Minggu, 20 April 2014

/ Travel

Mengejar Matahari Terbit di Candi Borobudur

Selasa, 20 Desember 2011 | 11:17 WIB

Baca juga

KOMPAS.com - Mata-mata sayu, sesekali menguap. Seakan tubuh dipaksa terbangun di pagi buta. Mereka harus menahan kantuk sementara matahari masih tertidur lelap. Rombongan tur ini tidak sendiri, bersama mereka ada rombongan lain yang berasal dari Jepang dan Malaysia.

Walau tampak masih mengantuk, mereka tetap bersemangat. Rombongan ini hendak mengejar matahari di balik Candi Borobudur. Laksana para pertapa Buddha di zaman dahulu, seakan tengah bermeditasi dan merapal doa diiringi semburat matahari terbit.

Masing-masing orang dibekali senter kecil. Memang, rombongan mulai jalan menuju Candi Borobudur di pekatnya langit malam menuju subuh. Minimal jam 4, peserta tur paket Sunrise Candi Borobudur harus sudah siap di pos penjualan tiket yang terletak di areal Hotel Manohara.

Disertai pemandu wisata, rombongan bergerak menuju Candi Borobudur. Sebelum mulai menaiki tangga Candi Borobudur untuk mencapai lantai teratas, pengunjung harus melewati pos keamanan untuk dicek barang bawaan sekaligus menunjukkan tiket masuk khusus paket Sunrise Candi Borobudur.

Walau dalam rombongan, keheningan tetap tercipta. Mungkin karena masih mengantuk atau tersihir pesona Candi Borobudur di kepekatan malam. Efek lampu sorot yang menyinari Candi Borobudur, bagai sebuah oase di tengah kegelapan. Begitu magis dan memukau mata.

Sesekali terdengar suara tawa dan orang-orang mengobrol dengan berisik. Namun, dengan sigap dan ramah, para pemandu akan mengingatkan.

“Mohon tidak berisik. Kalau bicara bisik-bisik saja. Mohon maaf, karena kita ingin menjaga supaya tetap hening. Turis-turis asing datang untuk di pagi hari ini bukan hanya untuk melihat matahari terbit, tapi juga mencari kedamaian seperti meditasi,” kata seorang pemandu.

Cahaya-cahaya kecil dari senter mulai meramaikan jalan maupun saat naik menuju lantai teratas Candi Borobudur. Pengunjung langsung mengambil posisi masing-masing. Menanti-nantikan munculnya sinar matahari pertama yang menyapu Candi Borobudur.

Sayang, saat Kompas.com berkunjung beberapa waktu lalu, cuaca tidak mendukung. Bulan Desember bukanlah waktu yang baik untuk melihat matahari terbit di Candi Borobudur.

Beberapa pemandu menjelaskan waktu terbaik adalah di bulan Juli. Saat cuaca cerah, tidak hanya matahari yang tampak menyembul di balik candi dan patung Buddha, tetapi juga akan tampak siluet Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Saat langit mulai cerah, beberapa turis Jepang tampak mencangkupkan tangan, menutup mata, dan berdoa. Beberapa mengucapkan puja menghadap matahari, namun beberapa menghadap ke arah stupa yang melambangkan Adi Budha. Stupa induk ini begitu khas, karena sangat besar dan berada di puncak Candi Borobudur.

Untuk bisa menikmati matahari terbit di Candi Borobudur, pengunjung harus membeli tiket dengan harga yang jauh lebih mahal daripada tiket biasa. Untuk wisatawan lokal dikenakan biaya Rp 220000 dan wisatawan asing Rp 320000. Harga tiket ini sudah termasuk sarapan pagi setelah Anda puas menikmati Candi Borobudur.

Sebuah pengalaman yang mengesankan. Mata yang mengantuk perlahan-lahan terbangun saat menikmati langit malu-malu menjadi cerah. Sebuah keheningan yang damai dan menyejukkan hati. Sekadar duduk dan menunggu matahari dalam diam saja serasa sedang bermeditasi.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana