Sabtu, 1 November 2014

/ Travel

Kuburan Batu "Berdaya Magis" Ratenggaro!

Selasa, 24 April 2012 | 16:20 WIB

Oleh Frans Sarong dan Hariadi Saptono

Pantai Ratenggaro, Selasa petang pekan pertama Desember 2011. Pesonanya tidak hanya bersumber dari pantainya yang eksotis. Kawasan pantainya terasa berdaya magis tinggi karena di sekitarnya tetap bertahan sejumlah kuburan batu tua peninggalan zaman megalitikum, sekitar 4.500 tahun lalu.

Keindahan Ratenggaro memang tidak diragukan. Garis pantainya berpasir putih, menghadap laut lepas berair bening. Deburan ombaknya tak pernah lelah menderu. Gemanya terdengar hingga perkampungan Desa Bondo Kodi, – tetangga belakang Ratenggaro, - melalui lengkungan muara Sungai Waiha di sekitarnya.

Ratenggaro sendiri sebenarnya nama kampung adat yang kini merupakan bagian wilayah Desa Ratenggaro, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya atau SBD di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 35 km arah barat daya Tambolaka, kota Kabupaten SBD.

Kampung adat itu awalnya tumbuh di sekitar bibir pantai yang langsung menghadap Lautan Hindia. Rumpun perumahan yang semuanya bermenara, telah lenyap, entah sejak kapan. Yang tersisa kini sebagian kuburan batu.

Setidaknya ada tiga kuburan batu asli berusia sangat tua, yang masih utuh di sekitar bibir pantai itu. Sejumlah warga asal kampung setempat, seperti Daniel Winyo Bela (50), Hona Leko (42), atau Yosef Radokaka (37), secara mengalir mengisahkan kuburan batu format dolmen paling besar adalah ”rumah tinggal” leluhur mereka yang bernama Rato Pati Leko. Dua lainnya adalah kuburan dua putranya, Rangga Katoda dan Bhoka Roti.

Mereka bahkan tetap hafal kalau batu kubur leluhurnya itu diambil dari wilayah kampung adat tetangganya, Wainyapu, yang berlokasi di seberang muara atau teluk.

Di kisahkan lempengan batu itu sebelum dibentuk, berukuran raksasa. Proses penyeretannya di waktu silam melibatkan ratusan bahkan ribuan massa. Mereka tidak hanya leluhur Ratenggaro, tetapi juga leluhur warga dari sejumlah kampung tua lainnya di sekitarnya.

Setelah melalui ritual adat dengan hewan kurban tidak sedikit, batu kubur itu diseret beramai ramai hingga berhasil menyeberangi teluk yang juga merupakan muara Sungai Waiha di sisi timur Ratenggaro.

Mengutip penuturan para tetua, Hona Leko mengisahkan para leluhur penyeret batu kubur itu awalnya sempat ragu bisa melewati teluk karena kolam airnya cukup dalam, hingga setinggi leher orang dewasa.

”Namun saat penyeretan hendak menyeberangi teluk, mukjizat datang. Air lautnya tiba tiba surut hingga upaya penyeretan berhasil menyeberangi teluk tanpa halangan berarti,” tutur Hona Leko.

Ritual Marapu

Kampung adatnya sendiri– entah sejak kapan pula–sudah dipindahkan ke lokasi lain di sekitarnya. Tetap dengan nama sama, Ratenggaro, lokasi kampung penggantinya kini bertengger di puncak dinding tebing dalam lengkungan muara Sungai Waiha. Lokasinya menjauh sekitar 200 meter dari lokasi lama.

Pergeseran lokasi kampung itu semata-mata akibat keganasan abrasi. Gempuran ombak Lautan Hindia secara perlahan namun pasti terus menggerus kawasan pantai yang merupakan wilayah kampung adat Ratenggaro, hingga akhirnya harus dipindahkan ke lokasi sekarang.

”Kalau menurut cerita para tetua, dulu ketika kampung adat Ratenggaro masih di lokasi lama, daratannya dari titik kuburan hingga sekitar 1 kilometer (km) ke arah lautan. Sekarang lautnya sudah hampir menyentuh kuburan,” tutur Daniel Winyo Bela, yang sehari-hari sebagai guru SMA Negeri I Kodi. Ia petang itu juga berkunjung ke Pantai Ratenggaro bersama sejumlah warga lainnya.

Rupanya petaka terus menghantui kampung adat Ratenggaro. Jika kampung adat lama harus bergeser akibat gerusan abrasi, kampung adat yang sekarang malah tertimpa musibah kebakaran awal Juni 2011. Dilaporkan 13 unit rumah berarsitektur unik itu ludes di lalap api.

Atas inisiatif dan usaha budayawan Sumba, Pastor Robert Ramone CSsR, perkampungan adat Ratenggaro berhasil dibangun kembali Agustus 2011. Pembangunannya itu didahului ritual adat Marapu, kepercayaan tua Sumba.

Lisa Tirto Utomo, pendiri sekaligus pemilik perusahaan air mineral Aqua, ikut berpartisipasi dalam pembangunan kembali perkampungan adat tersebut. Kontribusinya berupa sumbangan dana senilai Rp 55 juta.

Pada saat hampir bersamaan, Robert Ramome-biarawan Katolik kelahiran Kodi Bangedo, 29 Agustus 1962-itu juga berusaha merampungkan museum yang sekaligus menjadi pusat budaya Sumba di Weetabula, SBD.

Bagi Robert, perjuangan membangun kembali rumah adat Ratenggaro dan museum tersebut adalah bagian dari upaya agar orang Sumba tidak sampai tercerabut dari akar budayanya.

Kata dia, perjuangan membangun kembali rumah adat Ratenggaro dan juga museum tersebut, sekaligus merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kebanggaan di kalangan orang Sumba atas peninggalan budayanya yang bersumber dari Marapu.

”Lebih dari 60 persen penduduk Sumba beraliran kepercayaan Marapu. Kepercayaan tua itu bahkan hingga kini masih bertahan dan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan orang Sumba. Karena itu, jangan mengaku pernah ke Sumba kalau belum bersentuhan dengan Marapu,” tutur Robert Ramone.

Pembangunan kembali kampung adat Ratenggaro tidak berarti langsung mengenyahkan ancaman atas kawasan pantainya, terutama terkait keberadaan kuburan batu. Mungkin perlu ritual khusus secara Marapu agar kuburan batu itu terbebas dari gerusan abrasi Lautan Hindia.

Lokasi lama Kampung Ratenggaro hanya menyisakan kuburan batu. Belasan rumah pendukungnya yang berarsitektur inik, tak ada lagi.

Namun daya magis bekas kampung tua itu-sebagaimana diakui sejumlah tetua-terasa seperti tidak pernah beranjak. Setiap sore selalu ada saja warga sekitar yang berkunjung. Sebagian di antaranya-terutama para tetuanya-konon berkunjung hanya sekadar ingin ”berjumpa” dengan leluhur mereka di Ratenggaro.

Jika Anda berkunjung ke Ratenggaro atau kawasan lain Pulau Sumba, jangan lupa mengenakan sepatu tertutup. Kelengkapan itu guna menghindari kemungkinan serangan tetanus yang bersumber dari kotoran hewan terutama kuda, yang berserakan di mana mana.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: