Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 21:13 WIB
Baru 4 Persen Tenaga Pariwisata yang Bersertifikat
Eny Prihtiyani | Robert Adhi Ksp | Senin, 27 Februari 2012 | 17:30 WIB
|
Share:
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Penampilan peserta pawai Jogja Fashion Week 2011 memeriahkan suasana Jalan Malioboro, Yogyakarta, yang baru saja diguyur hujan deras, Rabu (2/11/2011). Event tahunan tersebut menjadi salah satu agenda andalan bagi industri pariwisata Yogyakarta untuk menarik kunjungan wisatawan ke kota tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com — Baru sekitar 4 persen tenaga jasa pariwisata yang bersertifikat. Tahun ini ditargetkan sertifikasi bagi 15.000 tenaga pariwisata. Sekarang baru 36.000 yang bersertifikat.

Ddi era liberalisasi ASEAN hanya mereka yang memegang sertifikat yang bisa memasuki pasar di negara lain.
-- Firmansyah Rahim

”Padahal, sebentar lagi kita memasuki liberalisasi jasa pariwisata di kawasan ASEAN,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Firmansyah Rahim di sela-sela penandatanganan nota kesepahaman gerakan Pramuka mendukung pengembangan pariwisata, di Jakarta, Senin (27/2/2012).

Dia mengatakan, di era liberalisasi ASEAN hanya mereka yang memegang sertifikat yang bisa memasuki pasar di negara lain.

”Tenaga dari luar Indonesia juga bisa masuk ke sini asalkan memenuhi standar sertifikasi. Masih minimnya tenaga yang bersertifikat karena tuntutan dari dunia kerja juga belum tinggi,” katanya.

Firman menambahkan, jumlah lembaga sertifikasi pariwisata (LSP) juga masih minim. Saat ini hanya ada 10 LSP di Indonesia. Untuk mengurus sertifikat, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 300.000-Rp 5 juta bergantung pada jenis jasanya.