Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 03:06 WIB
Sawahlunto, Kota Wisata Baru di Sumbar
Ni Luh Made Pertiwi F | I Made Asdhiana | Kamis, 19 Januari 2012 | 09:34 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Kereta api wisata bertenaga batu bara, Mak Item, dipakai untuk membawa pebalap sepeda menuju ke lokasi start etape 6A Tour de Singkarak 2011 Sawahlunto menuju Istano Basa Pagaruyung, Sumatera Barat, Sabtu (11/6/2011). Panitia sengaja mengajak peserta Tour de Singkarak 2011 menaiki kereta api Mak Item untuk mempromosikan potensi wisata di kota Sawahlunto.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kota Sawahlunto dulu sempat berjaya sebagai kota batu bara di era kolonial Belanda. Saat batu bara sudah tak menghasilkan, kota ini sempat mati. Namun kini, Kota Sawahlunto mulai muncul sebagai ikon wisata kota tua dan menunjukkan adanya kenaikan wisatawan asing maupun domestik yang datang ke Sawahlunto.

Sawahlunto merupakan kota wisata baru. Angka kemiskinannya jauh di bawah rata-rata Indonesia. Ini karena efek dari pariwisata.
-- Amran Nur

“Penjualan karcis obyek wisata ada peningkatan 67 persen. Jadi untuk pendapatan obyek wisata meningkat 67 persen,” kata Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur pada jumpa pers Tour de Singkarak (TdS) 2012 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (18/1/2012).

Amran menuturkan berdasarkan survei dari BPS, Sawahlunto menunjukkan angka kemiskinan kedua terendah di Indonesia. Kota Denpasar, lanjutnya, yang memang kota wisata menduduki peringkat pertama sebagai kota dengan angka kemiskinan terendah.

“Kedua, Sawahlunto yang merupakan kota wisata baru. Jadi angka kemiskinannya jauh di bawah rata-rata Indonesia. Ini karena efek dari pariwisata,” katanya.

Ia mengungkapkan TdS memberi pengaruh pada peningkatan pariwisata di Sawahlunto. Beberapa pengunjung yang datang ke Sawahlunto mengetahui kota tersebut melalui internet dan pemberitaan mengenai TdS.

“Kami memang tidak punya hotel bintang empat, tapi kami punya mess batu bara sekualitas hotel bintang empat,” katanya.

Menurut Amran, pihaknya terus mengembangkan homestay sebagai akomodasi para wisatawan maupun peserta TdS.

“Kita didik dan kirim pengelola homestay sampai ke Malaysia dan ada peningkatan 25 persen tamu menginap di homestay sehingga memberi efek ekonomi langsung pada masyarakat,” katanya.