Minggu, 26 Oktober 2014

/ Travel

Roti dengan Selera Rakyat

Kamis, 22 Maret 2012 | 12:29 WIB

Oleh Yulia Sapthiani dan Sarie Febriane

Di sejumlah kota, roti lokal bukan saja mampu mencuat menjadi ikon daerah. Roti lokal juga menjadi kebanggaan warganya.

Siapa yang tak kenal roti unyil. Meski baru lahir pada era 1990-an, roti mungil yang menggemaskan ini sudah menjadi oleh-oleh wajib dari Bogor. Ukurannya yang mungil membuat roti ini unik. Ia bisa langsung masuk ke mulut dalam sekali suap. Sepertinya tak afdol bila berkunjung ke Bogor tanpa mencicipi roti mungil ini. Begitulah pendapat para pemburu roti di toko Venus, pelopor lahirnya roti unyil di Bogor.

Toko yang berlokasi di Jalan Pajajaran ini tak pernah sepi pembeli setiap hari. Apalagi menjelang dan saat liburan, antrean mobil sering membuat Jalan Pajajaran tersendat. Mereka yang berburu oleh-oleh di tempat ini biasanya membeli roti yang dikemas dalam kotak berisi 20 hingga 60 buah. Soal rasa, mereka bebas memilih dari sekitar 30 jenis yang disediakan dalam rak kaca. Namun, ada beberapa rasa yang menjadi favorit, seperti sosis keju dan jagung manis.

Kita beralih ke Pematang Siantar, Sumatera Utara. Di sana ada Toko Roti Ganda. Antrean kendaraan orang-orang yang hendak membeli roti di toko roti tersebut juga sering kali memacetkan Jalan Sutomo. Masuk ke toko pun bak pasar senggol karena toko yang berukuran sekitar 4 x 10 meter ini selalu disesaki pembeli yang menunggu pesanan disiapkan.

Usaha roti yang bertahan sampai empat generasi ini tak hanya menyebar di Pematang Siantar—kota yang bisa ditempuh tiga jam dari Medan—tetapi juga sudah mencapai kawasan Tapanuli, Samosir, Sibolga, hingga ke luar Sumatera. Mangapar Limbong (42), warga Pulau Samosir yang tengah membeli Roti Ganda pada awal pekan ini, mengatakan, dia menjadi pelanggan roti tersebut karena rasanya tak berubah sejak dulu.

”Apalagi di Samosir tidak ada toko roti. Jadi, kalau saya pulang ke Samosir, saya wajib membawa roti, termasuk Roti Ganda,” tutur Mangapar.

Di Bandung, roti tradisional yang sudah berusia puluhan tahun juga mendapat tempat di hati warga dan wisatawan, meski tren kuliner di kota ini cepat berubah. Salah satu tempat yang menjadi destinasi para pencari oleh-oleh adalah Toko Roti Sidodadi di Jalan Otista.

Aktivitas pembeli di toko yang didirikan tahun 1954 oleh Hiendrawan Kosasih ini bahkan dimulai sebelum pintu toko dibuka, sekitar pukul 11.00. Awal pekan lalu, misalnya, meski jam masih menunjukkan pukul 10.30, sudah ada beberapa pembeli dengan bungkusan roti di tangan di dalam toko.

”Saya datang sebelum toko buka. Tinggal ketuk pintunya, nanti dibuka. Kalau belinya siang, enggak tenang memilihnya karena penuh,” kata Ari, seorang ibu yang memborong roti keju atas titipan temannya di Jakarta.

Benar saja. Begitu pintu dibuka, toko ini langsung ramai. Semua karyawan di bagian pelayanan dan kasir tak henti melayani pembeli. Suasana seperti ini terjadi hingga sekitar pukul 18.00, waktu di mana biasanya persediaan roti sudah habis. Tokonya sendiri tutup pukul 20.00.

Tak hanya disukai warga Bandung, roti Sidodadi juga sudah menjadi oleh-oleh bagi orang Jakarta yang menghabiskan akhir pekan di Bandung. ”Orang Jakarta biasanya memesan dulu lewat telepon pada hari Sabtu. Lalu, rotinya diambil Minggu saat mereka akan kembali ke Jakarta,” kata cucu pendiri Toko Roti Sidodadi yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Ciri khas

Roti Ganda yang menjadi ikon oleh-oleh Pematang Siantar sebenarnya hanyalah roti tawar. Namun, ada yang menjadi pembeda antara roti tawar di sini dengan roti tawar lainnya, yaitu adanya aroma susu dan pandan.

Cara penyajiannya, setelah dibelah, kedua belah sisi roti diolesi krim lalu ditaburi butiran cokelat. Roti, kemudian, ditangkupkan, dipotong-potong, lalu dikemas dengan kertas roti.

Sedangkan roti unyil, sesuai sebutannya, memiliki keunikan pada ukurannya yang mungil. Namun jangan salah, ketika pertama kali dibuka tahun 1992, pemiliknya, Hendra Saputra, juga menjual roti dalam ukuran biasa, seperti yang dijual toko roti pada umumnya.

”Namun, kami juga membuat variasi dengan membuat roti ukuran kecil. Ternyata, justru roti kecil yang lebih disukai pembeli,” tutur Herlianty (62), kakak dari Hendra. Karena menjadi favorit itulah, sekitar setahun setelah berdiri, Venus memfokuskan diri pada produksi roti unyil hingga sekarang.

Sementara itu, kekhasan yang dimiliki Roti Sidodadi serupa dengan roti tradisional lain, yaitu roti yang padat namun lembut. Sejak awal, roti Sidodadi dibuat tanpa bahan pengembang berlebihan, apalagi bahan pengawet.

Beberapa variasi isi, seperti selai nanas dan stroberi, bahkan dibuat sendiri dari buah-buahan tersebut. Keju untuk roti keju dibuat seperti mentega sehingga rasanya menyerap dalam roti.

”Kakek dan ayah saya berpesan, jangan pernah mengubah resep. Mereka juga ingin mempertahankan citra bahwa roti Sidodadi adalah roti rakyat, jadi harganya harus mampu dijangkau,” katas sang cucu.

Harga roti Sidodadi memang terbilang lebih murah dibandingkan roti sejenis di tempat lain. Di tempat ini masih banyak pilihan roti dengan harga di bawah Rp 3.000 per buah.

Triknya ternyata pada penghematan kemasan. Rotinya tidak dibungkus per buah. Roti yang sudah dipesan pembeli dibungkus dalam plastik putih besar yang cukup untuk 10 buah roti dan lima buah untuk plastik kecil. Ini bukan sembarang pembungkus. Lihat tulisan yang tercetak di luar. ”Jadilah Peserta KB Lestari” dan ”Buanglah Sampah pada Tempatnya”.

Sang cucu pendiri pun bercerita. Ketika roti ini lahir di zaman Orde Baru, pemerintah mewajibkan adanya kampanye program mereka pada setiap kemasan. ”Karena program KB sedang heboh, kakek saya memilih itu, ditambah pesan harus membuang sampah pada tempatnya,” katanya.

Siapa sangka, selain cita rasa rotinya, kalimat itu justru menjadi ciri khas Sidodadi hingga saat ini. (Aufrida Wismi Warastri)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: