Kamis, 28 Agustus 2014

/ Travel

Roti Srikaya Pengoyak "Iman"

Rabu, 7 Desember 2011 | 17:07 WIB

Oleh: Sarie Febriane

Ketika menggigitnya, lapisan selai srikaya yang tebal sedikit melesak dari celah tepian roti panggang ini. Dalam sekali kunyahan saja, dia mampu mengoyak ”iman” para pelaku diet yang disiplin. Apalagi ditemani segelas kopi hitam Sidikalang. Aduh, sedapnya....

Lagi pula, siapa yang kuat bertahan diet kala setangkup roti panggang srikaya yang harum menggeliat manja di depan mata?

Penganan ini sebenarnya sederhana saja. Bahan utama selai srikaya umumnya terbuat dari kuning telur dan gula. Variannya ada yang menggunakan santan, pandan, atau telur bebek. Selai srikaya yang kental lalu didekap oleh setangkup roti tawar ”kampung” beririsan tebal yang bentuknya serupa lubang kunci kuno. Setelah dibakar atau dipanggang beberapa menit, keharumannya kian semerbak menyusupi saraf penciuman.

Di Jakarta dan sekitarnya, ada dua kedai yang menyajikan roti srikaya yang baik, yakni serius dalam menghadirkan kenikmatan yang bersahaja. Keduanya adalah kedai kopi Sabang 16 di kawasan Sabang, Jakarta Pusat, dan kedai kopi Han Tiam di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Keduanya menghadirkan penganan sederhana, yakni roti dengan selai (jam) srikaya ala melayu dengan karakter jejak rasa yang khas.

Sumi Yang, pembuat selai srikaya dari Sabang 16, bercerita, selai srikaya yang digunakan memang mengacu pada srikaya ala Melayu di tanah Sumatera, warisan resep keluarganya. ”Resep srikaya ini adalah resep ibu saya. Dia dulu berjualan berbagai jenis makanan waktu masih tinggal di Bagansiapiapi (Riau), termasuk kue pasar yang sebagian menggunakan selai srikaya,” kenang Sumi.

Srikaya ala Sabang 16 tidak bersantan. Hanya telur ayam, gula, mentega, vanili, dan air. ”Ada juga sedikit bahan pembentuk rasa yang kami racik sendiri, sebut saja rahasia dapur, yang terbuat dari bahan-bahan organik,” ungkap Sumi.

Meski tampaknya sederhana, proses pembuatannya membutuhkan kesabaran. Menurut Sumi, pemasakannya butuh waktu hingga delapan jam di atas kompor. Setelah itu didinginkan di suhu ruangan, baru kemudian dimasukkan ke dalam kulkas. Proses pendinginan di suhu ruangan penting untuk menjaga konsistensi selai supaya tetap lembut.

Meski sama-sama berkiblat ke tanah Sumatera, roti bakar srikaya di kedua kedai tadi masing-masing punya karakter tersendiri. Di Sabang 16, olesan selai srikaya cukup tebal, berwarna kuning keemasan transparan dengan konsistensi yang baik, yakni tak terlalu pekat tetapi cukup kental.

Harap dicatat, selai srikaya untuk roti ini sama sekali tidak berhubungan dengan buah srikaya. Srikaya selai identik dengan warna kuning yang merefleksikan kekayaan.

Sementara rotinya yang berbentuk lubang kunci kuno itu masih berkulit di tepian dan berpotongan tebal. Roti ini diolesi margarin di bagian luar lalu dipanggang cukup kering di bagian luar dan lengas (moist) di bagian dalam. Roti cenderung terasa kenyal ketika bergumul di mulut bersama srikaya. Kandungan susu dalam roti sendiri cukup terasa. Mengingat teksturnya yang kenyal itu, menikmati roti panggang srikaya di Sabang 16 sebenarnya lebih pas dengan menggigitnya langsung dari genggaman tangan ketimbang dengan pisau dan garpu.

Garang

Roti bakar srikaya di kedai Han Tiam yang merujuk ke Pematang Siantar tampil lebih garang. Roti tawarnya, yang juga berbentuk lubang kunci, mengandung sedikit susu sehingga ketika dibakar bagian luar hingga ke dalam mengering dan kokoh. Di dalamnya terdapat pulasan selai srikaya yang meski tidak terlalu tebal, tetap menyeruakkan rasa yang kuat. Menurut Ronald Siahaan, salah satu pemilik Han Tiam, selai srikaya ini didatangkan dari Pematang Siantar, produksi rumahan kedai kopi kecil bernama Kedai Kopi Sedap di Jalan Sutomo. Selai srikaya ala Pematang Siantar ini berwarna kecokelatan pekat dengan harum pandan.

Dengan strukturnya yang kokoh, menikmati roti bakar srikaya Han Tiam cukup pas dengan pisau dan garpu. Namun, pelayan biasanya sudah mengiris-iris roti bakar itu dalam enam potongan berukuran sedang. Kita tinggal menusukkan garpu dan melahapnya, hap!

Alternatif lain di Han Tiam adalah roti kukus srikaya yang terasa lebih lembut di langit-langit mulut ketika kita mengunyahnya. Menghabiskan dua tangkup roti srikaya, versi bakar dan kukus, rasanya bukanlah dosa. Terlebih ditemani segelas kopi susu dari Pematang Siantar. Jika menikmatinya malam-malam, niscaya akan menjadi penganan penutup hari yang sempurna...


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: