Selasa, 25 November 2014

/ Travel

Tips Berwisata di Bali Saat Galungan dan Kuningan

Kamis, 2 Februari 2012 | 17:02 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com – Berkunjung dan memotret aktivitas umat di pura-pura yang ada di Pulau Bali memang terkesan eksotis. Foto-foto yang dihasilkan terkesan cerah. Penuh dengan aneka warna sesajen yang dihaturkan umat sampai warna-warni kebaya perempuan dan saput para lelaki yang mereka kenakan saat datang ke pura.

Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan merupakan salah satu perayaan besar bagi umat Hindu di Bali. Sebisa mungkin umat Hindu di Bali tidak melewatkan perayaan tersebut. Sekolah-sekolah libur, pun beberapa kantor meliburkan pegawainya.

Bali memang bukan sekadar menawarkan kecantikan pantai, namun juga keelokan budaya. Jika Anda tertarik untuk berwisata budaya saat perayaan kedua hari raya tersebut, perhatikan hal-hal berikut.

Kapankah Galungan dan Kuningan? Galungan dan Kuningan dirayakan dua kali dalam setahun kalender masehi. Jarak antara Galungan dan Kuningan adalah 10 hari. Perhitungan perayaan kedua hari raya tersebut berdasarkan kalender Bali.

Galungan setiap hari Rabu pada wuku Dungulan. Sementara Kuningan setiap hari Sabtu pada wuku Kuningan. Di tahun 2012, Galungan dirayakan pada 1 Februari 2012 dan 29 Agustus 2012. Kuningan di tahun 2012 dirayakan pada 11 Februari 2012 dan 8 September 2012.

Berkunjung ke Pura. Ada banyak Pura di Bali, tak heran Bali disebut sebagai Pulau Seribu Pura. Anda bisa datangi Pura terdekat dari tempat Anda menginap, atau sengaja mendatangi Pura yang berada di daerah dengan minim turis.

Lebih menarik memang berkunjung ke Pura di daerah yang bukan destinasi favorit turis. Aneka ritual masyarakat setempat maupun pertunjukan kesenian akan memukau Anda.

Namun persiapkan diri Anda dengan padatnya umat yang datang ke Pura. Jalanan macet bisa jadi Anda temukan. Anda juga bisa berkunjung ke beberapa daerah yang memiliki upacara bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.

Misalnya di daerah Mengwi, Denpasar, dengan ritual Makotekan. Atau, mampir ke Desa Timrah di Kabupaten Klungkung untuk menyaksikan Perang Jempana. Bisa juga ke Pura Sakenan di Pulau Serangan, Denpasar.

Jaga sopan santun. Ingatlah bahwa para umat datang ke Pura untuk beribadah. Sehingga Anda perlu menjaga sopan santun saat berkunjung ke Pura. Perhatikan situasi dan tanyakan kepada umat apakah Anda boleh masuk atau tidak. Bersiap-siaplah dengan padatnya umat yang datang.

Jika masuk, jangan lupa tanggalkan alas kaki Anda. Lalu jangan lewat di depan orang yang sedang sembahyang. Sebaiknya, tetaplah berada di deretan baris paling belakang. Untuk perempuan, tidak diperkenankan masuk ke dalam pura saat haid.

Pakaian. Jangan gunakan celana pendek ataupun rok pendek. Kenakan pula kain dan senteng, kain semacam selendang yang dililitkan di pinggang. Sebaiknya menggunakan sandal sehingga memudahkan Anda jika ingin masuk. Seru juga jika Anda mengenakan pakaian tradisional Bali sehingga pengalaman berwisata budaya Anda akan terasa lebih berkesan.

Anda bisa membeli aneka kebaya jadi di Jalan Sulawesi, Denpasar atau di Pasar Badung, Denpasar. Bisa juga membeli bahan dan dibawa ke penjahit. Untuk laki-laki, kenakan udeng dan kain saput, dengan atasan kemeja. Anda bisa membelinya di Jalan Sulawesi ataupun Pasar Badung.

Cari kenalan orang Bali. Lebih mudah jika Anda memiliki kenalan orang Bali. Sehingga Anda bisa diajak ke Pura tempat ia dan keluarga bersembahyang. Jika memang tak punya kenalan orang Bali yang menetap di Bali, cobalah berkenalan dengan orang Bali yang bekerja di hotel. Siapa tahu ia berbaik hati mau mengajak Anda berwisata budaya di kampung halamannya.

Beberapa pegawai hotel pulang kampung untuk merayakan Galungan dan Kuningan. Jika sudah kenal baik, orang Bali tidak segan mengajak Anda bertandang ke rumahnya. Satu hal yang harus terus Anda ingat, jaga sikap Anda dan hargai pengundang Anda.

Dengan adanya kenalan orang Bali, Anda juga lebih mudah memahami tradisi serta ritual saat Galungan dan Kuningan. Sehingga Anda bukan sekadar berfoto-foto saja, namun juga belajar budaya Bali yang masih lestari karena diwariskan secara turun temurun sejak zaman dahulu.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : I Made Asdhiana