Selasa, 2 September 2014

/ Travel

Pesona Kincir Angin Belanda nan Legendaris

Senin, 3 Oktober 2011 | 16:48 WIB

KOMPAS.com - Belanda tidak hanya terkenal dengan bunga tulip tetapi juga kincir angin. Kincir angin merupakan warisan budaya yang memesona bangsa-bangsa lain sehingga menjadi ikon Belanda dengan sebutan Negeri Kincir Angin.

Orang Indonesia sudah sangat kenal dengan ikon kincir angin Belanda. Karena, sebuah toko roti terkemuka di Indonesia menggunakan nama negara tersebut dengan ikon kincir angin di atas bangunan tokonya.

Menemukan kincir angin di negara asalnya Belanda sesungguhnya tidak sulit. Sebab bangunan khas kincir angin yang sudah ada di Belanda sejak ratusan tahun yang lalu ini masih banyak  tersebar di seluruh wilayah Belanda .

Kincir angin pada awal keberadaannya di Belanda sekitar abad 13 berfungsi untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (polder). Hal ini mengingat letak dataran Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut.

Dengan perkembangan teknologi, sekitar abad ke-17 kincir angin digunakan juga sebagai sarana pembantu di bidang pertanian dan industri. Seperti memproduksi kertas, mengasah kayu, mengeluarkan minyak dari biji, dan menggiling jagung.

Jumlah kincir angin beberapa abad lalu ada sekitar 10.000 kincir angina. Sekarang, kurang lebih 1000 kincir angin. Sebagian kincir angin yang ada sekarang masih berfungsi serta menjadi  obyek wisata yang sangat menarik.  

Setiap orang yang pernah berkunjung ke Belanda sudah bisa dipastikan akan mencari kincir angin. Sebagian besar kincir angin yang tersebar di seluruh wilayah Belanda sekarang hanya berdiri sendiri (satu bangunan) di suatu lokasi daerah.

Sedangkan yang merupakan kumpulan kincir angin, ada di dua tempat dan sudah menjadi obyek wisata yang terpopuler di Belanda.

Tempat ini adalah kawasan wisata yang dilestarikan atau dilindungi yaitu Zaanse Schans di Provinsi Belanda Utara (Province North Holland) dan Kinderdijk di Provinsi Belanda Selatan (Province South Holland).

Kumpulan kincir angin di kawasan wisata Zaanse Schans tampaknya belum banyak dikenal warga Indonesia yang berkunjung ke Belanda. Padahal lokasinya hanya 30 menit perjalanan dengan mobil, bus atau kereta api dari Bandara Schiphol Amsterdam atau 15 menit dari Centrum Amsterdam.

Jarang orang Indonesia yang membicarakan keindahan obyek wisata di Zaanse Schans terutama pemandangan kincir angin yang terletak berjajar di pinggiran sungai yang besar dan di tengah hamparan daerah pertanian yang hijau serta rumah-rumah tradisional Belanda.

Berkunjung ke kawasan wisata Zaanse Schans seyogyanya tidak dilewatkan saat mengunjungi Belanda karena lokasinya tidak jauh dari Amsterdam, terutama saat udara tidak dingin khususnya pada musim panas.

Mengunjungi kawasan wisata Zaanse Schans yang  dilestarikan ini selain menambah pengetahuan tentang fungsi kincir angin juga akan mengenal sekaligus menikmati keindahan daerah yang mempresentasikan cara hidup orang Belanda abad 17-18 atau dikenal juga sebagai Open Air Museum.

Wisatawan bisa menikmatinya dengan berjalan kaki di sepanjang tepi Sungai Zaan, mengunjungi berbagai obyek wisata di kawasan tersebut. Bisa juga dengan menaiki kapal wisata menyusuri sungai (rondvaart) merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga yang hanya ada di negeri kincir angin ini.

Kawasan wisata Zaanse Schans terletak di wilayah pemerintahan Zaanstad  yang ibukotanya di Zaandam dan terkenal  juga sebagai kota industri pertama di Eropa. Kawasan wisata Zaanse Schan berada di kota Zaandijk yang berdekatan dengan Zaandam.

Setiba di Zaandijk setelah menggunakan transporatasi kereta api yang berhenti di stasiun Koog aan de Zaan akan terlihat Sungai Zaan yang besar dan banyaknya kincir angin dengan aneka bentuk dan ukuran besar atau kecil.  

Kemudian kita akan menghirup bau coklat yang sangat tajam dari suatu pabrik coklat yang juga sudah berumur ratusan tahun. Sebelum tiba di kawasan wisata Zaanse Schans akan melewati pemukiman yang sebagian besar rumahnya masih berasitektur kuno (Oud Zaandijk).

Kemudian menyebrangi jembatan yang sangat modern. Salah satu bagian jalan jembatan akan terangkat ke atas apabila kapal laut yang berukuran besar akan melewati bawah jembatan. Memasuki kawasan wisata Zaanse Schans tidak dipungut biaya.

Wisatawan langsung akan terlihat bangunan rumah kayu tradisional Belanda yang sudah berumur ratusan tahun (Zaanse Huisjes) dengan arsitektur unik khas Belanda yang sebagian besar dinding rumah kayunya berwarna hijau dan merupakan ciri khas rumah warga di wilayah Zaandstad.

Di pinggiran Sungai Zaan di kawasan wisata yang dilestarikan ini terdapat kumpulan kincir angin yang bentuknya beraneka ragam dan setiap kincir angin itu mempunyai fungsinya masing-masing.

Di sini bisa dilihat cara kerja kincir angin baik untuk keperluan mengeringkan lahan maupun keperluan industri dan pertanian. Di sepanjang Sungai Zaan dahulunya ada ribuan kincir angin.

Sekarang di kawasan Zaanse Schans tinggal 6 kincir angin yaitu De Huisman (pembuatan makanan saus mustard), De Kat (pembuatan cat), De Gekroonde Poelenburg & Jonge Schaap (penggergajian kayu), De Zoeker & De Bonte Hen (pembuatan minyak).  

Ditambah 2 kincir angin yang kecil adalah De Windhond (pengasah batu) dan De Hadel (menguras air). Kincir-kincir angin ini pada musim dingin hanya dibuka untuk umum pada akhir pekan saja atau sesuai perjanjian kecuali Jonge Schaap yang buka setiap hari.  

Untuk masuk ke dalam kincir angin dan melihat aktivitas dalam kincir angin akan dikenakan biaya. Sesungguhnya masih ada lagi kincir angin di luar wilayah kawasan wisata yang dilestarikan yang jumlahnya puluhan di wilayah Zaanstad ini.

Di kawasan wisata ini terdapat beberapa museum yang mempresentasikan kehidupan masa lalu orang Belanda abad 17-18 khususnya di wilayah Belanda Utara. Museum Zaans menyimpan koleksi artefak dan lukisan mengenai kehidupan orang Belanda ratusan tahun yang lalu.

Meseum yang lebih kecil di wilayah ini terkait dengan perusahaan-perusahaan ternama yang awalnya berdiri di Zaandam, seperti Verkade Paviljoen (produsen makanan coklat dan kue).

Ada pula museum dari supermarket tertua dan terbesar di Belanda saat ini yaitu Alberthijn yang berdiri pada tahun 1887. Lalu ada Het Nederlandse Uurwerk (museum jam), Bakkerij museum in de Gecroonde Duyvekater (museum pembuatan roti dan kue).

Museum Kincir Angin juga bisa dilihat tetapi terletak di Koog aan de Zaan saat berjalan memasuki Zaandijk.

Yang menarik di kawasan wisata Zaanse Schans bisa dilihat produk traditional Belanda lainnya yaitu pabrik pembuatan keju sekaligus toko penjualan keju (De Catherine Hoeve) dan pabrik  pembuatan sepatu kayu bakiak atau klompen (the Wooden Shoe Workshop the Zaanse Schans) yang tidak dipungut biaya masuk.  

Klompen yang dibuat bentuknya unik dan lucu. Ada yang diukir, klompen sepatu roda, dan klompen ketawa. Ada juga pabrik kerajinan tembaga (The Coopery) dan perak yang sudah ada sejak ratusan tahun pula (The Tinkoepel).

Salah satu obyek wisata yang baru di Zaanse Schans adalah Museum Penyulingan Minuman yang memperlihatkan proses penyulingan 150 tahun yang lalu, tentunya pengunjung dapat mencicipi pula.

Untuk kenyamanan wisatawan tersedia pula toko-toko cinderamata (Vrede Souvenirs & Gift, Souvenirs & Diamonds ‘Saense Lelie’), toko barang-barang antik dan unik (Het Jagershuis).

Melengkapi kenyamanan berwisata di kawasan ini tersedia beberapa restoran dengan interior dan makanan khas Belanda. Di antaranya yang menyediakan kue traditional Belanda pannekoek (pancake) berukuran diameter 29 cm yang bisa dinikmati di Restoran De Kraai.

Wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini dari berbagai penjuru dunia. Mereka mengakui kincir angin merupakan bangunan tradisional yang bentuknya sangat unik sehingga terlihat memesona.

Mereka juga menjadi lebih kagum karena ternyata kincir angin itu mempunyai fungsi yang sangat berarti bagi kehidupan orang Belanda dahulu dan sekarang.  

Saat ini kincir angin sudah menjadi obyek wisata yang sangat menarik jika kita ingin lebih mengenalnya bersama dengan warisan budaya lainnya yang ada di Zaanse Schans. (Janine Helga Warokka)


Editor : kadek