FOTO-FOTO: KOMPAS/SARIE FEBRIANE
Pemandangan sepanjang rute Highway 101 antara Los Angeles dan San Francisco di California, Amerika Serikat. Rute ini telah dibangun sejak tahun 1926.
Oleh: Sarie Febriane
Deburan ombak Samudra Pasifik, bukit, tebing, dan padang luas yang gersang silih berganti mewarnai perjalanan antara Los Angeles dan San Francisco, Amerika Serikat, awal Januari lalu. Malam datang bertabur gemintang dengan sepotong bulan kuning gading.
Dari pusat kota Los Angeles (LA), kami menuju San Francisco (SF) dengan mobil. Indra Boediono (24), mahasiswa Indonesia yang tengah kuliah di LA, mengusulkan Santa Barbara menjadi tujuan persinggahan dalam perjalanan ini.
Untuk mencapai SF, Indra memilih rute Highway 101, jalur bebas hambatan (tentu juga bebas biaya) yang dibangun sejak 1926. Rute ini menghubungkan kawasan selatan Negara Bagian California, Oregon, hingga Washington di wilayah utara, yang berbatasan dengan Kanada. Rute 101 terentang sekitar 2.500 kilometer di sepanjang Pantai Barat AS.
Di wilayah California sendiri, panjang rute 101 sekitar 1.300 kilometer, mulai dari Los Angeles hingga perbatasan Oregon. Jika bermobil secara nonstop melalui Highway 101, jarak 600 kilometer antara LA dan SF dapat dicapai dalam 6-7 jam saja.
Rute 101 merupakan bagian dari United States Highway System, sebuah sistem yang terintegrasi antara jalan raya dan highway di penjuru AS. Meski sejak 1956 dibangun Interstate Highway System yang lebih modern, berbagai rute dalam US Highway masih kerap digunakan pengendara. Begitu pula dengan rute 101 ini.
Hanya saja, rute 101 ternyata tak semulus yang disangka. Beberapa titik jalan dalam kondisi bergelombang, dengan tambalan-tambalan aspal yang kasar, dan bopeng di sana-sini. Beberapa kali mobil seperti melambung saat melintasi jalan bergelombang. Presiden AS Barack Obama sendiri baru saja mengungkapkan rencananya untuk mengalihkan dana yang selama ini digunakan untuk perang ke pembangunan infrastruktur, seperti perbaikan jalan rusak. Boleh jadi termasuk Highway 101.
Highway dan kendaraan pribadi amat signifikan perannya bagi warga AS untuk bermobilitas. Menurut Indra, di California saja, penggunaan mobil pribadi masih menjadi andalan kendati ada transportasi publik seperti bus dan kereta bawah tanah. Sebagian warga masih merasakan transportasi publik itu belum cukup efisien dan fleksibel untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari. Namun, berbeda dengan pada era 1980-an saat mobil buatan AS masih tampak dominan, kini mobil buatan Asia (Jepang dan Korea Selatan) tampak lebih mencolok di jalan-jalan.
Tak heran, mobil pribadi tampak menguasai jalan sehingga macet pun kerap mewarnai kota sibuk seperti LA. Sementara areal parkir yang banyak dikelola swasta tarifnya tak bisa juga dibilang murah.
Santa Barbara
Setelah menempuh 145 kilometer dari LA, sekitar dua jam kemudian kami tiba di Santa Barbara, kota kecil tempat kelahiran penyanyi pop yang tengah melejit, Katy Perry. Kota berpenduduk sekitar 88.000 orang yang berada di pesisir Samudra Pasifik ini ternyata lebih cantik ketimbang LA.
Kami mampir di State Street, kawasan pelesir dan belanja di Santa Barbara dengan trotoar yang lebar, apik, dan nyaman untuk disusuri. Toko-toko mungil, kafe-kafe dengan kanopi dan tenda, serta pepohonan rimbun menghiasi sepanjang State Street. Di sebuah restoran Jepang mungil di La Arcadia kami leyeh-leyeh sejenak sembari menyantap ramen dan sushi.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dari Santa Barbara sekitar pukul 16.00. Masih melalui Highway 101. Ke arah utara, kami sempat melewati Los Padres National Forest yang luasnya mencapai sekitar 700.000 hektar. Hamparan padang semi-gurun juga terbentang di sana-sini, memberikan pemandangan yang serba lapang dan kosong. Dari radio di mobil terdengar suara Bob Marley melantunkan ”I Shot The Sheriff”.
Tak terasa, matahari mulai melorot di ufuk barat, dengan sulur-sulur cahaya kemerahan membias di cakrawala. Senja merah pun berganti dengan malam indigo. Walau tiada penerangan lampu jalan, langit cerah bertabur bintang dan cahaya lembut dari sepotong bulan cukup menerangi sisa perjalanan kami.
Ketika sunroof pada atap mobil dibuka, bentangan langit malam tampak indah berkilauan dari balik kaca sunroof, menerbitkan perasaan damai yang sederhana. Kalau beruntung, kita bisa lihat milky way (galaksi Bimasakti) dalam perjalanan di one o one (101) ini.
Hanya saja, sang Bimasakti sepertinya tak muncul. Mungkin juga terluput menyaksikannya akibat kantuk berat yang menggelayuti kelopak mata. Kami sudah sampai di San Francisco.
