapa waktu yang telah ditentukan, hingga pencabutan SIM.

Padahal membuat SIM di Jepang itu bukan perkara gampang. Test-nya sangat susah. Masih ada sanksi yang lebih horor lagi.

Disebut-sebut, jika seseorang terbukti secara bersalah dalam sebuah kecelakaan dan mengakibatkan seseorang atau lebih mengalami cacat, maka sang bersalah wajib menyantuni orang yang kemudian menjadi cacat tersebut, seumur hidup.

Hukuman yang tegas dan tidak main-main inilah yang kemudian akhirnya membuat Jepang menjadi negara dengan lalu lintas yang sungguh tertib. Undang-undang yang jelas, aparat yang tegas, dan tingkat sumber daya manusia yang berkualitas. (Catur Guna Yuyun Angkadjaja dari Nagano, Jepang)

 


Editor : kadek
Sumber: