Dok Mapala UITim pendaki Mapala UI menjajal medan menantang di wilayah sepanjang Bukit Sedingin, Danau Merah, Danau Mabuk dan Danau Kumbang.Oleh Fransiska Wuri Nugrahani
KOMPAS.com - Sulitnya medan perjalanan dan kondisi cuaca tidak menentu yang sempat menjadi penghambat komunikasi tidak membuat surut langkah para pendaki Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI). Kurang lebih dua pekan menerobos rimba, Minggu (29/1/2012), sekitar pukul tiga sore, para pendaki Mapala UI akhirnya berhasil menjejaki Puncak Gunung Masurai di ketinggian 2980 meter di atas permukaan laut (mdpl) Taman Nasional Kerinci Sebelat.
Kabar tersebut bisa disampaikan setelah seluruh tim tiba di exit point, Desa Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat. Desa inilah salah satu wilayah yang tidak "gagap" sinyal ponsel. Karena sebelumnya, selama pendakian berlangsung, cuaca buruk benar-benar menghambat komunikasi antara tim pendaki dan Sekretariat Mapala UI di Kampus UI, Depok. Akibatnya, satu-satunya komunikasi yang bisa dilakukan adalah dengan penggunaan telepon satelit pinjaman Pasifik Satelit Nusantara (PSN).
Pendakian bertajuk "Perjalanan Panjang Telusur Masurai" ini digelar selama sepuluh hari sejak tim berangkat dari desa Talang Asal, Jambi, pada 19 Januari 2012 lalu. Tim terdiri dari 23 calon anggota dan 14 mentor tersebut menjajal medan cukup menantang di wilayah sepanjang Bukit Sedingin, Danau Merah, Danau Mabuk dan Danau Kumbang.
Pada Sabtu 28 Januari, tim pendaki mendirikan kemah di pinggir Danau Kumbang. Esoknya, tim mulai bergerak menuju camp berikutnya di Pertigaan Danau Kumbang pada pukul 11.00.
Selanjutnya Tim berangkat ke Puncak Gunung Masurai di ketinggian 2980 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sebanyak 18 calon anggota (caang) dan dua mentor, Yudhi Yanto dan Agam Napitupulu menjejak puncak Gunung Masurai yang sempit dikelilingi pohon cantigi (Dodoneae viscose Jacq).
Menariknya, Agam Napitupulu adalah mentor pendaki yang sudah cukup berumur. Walaupun hampir menginjak usia 62 tahun, pria akrab disapa "Bang Agam" ini memiliki semangat dan kekuatan fisik sebanding dengan anak-anak muda dalam tim besar pendakian ini.
Sementara itu, Afdhol Martoni dan Adi Kurniadi adalah dua calon anggota yang pertama kali menjejakkan kaki di puncak gunung ini. Tim besar sengaja dibagi menjadi kelompok kecil, lantaran medan menuju puncak gunung ini sedikit menyulitkan, sempit, dan dicungkupi kabut tebal.
"Kami senang sekali mampu mencapai puncak setelah menempuh perjalanan berat sepuluh hari ini," kata Afdhol, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer 2010.
Afdhol juga terlihat begitu terkesan dengan indahnya hutan lumut yang menyelimuti punggungan menuju Puncak Masurai. Namun, ia sedikit kecewa karena puncak begitu bekabut dan tertutup lebatnya hutan cantigi sehingga panorama alam sekitar tak dapat terlihat jelas.
Potensi Ekowisata
Gunung Masurai adalah gunung setinggi 2980 mdpl dengan panorama khas yang dicirikan dengan keberadaan dua danau di puncaknya. Selama ini, gunung tersebut hanya memiliki satu jalur pendakian resmi saja, yakni rute Sungai Lalang.
Mendaki gunung ini, Mapala UI, selain bermaksud membuka jalur pendakian baru dari Desa Talang Asal via Bukit Sedingin, juga ingin mengungkap potensi ekowisata di sepanjang jalur pendakian tersebut, terutama di daerah Bukit Sedingin. Kedua tujuan tersebut menjadi target utama "Perjalanan Panjang Telusur Masurai" sebagai satu dari serangkaian kegiatan dan proses pendidikan anggota baru Mapala UI tahun ini.
"Kami berharap para calon anggota dapat memahami dan mempraktikkan kemampuan dasar mereka bermain di alam bebas sehingga kelak saat menjadi anggota, mereka dapat bergiat dengan aman. Selain itu, mereka juga dapat mengerti bahwa perencanaan perjalanan yang baik dan kekompakan tim menjadi kunci sukses dalam melakukan kegiatan di alam bebas," ujar Mohammad Ismatullah, mentor kegiatan Badan Khusus Pelantikan (BKP) Mapala UI 2011.
(Penulis adalah mahasiswa calon anggota Mapala UI)
