KOMPAS/FRANSISCA ROMANA NINIK
Deretan gedung tua di Gamla Stan, Stockholm, Swedia, dimanfaatkan untuk hotel, kantor, dan tempat usaha lainnya. Gamla Stan menjadi salah satu tujuan utama wisatawan di Stockholm.
Oleh: Fransisca Romana Ninik
Gedung-gedung tua berusia ratusan tahun itu masih kokoh berdiri di Gamla Stan, kawasan kota tua Stockholm, ibu kota Swedia. Tak hanya megah dan indah, gedung itu juga difungsikan sebagai museum, hotel, kantor, toko, kafe, dan restoran.
Gamla Stan menjadi salah satu magnet terbesar bagi wisatawan yang mengunjungi Stockholm. Turis tak pernah sepi berlalu lalang dan menikmati sensasi tempo doeloe yang menyeruak di antara gedung-gedung tua di Gamla Stan. Di sinilah tempat Stockholm lama dan baru jalin-menjalin.
Itulah yang sungguh diinginkan warga DKI Jakarta jika ditanya seperti apa konservasi yang diinginkan bagi kawasan Kota Tua-nya di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Sampai saat ini, kesan yang masih melekat pada kawasan Kota Tua di Jakarta adalah semrawut, kumuh, dan kurang terawat.
Gamla Stan merupakan salah satu kota tua abad pertengahan di Eropa yang dikonservasi paling baik. Jan Janonius dari Departemen Media Kementerian Luar Negeri Swedia menuturkan, sekitar 50 tahun lalu, tak ada orang yang tertarik untuk datang ke Gamla Stan.
”Gedung-gedungnya masih kumuh, tak terawat, dan sedikit menakutkan. Banyak reruntuhan gedung yang hancur akibat perang,” ujar Jan, ketika mengundang sejumlah wartawan dari sejumlah negara pada pertengahan November lalu.
Gamla Stan, yang artinya kota tua, hingga tahun 1980 masih bernama resmi Staden Mellan Broarna atau kota di antara jembatan. Kota ini dibangun sekitar abad XIII dengan pengaruh arsitektur Jerman Utara yang sangat kuat dalam konstruksinya. Gang-gang kecil, jalan-jalan dari batu yang tersusun rapi, dan gedung-gedung tua bertingkat adalah ciri khasnya. Sebagian besar gedung dibangun tahun 1700 dan 1800.
Di jantung Gamla Stan, terbentang pelataran Stortorget, mirip Taman Fatahillah di Kota Tua.
Stortorget, yang dikelilingi rumah-rumah saudagar kuno, adalah tempat terjadinya Pertumpahan Darah Stockholm tahun 1520. Ketika itu para bangsawan Swedia dibantai oleh Raja Denmark Christian II. Peristiwa itu menyulut pemberontakan dan perang saudara hingga terpilihnya Raja Gustav I.
Ikon
Bangunan terkenal di Gamla Stan di antaranya adalah Katedral Stockholm, Museum Nobel, Riddarhuset atau House of Nobility, dan Gereja Riddarholm. Di antara semua bangunan, Kungliga Slottet, Istana Kerajaan Swedia bergaya barok jadi tempat yang paling terkenal. Kungliga Slottet dibangun pada abad XVIII setelah istana sebelumnya, Tre Kronor, musnah terbakar.
Salah satu ikon lain yang kerap dikunjungi turis adalah restoran Den Gyldene Freden yang terletak di Österlånggatan. Restoran itu buka sejak tahun 1722 dan menurut Guinness Book of Records merupakan restoran tertua yang masih buka dengan interior yang tidak berubah.
Daya tarik lain bagi turis adalah Vasterlånggatan, yang terbentang sepanjang Mynttorget hingga Jarntorget. Sepanjang Vasterlånggatan penuh dengan toko suvenir yang menjual beragam jenis produk untuk oleh-oleh.
Dinginnya suhu di akhir musim gugur tidak menghalangi asyiknya menyusuri Vasterlånggatan. Jan menuturkan, saat musim panas, sulit untuk leluasa menyusuri Vasterlånggatan karena banyaknya orang di jalan itu.
Keindahan kota tua Gamla Stan yang kita nikmati saat ini tak lepas dari upaya panjang dan komitmen Pemerintah Swedia untuk memperbaiki, memugar, dan merawat bangunan dan budaya di dalamnya.
Dalam buku Architectural Conservation in Europe and the Americas karya John H Stubbs dan Emily G Makaš (John Wiley & Sons Inc, Hoboken, New Jersey, 2011), upaya pemugaran Gamla Stan dimulai tahun 1930. Sebuah yayasan nirlaba khusus untuk mengorganisasi restorasi dan rekonstruksi bangunan bersejarah di Gamla Stan dibentuk. Dana restorasi kota ini berasal dari pinjaman lunak dari pemerintah kota dan pemerintah pusat Swedia.
Komitmen
Tahun 1942, payung hukum untuk pemugaran di Gamla Stan diperkuat dengan revisi atas Undang-Undang tentang Monumen dan Temuan. Disebutkan dengan tegas dalam undang-undang itu, semua monumen tidak bisa digantikan, dihilangkan, dirusak, atau dipindahkan. Kepemilikan gedung secara individual atau swasta juga tak lepas dari perlindungan hukum itu.
Memasuki tahun 1970-an, warga Swedia semakin berminat dalam pelestarian warisan sejarah di Gamla Stan. Pemerintah Swedia pun kian bersemangat dalam membuat sistem manajemen pengelolaan warisan sejarah yang lebih baik, salah satunya melalui pendirian kantor inspeksi yang diawaki staf konservasi yang dilatih khusus di University of Gothenburg.
”Tradisi panjang serta fokus dan komitmen pemerintah terhadap konservasi warisan sejarah selama dua dekade terakhir membuat sistem perlindungan warisan sejarah Swedia jadi salah satu yang terbaik di Eropa,” tulis Stubbs dan Makaš dalam bukunya.
Saat ditanya tentang biaya perawatan gedung-gedung tua di Gamla Stan, Jan mengatakan, ”Mahal, memang mahal.”
Dia tidak merinci besarannya, tetapi mengingat gedung tua berusia ratusan tahun itu tetap berdiri tegak, megah, sekaligus cantik, tentu tak sedikit dana yang dikeluarkan.
Para pemilik gedung menyewakan gedung-gedung itu kepada para pengusaha yang menyulapnya menjadi kantor, toko, penginapan, kafe, restoran, dan tempat usaha lainnya. Dari situ dana diperoleh, antara lain, untuk perawatan gedung.
Kini lampu-lampu terang warna-warni, dekorasi, dan keindahan bangunan gedung-gedung tua telah menggantikan reruntuhan suram di Gamla Stan.
”Saya selalu mengajak warga Indonesia yang berkunjung ke Stockholm berjalan-jalan di Gamla Stan,” kata Arra’di Nur Rizal, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Swedia.
Gamla Stan pun tak jauh dari jangkauan karena ada stasiun kereta api bawah tanah dengan nama sama. Warga dari sejumlah pelosok Swedia bisa menuju ke stasiun itu untuk kemudian menikmati berkeliling Gamla Stan.
Bagaimana dengan Kota Tua Jakarta? Siapkah jadi Gamla Stan Indonesia?

