Minggu, 26 Oktober 2014

/ Travel

Takabonerate Menyuguhkan "Surga" Atol

Jumat, 23 Desember 2011 | 12:34 WIB

Oleh: Maria Serenade Sinurat

Tidak banyak yang tahu bahwa di Taman Nasional Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, terbentang atol alias pulau karang terluas ke-3 di dunia setelah Kwajalein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Jika Anda telanjur mengunjungi pusat pembuatan perahu pinisi di Bulukumba, sempatkanlah menyeberang dan melanglang ke perairan ini.

Ombak yang menampar-nampar kapal kayu berpenumpang 20 orang itu perlahan menjinak. Mata para pelancong terpaku pada lautan yang berpendar dari kejauhan. Gradasi air berwarna biru dan hijau mengepung koral yang menyembul. ”Wow, is that atoll?” tanya Piotr Kordas (30), turis asal Polandia dengan nada kagum.

Atol adalah salah satu jenis pulau karang yang terbentuk dari kerangka makhluk-makhluk laut yang renik.

Dengan luas mencapai 220.000 hektar, atol di Laut Flores ini bak untaian lapislazuli dan zamrud yang ”disemat” di hamparan lautan. Bahkan, foto-foto yang tersebar di berbagai laman internet pun tidak mampu menyaingi sensasi ketika menyaksikan atol ini secara langsung.

Sebagai gambaran awal, tengoklah peta. Dari Makassar melajulah 240 kilometer ke arah tenggara atau lima jam perjalanan darat hingga Kabupaten Bulukumba. Dari sana, Anda bisa menyeberang melalui Pelabuhan Bira menuju Pelabuhan Pamatata, Kepulauan Selayar, yang berjarak 80 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan dengan kapal cepat.

Setiba di Pamatata, lanjutkan perjalanan darat sejauh 60 kilometer atau sejam menuju Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar. Lalu, dari Dermaga Pattumbukang di Benteng, pengunjung kembali menyeberang ke kawasan Takabonerate. Dua pulau yang bisa jadi pilihan ialah Jinato dan Tinabo Besar yang sama-sama harus ditempuh melalui delapan jam pelayaran dengan kapal kayu.

Guna menghemat waktu, tersedia pesawat Sabang Merauke Air Charter yang melayani rute Makassar-Selayar. Dengan pesawat berpenumpang 22 orang ini, Anda bisa tiba di Bandara Aroepalla, Selayar, dalam waktu 40 menit.

Pelayaran ke Takabonerate sebetulnya sebanding dengan pengalaman di kapal. Saat Kompas bertandang dalam rangka Festival Takabonerate, 19-22 November lalu, cuaca cerah dan lautan relatif tenang. Namun, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo harus berhadapan dengan cuaca buruk dan ombak besar sehingga akhirnya memilih menaiki helikopter menuju ke Pulau Jinato.

Cuaca dan ombak yang tidak bisa diprediksi adalah salah satu tantangan untuk menuju ke lokasi ini. Anda yang memilih jalur laut sebaiknya menyiapkan nyali atau setidaknya obat antimabuk.

Surga atol

Sesuai dengan namanya, Takabonerate memiliki arti pulau karang di atas pasir. Jenis karang yang ada di kawasan ini ialah terumbu karang penghalang (barrier reef), terumbu karang tepi (fringing reef), dan terumbu karang cincin (atoll).

Ketiga jenis karang tersebut disusun oleh keanekaragaman hayati, mulai dari karang hidup, karang mati, alga, padang lamun, hingga gundukan pasir atau bungin (sand dunes). Karang inilah rumah bagi sedikitnya 362 spesies ikan karang, seperti dari famili Chaetodontidae, Labridae, Scaridae, dan 261 jenis karang.

Datang ke Takabonerate berarti menyiapkan diri untuk wisata bahari yang menantang. Selain atol, di taman nasional terdapat 21 gugusan pulau yang tujuh di antaranya berpenghuni. Untuk menjelajahinya, satu-satunya pilihan tentu kapal kayu bermesin.

Salah satu tujuan di Takabonerate tentulah Pulau Tinabo Besar, suguhan wisata utama di kawasan ini. Dari kejauhan, dermaga kayu, deretan pulau kelapa, dan pasir putih selembut terigu seakan melambai-lambai untuk segera dihampiri.

Air jernih dan karang lunak bisa kita nikmati dengan mata telanjang. Tak heran Piotr Kordas pun tergoda langsung menjajal snorkeling di tempat ini.

Dibandingkan dengan pulau lainnya, baru Pulau Tinabo besar yang sudah dilengkapi penginapan dan pos pemantauan yang dikelola Balai Taman Nasional Takabonerate. Bertolak dari sini, pengunjung bisa menuju ke-22 titik penyelaman untuk mengeksplorasi panorama bawah laut, termasuk melihat ikan hiu (Sphyrna spp) hingga kerapu dari jarak dekat.

Berbagai kegiatan juga disiapkan untuk mengisi waktu, seperti menanam pohon ketapang dan transplantasi karang. Keindahan pulau ini bahkan bisa dinikmati dengan berjalan menyusuri pantai seluas lima hektar ini.

Tinabo Besar adalah pilihan jika ingin menenggelamkan diri dalam kedamaian pulau. Pengunjung bisa mengambil paket wisata yang ditawarkan Balai TN Takabonerate dengan tarif Rp 800.000-Rp 1 juta per hari. Ini sudah termasuk biaya transportasi dari Benteng ke Tinabo, akomodasi, konsumsi, dan pengantaran ke titik penyelaman. Beberapa agen wisata yang dikelola pengusaha asing pun menawarkan paket serupa, tetapi tentu dalam kurs dollar AS.

Jika menginginkan liburan yang berkesan, tinggallah di rumah penduduk untuk menyelami keseharian suku Bugis dan Bajoe yang menetap di pulau. Beberapa pulau yang umumnya dikunjungi turis ialah Pulau Jinato dan Pulau Rajuni.

Pulau Jinato dihuni 1.327 penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Tempat ini pula yang menjadi tuan rumah Festival Takabonerate. Penduduk menerima tamu yang datang untuk menginap di rumah mereka. Pada waktu senggang, Anda bisa bercengkerama dengan penduduk yang dengan senang hati akan menyuguhkan kopi atau teh.

Perjuangan

Melancong ke Takabonerate memang membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Keterbatasan sarana dan prasarana, seperti air tawar, resor, dan sinyal telekomunikasi di pulau, adalah tantangan untuk mengembangkan pariwisata. Kapal laut sebagai satu-satunya andalan untuk menuju Takabonerate harus disewa dengan biaya mencapai Rp 2 juta karena belum ada pelayaran reguler.

Lama dan mahalnya perjalanan membuat turis kadang lebih memilih berwisata di Selayar yang tak kalah menggoda. Kawasan pantai timur Selayar, misalnya, dikenal sebagai titik penyelaman para pencandu selam.

Jowvy Kumala (41), karyawan perusahaan telekomunikasi di Makassar, menyempatkan diri menyelam di kawasan pantai timur sebelum ke Takabonerate. ”Biotanya menarik karena banyak ikan besar. Serasa di kampung ikan bisa melihat hiu sirip putih dan ikan bumphead dari dekat,” ujar perempuan yang pernah menyelam di Taman Nasional Bunaken dan Raja Ampat tersebut.

Wisata di Selayar bisa menjadi pelipur lara bagi yang gagal bertolak ke Takabonerate. Inilah setidaknya misi yang tengah diemban pemerintah setempat. ”Untuk membangun wisata bahari, kami mulai dari Selayar dulu karena untuk ke Takabonerate memang sulit,” ujar Bupati Selayar Syahrir Wahab.

Di Selayar, jangan lupa membeli emping, salah satu oleh-oleh-oleh khas. Lalu, ketika kembali ke Bulukumba, sempatkan singgah di Semenanjung Bira yang dikenal sebagai pusat pembuatan perahu pinisi. Di kawasan ini juga tersedia miniatur pinisi untuk buah tangan.

Dengan emping, miniatur pinisi, dan pelayaran yang menantang, tentulah Anda sulit melupakan sensasi Selayar dan sekitarnya.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: