Kamis, 17 April 2014

/ Travel

Tanjung Puting, Sungai Sekonyer, dan Orangutan

Rabu, 28 Desember 2011 | 15:41 WIB

Baca juga

KETENANGAN aliran Sungai Sekonyer seakan menyihir perjalanan selama hampir empat jam menuju habitat terbesar orangutan borneo yang jumlahnya mencapai lebih dari 6.000 ekor di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Di kanan-kiri sungai yang berkelok-kelok ini tampak bekantan dan monyet ekor panjang berlompatan di atas pohon, sementara burung enggang terbang dengan pongahnya di atas perahu.

Air sungai yang awalnya coklat susu akibat kerusakan di hulu tiba-tiba berubah menjadi bening kehitaman ketika mendekati area Camp Leakey, lokasi di mana 40 tahun lalu Prof Birute Mary Galdikas (berasal dari Kanada, yang sejak 1994 menjadi warga negara Indonesia) memelopori penelitian orangutan (Pongo pygmaeus) di Tanjung Puting. Laju perahu kelotok yang lamban seakan tak menggoyahkan ketenangan sungai dan menciptakan cermin bagi pepohonan hutan hujan tropis dan dedaunan nipah sepanjang sungai.

Setiba di dermaga Camp Leakey, penghuni setempat, Siswi, orangutan yang biasa bermain-main di dermaga, menyambut. Layaknya permaisuri yang baik, karena Siswi merupakan istri Tom, orangutan pejantan dominan/raja, memberi hiburan lewat perilakunya yang lucu meski tak boleh meluruhkan kewaspadaan bahwa ia merupakan fauna liar.

Menyusuri jembatan panjang dari kayu, pengunjung biasanya dibawa masuk ke dalam lokasi Camp Leakey. Di sana masih ada bekas rumah Prof Galdikas yang sudah kosong serta rumah lain yang dihuni petugas TN Tanjung Puting, pusat informasi, juga rumah yang disediakan bagi para turis. Di pusat informasi ini tersedia data yang sangat lengkap mengenai isi rimba Tanjung Puting.

Selama berjalan di kawasan itu, pengunjung akan dibawa sangat dekat dengan berbagai penghuni liar yang tampak jinak. Babi berjanggut (Sus barbatus) dan belasan orangutan asyik bermain-main di pohon dan di atas tanah. Tontonan liar bagaimana orangutan bercanda dan melindungi anaknya dari gangguan orangutan lain menjadi hiburan yang mengendurkan saraf.

Puncak dari kunjungan adalah atraksi pemberian pakan yang dimulai pukul 14.00 dengan sedikit menyusuri jalan setapak sepanjang 300 meter. Di sana, pengunjung akan menyaksikan bagaimana orangutan borneo menikmati rambutan atau pisang kegemarannya. Di sana telah disediakan panggung yang penuh berisi makanan dan pada jarak sekitar 20 meter terdapat bangku panjang bagi pengunjung untuk bersantai.

Jika Anda berangkat pagi dari Kumai, lebih baik mampir dulu ke Camp Pondok Tanggui. Pukul 09.00, ada atraksi pemberian pakan kepada orangutan. Pulangnya, jika ingin mencari oleh-oleh, bisa mampir ke Desa Sei Sekonyer untuk mencari kaus atau patung orangutan serta berbagai suvenir khas Kalimantan.

Yang perlu diperhatikan saat berkunjung ke sana, jangan membawa barang mencolok dan bergelantung karena akan sangat menarik perhatian orangutan. Botol mineral sebaiknya disimpan di dalam tas. Disarankan agar tidak memberi makanan/ minuman atau benda apa pun kepada orangutan karena bisa mengubah perilaku mereka.

Satu lagi, jangan pernah bermain atau menceburkan diri ke dalam sungai. Sangat berbahaya. Sungai Sekonyer dihuni oleh buaya muara yang berbadan besar (Crocodylus porosus) dan buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) yang hampir punah.

Selain itu, pastikan membawa kamera dengan kondisi baterai penuh dan kartu memori lega sehingga bisa memaksimalkan setiap momen yang pasti tidak Anda dapatkan di tempat lain. Disarankan pula mengenakan baju lengan panjang untuk menghindari gigitan serangga.

Jika Anda ingin berkunjung ke Tanjung Puting yang memiliki kawasan lebih dari 400.000 hektar, lebih baik rencanakan sebaik mungkin. Kalau ingin mudah, bisa menggunakan jasa penyelenggara tur.

Beberapa bulan belakangan ini, transportasi telah tersedia dengan mudah. Dari Jakarta, setiap hari ada dua penerbangan dari Kalstar dan Trigana Air yang langsung menuju Pangkalan Bun atau transit sebentar di Sampit, Kalteng. Penerbangan yang dijadwalkan pagi itu hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Tiba di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, pengunjung bisa langsung menuju Pelabuhan Kumai untuk menyeberang ke Tanjung Puting. Jika Anda memiliki waktu panjang, minimal dua hari satu malam, lebih baik memilih perahu kelotok berkapasitas 10 orang dengan tarif Rp 400.000-Rp 1 juta per hari. Untuk kunjungan singkat, bisa menggunakan perahu cepat (speedboat) berkapasitas tiga penumpang. Tarifnya sekitar Rp 500.000 sekali jalan. Perjalanan hanya sekitar satu jam. (ICHWAN SUSANTO)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: