Kamis, 18 Desember 2014

/ Travel

Menanti Ombak Menjulang di Water Blow

Senin, 2 Januari 2012 | 15:04 WIB

KOMPAS.com – Agak susah juga ternyata mencari pantai satu ini. Walaupun sudah mulai banyak orang yang mengenalnya, namun beberapa penduduk setempat maupun petugas yang bekerja di kawasan BTDC (Bali Tourism Development Corporation), Nusa Dua, Bali, masih tampak bingung saat ditanyakan lokasi Pantai Water Blow.

Untuk mencapai Pantai Water Blow, lewati Bali Collection dan letaknya dekat Hotel Grand Gyatt. Kemudian Anda akan menemukan lapangan rumput yang luas, lalu ikuti jalan setapak menuju sebuah gerbang bertuliskan “Water Blow”.

Awalnya kawasan ini hanyalah tebing karang biasa dan terkesan berbahaya. Kemudian oleh pihak BTDC dirapikan dan dikelola dengan membuat jalan setapak konblok serta pagar pembatas. Tak hanya itu, sebuah bangunan beratap dan terbuka dibangun di salah satu ujung tebing karang.

Lalu apa menariknya Water Blow ini? Di tebing karang yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, terdapat celah besar yang menyempit. Saat ombak bergulung dan menerpa tebing, ombak in seakan terjepit dalam celah dan menghempas ke atas.

Dari kejauhan seperti buih besar berwarna putih tengah menari ke atas. Semakin besar dan kencang ombak yang datang, semakin tinggi ombak menjulang melewati tebing. Jika tak hati-hati, Anda pun akan basah terkena terjangan ombak.

Jangan harap Anda bisa berenang di sini. Walau disebut pantai, Water Blow lebih cocok disebut tebing karang yang menghujam ke lautan. Anda tak akan menemukan pasir pantai dan laut berada jauh di bawah Anda.

Namun, ombak menjulang menjadi daya tarik utamanya. Sebab, si ombak tak selamanya muncul tinggi ke atas. Kadang ia menerpa tebing dengan perlahan seakan malas. Lalu menjilat sisi tebing dengan pendek.

Di saat lengah, tiba-tiba ombak besar datang dan laksana terbang ke atas. Sesaat kemudian terhempas ke bawah mengirim percikan-percikan air membahasi pengunjung. Sensasi menunggu ombak tinggi inilah yang membuat pengunjung rela menunggu sambil menikmati panorama laut lepas.


Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana