Jumat, 28 November 2014

/ Travel

Capeknya Pergi ke Manado...

Minggu, 22 Januari 2012 | 17:23 WIB

KOMPAS.com – Bagaimana reaksi para delegasi ASEAN Tourism Forum (ATF) saat ditanya berapa lama waktu yang mereka tempuh untuk sampai di Manado? Para delegasi yang menghadiri ATF di Manado 8-15 Januari 2012 berasal dari 10 negara ASEAN, termasuk para menteri dari kementerian pariwisata masing-masing negara.

Dalam pertemuan-pertemuan resmi ATF juga dihadiri delegasi dari India serta ASEAN Plus Three yaitu China, Jepang, dan Korea. Sebagian besar dari para delegasi tersebut harus menempuh perjalanan selama 10 jam untuk mencapai Manado. Berikut salah satu reaksi dari delegasi Thailand.

“Wah lama dan terasa jauh sekali. Kami menghabiskan waktu lebih dari 10 jam dari Bangkok ke Manado,” ungkap Urairatana Naothaworn dari Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand yang turut ikut bersama Wakil Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Sombat Karuphan.

Sombat menuturkan, ia menggunakan Thai Airways dari Bangkok ke Jakarta. Lalu di Jakarta transit selama 7 jam dan dilanjutkan penerbangan dengan Garuda dari Jakarta menuju Manado selama 3 jam.

“Wakil Menteri kami sampai di Manado jam 11 malam. Kalau misalnya ada penerbangan langsung dari Bangkok ke Manado, paling lama mungkin hanya 5 sampai 6 jam,” katanya.

Senasib dengan delegasi dari Thailand, delegasi dari Laos menempuh waktu yang hampir sama. Seperti diungkapkan Bounleuane Boupha dari Kementerian Informasi, Budaya, dan Pariwisata Laos. Menteri Informasi, Kebudayaan dan Pariwisata, Laos Bosengkham Vongdara memerlukan sekitar 12 jam untuk mencapai Manado.

“Menteri kami berangkat dari Laos ke Bangkok dengan pesawat Thai Airways selama satu jam, sampai di Bangkok jam 11 malam. Jadi perlu menginap semalam di Bangkok. Lalu penerbangan pagi dari Bangkok ke Jakarta 3 jam, transit beberapa jam. Kemudian Jakarta ke Manado dengan Garuda,” jelasnya.

Ia mengungkapkan jika ada penerbangan langsung, maka waktu yang ditempuh dari Vientiane, ibu kota Laos, ke Manado hanya sekitar 5 jam.

Delegasi dari Kamboja pun perlu menghabiskan waktu selama 12 jam untuk mencapai Manado. “Menteri kami dari Kamboja ke Singapura selama 2 jam dengan Singapore Airlines, lalu transit selama 2 jam. Singapura ke Jakarta selama 2 jam, tambahan transit 3 jam. Dari Jakarta ke Manado 3 jam,” jelas Neb Samouth dari Kementerian Pariwisata Kamboja yang berada di satu pesawat dengan Menteri Pariwisata Kamboja Thong Khon.

Sementara itu, delegasi dari Jepang perlu waktu sekitar 12 jam. Seperti Fuchigami Joukei dari ASEAN-Japan Centre, menggunakan rute Jepang-Singapura-Manado. Singapura memang bisa menjadi alternatif hub menuju Manado selain Jakarta. Maskapai Silk Air melayani rute Singapura langsung ke Manado.

“Saya naik Japan Airlines dari Jepang ke Singapura selama 6 jam, transit 3 jam. Singapura ke Manado 3 jam. Dulu sebenarnya ada rencana rute penerbangan langsung Jepang-Jakarta-Manado,” ungkap Joukei.

Tak kalah lamanya juga dialami oleh Zhang Xinhong dari China National Tourism Administration. Ia menempuh perjalanan lebih dari 10 jam.

Bagaimana dengan negara-negara ASEAN terdekat seperti Malaysia dan Filipina? Menurut Norlizah Jahaya dari Malaysia Tourism Board, Menteri Pariwisata Malaysia Dato Sri Dr Ng Yen Yen, menempuh perjalanan hampir 10 jam dari Kuala Lumpur ke Manado.

“Ibu Menteri dari Kuala Lumpur ke Jakarta naik Malaysia Airlines dua jam. Lalu transit sekitar 4 jam. Dari Jakarta ke Manado dengan Garuda tiga jam. Sampai jam 11 malam. Dulu ada direct flight (penerbangan langsung) dengan AirAsia. Malaysia Airlines juga dulu ada. Kalau langsung, hanya perlu 4 jam,” jelasnya.

Paling menarik sebenarnya delegasi dari Filipina. Jika ada penerbangan langsung dari Davao ke Manado, maka hanya dibutuhkan waktu tak sampai 1 jam. Davao merupakan kota terbesar kedua setelah Manila, ibu kota Filipina. Dari Manila ke Davao hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

“Saya sempat bercanda dengan Gubernur (Gubernur Sulawesi Utara SH Sarundajang), dengan berkata ‘Ini kamu sengaja atur ATF di Manado, supaya saya bisa merasakan sendiri susahnya ke sini ya’,” tutur Menteri Pariwisata Filipina Ramon R. Jimenez.

Karena tidak ada penerbangan langsung antara Manila atau Davao ke Manado, ia harus pergi ke Jakarta terlebih dahulu. Ia menempuh perjalanan dari Manila ke Jakarta selama sekitar 4 jam, kemudian transit sekitar 3 jam.

Lalu, dilanjutkan perjalanan Jakarta ke Manado dengan Garuda selama 3 jam. Jika ditotal, Ramon perlu waktu sekitar 10 jam untuk menempuh perjalanan dari Manila ke Manado. Bandingkan jika ada penerbangan langsung antara Davao ke Manado, ia cukup menempuh waktu kurang dari 2,5 jam dari Manila ke Manado via Davao.

Oleh karena itu, dalam ASEAN Tourism Forum 2012, konektivitas menjadi topik penting yang terus dibahas. Para delegasi yang hadir ke ATF datang ke Manado hanya melalui dua hub yaitu Singapura dan Jakarta. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu sempat mengomentari penerbangan yang harus ditempuh Sekjen UNWTO Taleb Rifai untuk menghadiri ATF di Manado.

“Salah satu pembahasan pertemuan (ATF) adalah meningkatkan konektivitas. Sekjen UNWTO menempuh perjalanan dari Madrid ke Manado. Ia hanya perlu terbang dari Madrid, lalu ke Singapura, lanjut ke Manado. Dan nanti kembali pun melalui rute Manado-Singapura lalu Singapura langsung ke Madrid. Ini berarti sudah ada konektivitas antar ASEAN,” jelas Mari.

Akses penerbangan menjadi masalah penting bagi Manado, karena Manado telah dicanangkan sebagai Kota MICE. Beberapa pertemuan bilateral selama ATF pun akhirnya membahas rencana kerja sama meyakinkan maskapai negara-negara masing untuk membuka penerbangan langsung. Salah satunya antara Filipina dan Manado.

“Kami ingin secepatnya membuka penerbangan langsung antara Manado dan Davao. Ini akan signifikan sekali, karena sedikit yang tahu antara Filipina dan Indonesia hanya terpisah 48 menit. Ini jarak tempuh penerbangan antara Davao ke manado,” jelas Menteri Pariwisata Filipina Ramon R. Jimenez.

Ia berharap maskapai dari kedua negara dapat segera membuka penerbangan langsung antara Davao dan Manado.  Ramon mengatakan baik Filipina maupun Indonesia menargetkan adanya penerbangan langsung tersebut akan terjadi di tahun 2012 ini.

“Dari Indonesia, mungkin saja Lion Air. Dari Filipina ada Air Philipine atau Philipine Airlines atau bisa juga Cebu Pasific. Kita coba yakinkan salah satu atau kalau bisa semua maskapai tersebut untuk membuka penerbangan langsung,” sahutnya.

Sedangkan CEO of Pacific Asia Travel Association (PATA) Martin Craigs yang sudah berpengalaman lebih dari 15 tahun di industri penerbangan, menyebutkan Manado memerlukan tiga rute lagi penerbangan langsung yang menghubungkan Manado dengan luar Indonesia.

“Sekarang memang sudah ada Singapura. Tetapi ini tidak cukup jika ingin menjadikan Manado kota wisata apalagi kota MICE. Harus ada tiga rute lagi. Saya sarankan salah satunya adalah Makau,” ungkap Martin.

Ia menjelaskan penerbangan langsung dari Makau ke Manado hanya sekitar 2,5 jam. Sementara wisatawan China merupakan pasar utama bagi ASEAN. Makau sendiri menerima begitu banyak wisatawan asal China daratannya.

“Bayangkan jika wisatawan-wisatawan ini dibawa ke Manado,” ungkapnya. Ia menuturkan Manado berpotensi untuk menjadi destinasi MICE.

“Saya menginap di hotel ini (Novotel), yang punya ruangan convention begitu bagus, tidak kalah dengan Hong Kong. Bahkan lebih bagus, karena di sebelah sudah ada lapangan golf. Sangat cocok untuk tempat MICE. Tapi akan susah jika tidak ada konektivitas menuju Manado. Kami menempuh waktu yang lama menuju Manado, padahal jaraknya tidak jauh,” tutur Martin yang berkantor di Bangkok, Thailand.

Dalam pertemuan kelimabelas antara Menteri Pariwisata ASEAN di ATF 2012 tersebut, salah satu poin yang dibahas adalah peningkatan konektivitas ASEAN. Seperti tercantum dalam pernyataan bersama untuk media yang dikeluarkan panitia, para menteri menegaskan kembali komitmen mereka untuk terus mendukung dan memfasilitasi proses pengembangan Konektivitas ASEAN.

Selain itu, para Menteri menyambut berlakunya persetujuan  ASEAN Multilateral Agreement on the Full Liberalisation of Passenger Air Services  (MAFLPAS). MAFLPAS akan meningkatkan dan memfasilitasi lebih lanjut  layanan konektivitas udara  dan dengan sendirinya mendukung pengembangan pariwisata di kawasan ini.

Para Menteri juga mencatat berlakunya Persetujuan ASEAN-China Air Transport Agreement beserta Protokol 1-nya, yang akan meningkatkan aksesibilitas udara antara negara anggota ASEAN dan China. Sebab China merupakan sumber pasar utama bagi pariwisata ASEAN.

Laos, Kamboja, dan Myanmmar, adalah negara-negara yang belum memiliki akses penerbangan langsung dengan Indonesia. Kamboja dan Indonesia dalam pertemuan antara menteri pariwisata telah sepakat untuk membuka rute tersebut. Selama ini, akses menuju Kamboja dari Indonesia harus melalui Malaysia, Singapura, atau Bangkok.

Memang bukan Manado yang diincar, melainkan Yogyakarta. Saat ini Batavia Air dan Sriwijaya Air tengah melakukan penjajakan untuk membuka rute antara Kamboja dan Yogyakarta.

”Yogyakarta menjadi pilihan karena di sana ada Borobudur, sementara di Kamboja terkenal dengan Angkor Wat yang memiliki kedekatan budaya,” ungkap I Gusti Putu Laksaguna, ketua delegasi Indonesia dalam ASEAN Tourism Forum,


Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana