Selasa, 29 Juli 2014

/ Travel

Gowes Trans Sulawesi

Maret-April Paling Tepat Gowes di Sulawesi

Kamis, 29 Maret 2012 | 07:34 WIB

KOMPAS.com - Pagi ini bening sekali. Saya duduk di tepian pantai berbatu di seberang penginapan. Lautan tenang. Riaknya seperti menepuk-nepuk bebatuan saat pecah di pantai.

Sesekali kawanan ikan terbang melompat di permukaan air. Di langit, burung gagak dan elang bondol berkejaran. Matahari masih malu-malu sembunyi di balik awan sisa-sisa musim barat.

Gumpalan awan seperti itu yang menemani perjalanan bersepeda kami sejak dari Makassar. Mereka meredam garangnya sengatan mentari bumi Celebes, terutama mendekati garis Khatulistiwa di daerah perbatasan Sulsel-Sulteng. Awal Maret hingga April mungkin memang saat yang paling pas untuk bersepeda di Sulawesi.

Suasana di Padapu, Kecamatan Podi, Kabupaten Tojo Una-una ini benar-benar damai dan menenangkan. Saya jadi teringat obrolan dengan Ronald Sumual, anak pemilik penginapan, semalam.

Di dekat Padapu, ada pertambangan nikel dan bijih besi. Material alam itu diambil dari kawasan sekitar kaki Gunung Katopas dan dialirkan ke tepi laut menggunakan conveyor.

"Sempat ada rencana membuka hutan untuk dibuat jalan. Tapi masyarakat menolak karena khawatir akan merusak lingkungan," tutur Ronald.

Saat ini ada rencana lain  membangun pelabuhan khusus untuk kepentingan penambangan. Jika pelabuhan itu jadi, diharapkan Padapu berkembang lebih hidup. Namun akankah ketenangan alami kawasan itu terusik dengan adanya pelabuhan. Kami berdoa hal itu tidak terjadi.

Warga masih ingat akan bencana banjir besar Sungai Podi yang terjadi tahun 2001. Sisa banjir masih terlihat sebelum kita memasuki Padapu berupa endapan pasir coklat dan material bebatuan yang menutupi jalan. Sungai jadi sangat lebar merusak daerah sepanjang alirannya.

Saya lalu beranjak ke sungai di samping penginapan dan mandi sepuasnya. Sungai-sungai kecil yang kami lalui sepanjang perjalanan airnya jernih, bahkan setelah melalui permukiman penduduk. Ini menandakan hutan di kawasan hulu relatif terjaga keasriannya.

Selesai mandi, kami semua membenahi barang-barang dan memasukkannya ke dalam pannier. Selasa (13/3/2012) itu, kami lanjutkan perjalanan menuju Ampana sejauh 58 kilometer.

Kami tinggalkan Padapu yang permai sekitar pukul 08.00. Angin menerpa wajah saat sepeda meluncur di aspal. Rasanya  menyegarkan.

Ocat mengayuh sambil bernyanyi-nyanyi. Di jalanan yang lengang itu kami merasa leluasa untuk bermain dengan sepeda. Di jalanan menurun saya bentangkan kedua tangan dan membiarkan sepeda meluncur sendiri. Rasanya menyenangkan sekali. Kami berempat merasa bebas, seperti burung elang yang membentangkan sayapnya di langit. Seperti anak-anak yang dibiarkan ibunya bermain sepeda kemanapun mereka mau.

Kami harus sering-sering berhenti untuk memotret karena pemandangan ke arah Teluk Tomini  sangat indah. Sepanjang jalur Tagolu-Ampana, jalanan menyusuri pantai yang landai. Terkadang jalan meniti batu karang yang terjal.

Sekitar sepuluh meter dari pantai, lautan dalam menciptakan warna biru yang kelam. Di beberapa pantai berpasir putih, lautnya berwarna kehijauan. Dari garis pantai, hutan lebat seperti permadani yang menutupi bukit.

Siang hari kami memasuki Desa Taponamba, Kecamatan Ulubongka. Selepas desa itu terdapat jembatan Sungai Bongka yang disebut-sebut terpanjang di Sulawesi Tengah. Air sungai yang jernih kehijauan mengalir deras hingga mendekati muara.

Kami lalu mendaki punggungan besar keluar dari lembah Sungai Bongka. Dari ketinggian, pandangan saya terpaku pada lereng yang terkelupas kehijauannya, menyisakan kayu berserakan.

Perambahan hutan merajalela di kawasan Ulubongka sejak pemekaran wilayah Kabupaten Touna pada 2004. Padang sabana yang berada di lereng bukit sudah lebih dulu hilang dan berubah menjadi ladang jagung. Kini warga merambah hutan hingga ke puncak-puncak bukit.

Lepas dari Ulubongka, jalanan terputus oleh sungai kecil. Namun kendaraan masih bisa menyeberanginya.

Warga suku Ta, suku asli yang mendiami kawasan Ulubongka, menyebut sungai itu Ue Fo'u. Artinya, kami meminta air lagi.

Pada musim kemarau, sungai itu mengering sehingga warga mengadakan ritual khusus untuk meminta sungai itu tetap mengalir. Musim hujan seperti sekarang, air meluber hingga ke jalanan yang lebih rendah dengan kedalaman hingga sebetis orang dewasa.

Di pinggiran sungai, kami sempatkan mencicipi binte atau jagung muda yang banyak ditanam warga. Bulir jagung yang berwarna keputihan itu rasanya pulen seperti ketan. Jagung dimakan bersama sayuran mirip urap dan sambal.

Jalan mendaki dan menurun berkelok mengikuti kontur. Angin samping dari arah laut atau dari depan kadang memberatkan kayuhan. Kami bekerja sama  menghadapi angin ini dengan bergantian mengayuh di depan untuk "menarik" teman di belakang. Enaknya jalan berempat, kalau ada yang bermasalah, kami bisa membagi tim jadi dua sehingga perjalanan dapat diteruskan tanpa banyak buang waktu.

Menyeberang ke Gorontalo

Saat memasuki Ampana pukul 15.00, kota masih sibuk. Pelabuhan kecil itu menjadi pintu gerbang penyeberangan ke Kepulauan Togian.

Kepala Dinas Perhubungan Ampana Basri Husain mengatakan, kapal feri menyeberang ke Gorontalo melalui Kepulauan Togian setiap hari Kamis dan Minggu pukul 10.00. Penyebrangan pada hari Minggu berlabuh di Marissa, sekitar 180 km dari Gorontalo. Sementara penyeberangan pada hari Kamis berlabuh di Gorontalo. Jadi jika anda bersepeda dan hendak menyeberang, pastikan kapal yang ke Gorontalo.

Kita bisa juga menyeberang ke Gorontalo dari Pagimana, sekitar 145 km dari Ampana ke arah timur. Dari pelabuhan ini kapal ferry menyeberang setiap hari Rabu dan Jumat pukul 20.00 dan tiba di Gorontalo pukul 06.00 esoknya. Biaya menyeberang dari Pagimana Rp 73.000 per orang ditambah sepeda Rp 44.000. Angkutan umum trayek Ampana-Pagimana hanya ada sekali sehari dengan tarif Rp 60.000 per orang. Biasanya angkutan umum berangkat tengah hari. Kalau sewa kendaraan berkisar Rp 350.000-Rp 450.000 sekali jalan.  (Max Agung Pribadi)


Editor : I Made Asdhiana