Kamis, 18 Desember 2014

/ Travel

DEMAK

'Sniper', Tembak Ikan Kutuk di Sungai Sayung

Minggu, 11 Maret 2012 | 11:34 WIB

DEMAK, KOMPAS.com - Bagi Anda yang bepergian melalui jalur Pantura Demak, di sepanjang Sungai Sayung hingga Buyaran, akan dijumpai para lelaki yang menunggu mangsa dengan senjata laras panjang. Ada yang bersembunyi di atas pohon, di pinggir sungai, atau nongkrong di atas jembatan. Layaknya seorang penembak jitu atau sniper, mereka siap membidik sasaran.Targetnya bukanlah manusia, melainkan hewan air sejenis ikan gabus yang oleh masyarakat Demak dikenal sebagai ikan kutuk.

Dengan bersenjatakan senapan angin yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, mereka siap menjadi pemburu handal. Peluru yang digunakan pun hasil inovasi, yang terbuat dari jeruji sepeda motor, yang diruncingkan pada bagian ujungnya. Lalu, mata peluru itu dikaitkan dengan senar pancing, sehingga dapat melesat seperti anak panah ketika ditembakkan. Jika tembakan mereka meleset dari sasaran, maka "peluru " tersebut tidak akan terbuang sia- sia, sebab dapat digulung dan digunakan lagi dengan cara memompa senapan.

Hari (42), warga Desa Mranak Kecamatan Wonosalam Demak, saat ditemui, Minggu (11/3/2012) mengaku, sudah tiga tahun ini dia berburu ikan kutuk. Menurut bapak dua anak itu, berburu ikan kutuk membutuhkan kesabaran, karena harus menunggu ikan air tawar itu muncul dari permukaan sungai. Paling tidak harus menunggu 10 sampai 30 menit.

Jika beruntung, maka dalam sehari pria penganguran itu bisa mendapatkan ikan kutuk 4 sampai 5 kilogram. Hasil buruan itupun kemudian dijual kepada para pelanggan yang rata-rata pemilik warung makan atau ibu rumah tangga. Satu kilogram harganya Rp 18.000, dan berisi dua ekor untuk ukuran besar, atau 4-5 ekor untuk ukuran sedang. "Awalnya baru saya saja yang menggelutinya, sekarang pemburu kutuk sudah banyak. Sejak tiga tahun ini, keluarga saya hidup dari hasil berburu kutuk," kata Hari.

Pada hari-hari kerja, para pemburu kutuk hanya beberapa orang saja. Namun pada saat musim libur atau hari minggu jumlahnya bisa mencapai puluhan orang, apalagi para pemburu asal Kudus dan Jepara juga ikut berburu kutuk sampai ke Demak.

Senada dengan Hari, Saiful Badowi (22), warga Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah Demak, berburu kutuk harus sabar dan telaten. Buruh bangunan itu mengaku sudah tiga bulan berburu kutuk untuk sekadar menyalurkan hobi menembak. "Menembak kutuk itu hobi yang membawa hoki. Lumayan hasilnya bisa buat beli rokok," ujarnya.

Ikan kutuk mudah dijumpai pukul enam pagi atau pukul tiga sore. Di jam-jam tersebut ikan kutuk sering muncul di permukaan sungai untuk mencari makan. Hasil buruannya tidak perlu repot-repot dijual ke pasar, sebab biasanya sudah ada yang menunggu untuk membelinya. Apalagi kalau di pasar harga ikan kutuk bisa mencapai Rp 20.000 per kilogramnya.

Ikan kutuk terbilang lezat, karena dagingnya lembut dan gurih. Selain digoreng, ikan kutuk dapat dimasak semur kutuk, menemani nasi dan sambal terasi.


Penulis: Ari Widodo
Editor : Glori K. Wadrianto