Selasa, 30 September 2014

/ Travel

Wisata

Bukit Tangkiling dan Hikayat Sangkuriang

Senin, 3 Oktober 2011 | 13:54 WIB

KOMPAS.com- Kunyatakan cintaku di Bukit Tangkiling. Demikian niat muda-mudi saat mendaki bukit di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Nama-nama pasangan muda-mudi itu pun lalu diguratkan pada batu-batu besar di sana. Namun, ada dongeng jauh yang lebih dahsyat dari Bukit Tangkiling dibandingkan roman picisan tangan-tangan jahil itu.

Alkisah tersebutlah pemuda bernama Tangkiling, seorang saudagar kaya dengan kapal besarnya yang kerap melanglang buana. Suatu hari, singgahlah ia di pelabuhan dan turun dari kapal untuk berjalan-jalan.

Tangkiling kemudian bertemu perempuan dan terpesona. Demikian pula si perempuan yang bernama Bawi Kuwu itu tertarik dengan kegagahan Tangkiling, sehingga tak perlu lama bagi mereka memutuskan untuk menikah.

Pesta pernikahan megah digelar dan Tangkiling menikmati masa-masa indah bersama pasangannya. Lebih kurang tiga bulan setelah pernikahan, Bawi Kuwu diminta mencari kutu di kepala Tangkiling. Ketika menyibak rambut yang lebat, sadarlah Bawi Kuwu bahwa Tangkiling adalah anaknya.

Tangkiling pun teringat kejadian 35 tahun lalu. Saat itu, Tangkiling kecil yang lapar merintih-rintih meminta makan kepada ibunya, Bawi Kuwu. Rengekan Tangkiling yang tak henti membuat Bawi Kuwu hilang kesabaran. Dipukulnya kepala Tangkiling hingga terluka. Bocah itu menangis menjerit-jerit kesakitan dan berlari terus hingga pelabuhan.

Seorang saudagar yang merasa iba kemudian mengajak Tangkiling naik ke kapalnya. Keberuntungan Tangkiling berlanjut. Ia diangkat sebagai anak dan punya kapal besar hingga akhirnya terjadilah tragedi dengan Bawi Kuwu yang tersingkap saat melihat luka di kepala Tangkiling.

Singkat cerita, cinta terlarang itu dikutuk para dewa, sehingga Tangkiling berubah ujud menjadi batu, termasuk kapalnya. Kapal yang menjadi Batu Banama kini bertengger di Bukit Tangkiling.

Agak mirip dengan legenda Sangkuriang memang. Nah, Tangkiling saat ini banyak dikunjungi wisatawan, termasuk para remaja yang usil menorehkan nama-nama mereka pada batu-batu tadi di puncak bukit. Keindahan Bukit Tangkiling yang berjark 34 kilometer dari pusat Kota Palangkaraya itu memang sulit untuk ditampik mampu memancarkan suasana romantis.

Mendaki pagi

Suatu Sabtu di bulan Agustus lalu, misalnya, beberapa sejoli terlihat bercengkerama atau berfoto-foto. Bagi wisatawan yang datang bersama pasangan atau keluarga dan tak biasa mendaki gunung, tidak perlu risau. Puncak Bukit Tangkiling setinggi 197 mdpl bisa dicapai dengan berjalan kaki hanya sekitar 30 menit. Trek pendakian diawali dengan menembus pepohonan rimbun di kaki bukit.

Jika menyusuri jalur itu pada pagi hari, akan terasa kesejukan dan segarnya udara disela-sela pohon cempedak, rambutan, meranti, dan pilau. Karena itu, pendakian Bukit Tangkiling disarankan pagi hari sekitar pukul 07.00-08.00. Lebih siang lagi, matahari bersinar kian terik, sehingga kurang nyaman untuk mendaki.

Pendakian juga bisa dilakukan pada sore hari, disarankan mulai pukul 15.30. Hanya, tentu saja waktu untuk bersantai jadi lebih terbatas karena berkejaran dengan senja.

Tersedia dua jalur utama untuk pendakian. Jadi, setiap jalur bisa dilewa ti secara bergantian masing-masing pada saat naik dan turun. Titik dimulainya pendakian itu pun tak berjarak jauh dari lokasi parkir kendaraan.

Bila tak kuat menanjak nonstop, jangan dipaksakan. Setelah sekitar 15 menit berjalan, ada tempat yang cukup lapang untuk beristirahat dengan beberapa bangku panjang dan meja kayu. Namun, dari titik itu pula setengah hasil pendakian sudah dicapai.

Sebagian panorama memukau telah terlihat seperti Bukit Baranahu, Sungai Rungan, dan hutan di sekitar Palangkaraya. Setela h sampai di atas, barulah jerih payah dari napas yang terengah-engah tadi terbayarkan. Kota Palangkaraya pun bisa dinikmati dari puncak bukit ini.

Pandangan paling leluasa didapatkan jika wisatawan memanjat batu besar yang terletak tepat di atas Bukit Tangkiling. Saat cuaca amat cerah, hampir seluruh panorama Palangkaraya bisa terlihat, termasuk Jembatan Kahayan yang berwarna jingga. Jembatan dengan panjang 640 meter itu merupakan salah satu ikon Kota Palangkaraya.

Jangan lupa untuk membawa minuman dan lebih nikmat jika dingin. Di atas puncak batu itu, sensasi paling mantap terasa saat meneguk minuman segar sambil memandang panorama Palangkaraya. Ditambah belaian angin sepoi-sepoi di puncak bukit, tubuh terasa sejuk setelah didera keletihan.

Jika lupa membawa air, jangan khawatir, karena beberapa penjual makanan ringan dan minuman mudah ditemukan. Akan tetapi, mereka biasanya hanya berjualan pada Sabtu, Minggu, atau hari-hari besar.

Sembilan bukit

Bukit Tangkiling termasuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit  Tangkiling. Di sana terdapat sembilan bukit yakni Baranahu, Kalalawit, Tabala, Tunggal, Bulan, Buhis, Liau, Lisin, dan yang paling populer tentunya Tangkiling. Di TWA Bukit Tangkiling, wisatawan juga bisa melihat beberapa satwa yang ditempatkan di sangkar, seperti kasuari, kera, binturung, dan landak.

Menurut Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Kalteng, Berdodi Samuel, Bukit Tangkiling sebenarnya memiliki potensi besar sebagai lokasi wisata terpadu. Selain keindahan alam, kawasan itu juga bisa menjadi tujuan wisata religi denga n keberadaan Biara Pertapaan Karmel dan pura Hindu Kaharingan. Tak jauh dari TWA pula, terdapat Hotel Rungan Sari yang cukup nyaman dan kerap disinggahi wisatawan mancanegara.

Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling seluas 533 hektar (ha) dikelola Balai Konserv asi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng. Tak dapat dipungkiri, Bukit Tangkiling masih punya kekurangan. Tempat sampah misalnya, tidak tersedia, sehingga sampah terlihat di beberapa sudut.

Petunjuk jalan menuju puncak Bukit Tangkiling juga tidak terlihat sama sekali. Wisatawan yang belum pernah ke sana dan tidak dipandu dipastikan akan kebingungan. Karena itu, tak perlu ragu untuk mengunjungi kantor resor BKSDA Kalteng atau Anak Himba Outbound yang masih berada di TWA tersebut. Kedua lembaga itu menyediakan pemandu.

Kepala Seksi Wilayah I Palangkaraya, BKSDA Kalteng Gunawan Budi mengatakan, pembenahan Bukit Tangkiling akan dilakukan pada Oktober 2011. "Kami cukup sibuk menanggulangi bahaya kebakaran akhir-akhir ini. Jadi, pembenahan seperti pemasangan petunjuk jalan baru bisa dilakukan Oktober nanti," katanya.

Tira Maya Maisesa (26), wisatawan dari Malang, Jawa Timur, yang berkunjung ke Bukit Tangkiling mengagumi keindahan TWA tersebut. "Di puncak Bukit Tangkiling pemandangan indah. Sungai Rungan dan Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyarumenteng bisa terlihat jelas dari ketinggian. Namun, keindahan itu juga menyimpan dilema. Puncak bukit Tangkiling mudah dicapai dan disinggahi banyak wisatawan. Dampaknya, Bukit Tangkiling paling sering mendapatkan gangguan dari wisatawan, ujaranya.

Meeki begitu, ia tetap berharap agar keindahan Tangkiling masih bisa dinikmati anak cucunya kelak....


Penulis: Dwi Bayu Radius
Editor : Marcus Suprihadi