Minggu, 21 Desember 2014

/ Travel

Agrowisata

Berkunjung ke Rumah Sutera Gunung Salak

Kamis, 23 Februari 2012 | 11:45 WIB

Oleh Antony Lee dan Ratih P Sudarsono

Dari tepi jalan, bangunan itu tak tampak berbeda dari rumah lain di Desa Pasir Eurih, Kabupaten Bogor. Tapi, coba dorong pagar kayu rumah tersebut dan tengok ke dalam. Ada galeri kain sutra, hamparan kebun murbei, ulat-ulat sutra yang menggeliat, dan gadis-gadis pemintal benang. Sang pemilik menamainya Rumah Sutera.

Di galeri Rumah Sutera yang berada di Kampung Ciapus, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, itu ada kain sutra dengan aneka motif batik. Lalu, sutra-sutra polos aneka warna cerah maupun teduh ditawarkan dalam bentuk syal dan baju siap pakai, atau gulungan tirai jendela mewah, serta aneka pernik dari kepompong sutra.

Tinggalkan galeri, dan cari tahu lebih dalam dengan melirik keseluruhan kompleks Rumah Sutera yang luasnya mencapai empat hektar. Dua hektar di antaranya merupakan hamparan kebun murbei, sedangkan sisanya terbagi antara rumah sang pemilik, Tatang Gozali Gandasasmita (75), dua cottage yang bisa disewa, taman, ruang pemintalan, ruang pembuatan benang sutra, serta dua ruang untuk memelihara ulat sutra.

Anda bisa iseng memetik buah murbei yang rasanya asam segar ketika masih berwarna merah dan manis ketika sudah matang kehitaman. Atau, iseng melalap daun murbei begitu saja. Daun murbei diyakini bisa menekan kadar kolesterol jahat dalam darah. Setelah itu, lihat pembiakan ulat sutra kecil, ulat sutra besar yang siap membuat kepompong. Di rumah ini, pengunjung bisa melihat proses bagaimana ulat sutra dipelihara, lalu bagaimana kepompongnya diolah, untuk kemudian dipintal hingga menjadi kain dengan alat pintal bukan mesin.

Selain itu, sekadar jalan-jalan di kompleks Rumah Sutera, juga menarik. Sebab, suami istri menanam berbagai macam pohon dan tumbuhan, yang antara lain bibitnya mereka peroleh dalam perjalanannya ke beberapa daerah dan negara.

Tatang, pensiunan PT Perkebunan Nusantara VIII, tinggal di rumah itu bersama istrinya, Ani Gozali (71). Mereka membuka lebar-lebar pintu Rumah Sutera untuk pengunjung. Mereka yang hanya sekadar ingin melihat galeri sutra dan berbelanja sutra dengan harga miring serta melihat kebun murbei dan ”rumah” ulat bisa sekadar meminta izin dan bebas menikmati lokasi itu. Namun, tak ada petugas khusus yang akan menjelaskan dan memberi ”ilmu” seputar sutra.

”Kalau rombongan, kami sediakan pemandu yang akan mengajak berkeliling, termasuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan,” tutur Tatang, dalam perbincangan di ruang tamu Rumah Sutera, Kamis (16/2/2012). Dia menyuguhi kami teh murbei, yang diolah dari kebunnya.

Pengunjung bisa menghubungi manajemen Rumah Sutera untuk memberi tahu berapa jumlah rombongan yang datang. Tatang mengaku ada dua paket yang ditawarkan bagi rombongan, yakni Rp 50.000 per orang untuk minuman selamat datang, jalan-jalan disertai pemandu, dan diakhiri makan siang bersama. Sementara itu, paket kedua Rp 25.000, hanya dengan minuman pembuka dan pemandu.

Desa wisata

Jika mendatangi Tamansari, yang berjarak tak sampai 10 kilometer dari Kota Bogor, pengunjung bisa menikmati banyak hal, selain Rumah Sutera. Di Desa Tamansari, ada budidaya jamur tiram yang dibina Cucu (40-an). Dia juga perintis Desa Wisata Tamansari. Pengunjung diajak berwisata berbasis masyarakat di kaki Gunung Salak. Saat musim panen, pengunjung malah bisa ikut memetik jamur tiram. Lokasi budidaya itu hanya sekitar 500 meter dari Rumah Sutera.

Selain itu, pengunjung bisa mendatangi Setu Tamansari, danau kecil dengan luas sekitar 2,4 hektar yang berada di antara permukiman penduduk. Setu itu memiliki latar belakang Gunung Salak. Di sekitar setu, ada penduduk yang menawarkan tanaman hias di halaman rumah.

Sekitar tiga kilometer dari Setu Tamansari, ada Pura Jagatkartha. Pura terbesar di Jawa Barat itu memberi suasana tenang, sekaligus pemandangan indah dari ketinggian. Pada malam hari, saat cuaca cerah, kerlip lampu di Kota Bogor dan Jakarta terlihat dari pura ini. Pengunjung bisa memasuki pura ini dalam batas tertentu dan ada larangan untuk masuk ke pura bagi perempuan yang sedang menstruasi dan mereka yang masih dalam suasana duka karena ada keluarga meninggal dunia.

Untuk akomodasi, ada penginapan berkelas hotel berbintang di The Highland Park Resort seharga jutaan rupiah per malam. Selain itu, untuk yang lebih sederhana dan berinteraksi dengan penduduk, berupa homestay dengan biaya Rp 125.000 per orang per malam, sudah termasuk makan.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: