Senin, 21 April 2014

News / Travel

Antara Mangadeg dan Matah Ati

Kamis, 14 Juni 2012 | 15:38 WIB

Baca juga

Oleh Frans Sartono

Dari bukit ke bukit terentang sejarah pendiri Pura Mangkunegaran. Perjuangan, keprihatinan, dan kisah asmara terekam dalam keindahan bukit-bukit hijau rindang. Sejarah yang terlalu indah untuk dilupakan.

Langit memerah. Matahari hampir tenggelam di balik bukit di sebuah desa di Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah.

Bukit itu tidak pernah tercatat di catatan kaki sejarah sekalipun. Namun, sebenarnya bukit yang dikitari sawah menghijau itu menyimpan sejarah. Di kemiringan lereng-lerengnya pernah terjadi pertempuran yang dipimpin perempuan bernama Rubiyah. Di kemudian hari, ia disebut sebagai Raden Ayu Matah Ati.

Itu peristiwa pada era awal 1700-an ketika Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa, yang kemudian menjadi Mangkunegara I, bergerilya melawan kekuatan kolonial. Di belakangnya ada seorang perempuan, Rubiyah atau Matah Ati, yang juga tak dikenal di buku sejarah. Belakangan,

nama Matah Ati bagai muncul dari timbunan debu sejarah. Ia menjadi populer ketika sepak terjangnya diangkat menjadi drama tari ”Matah Ati” oleh Atilah Soeryajaya, yang adalah cucu Mangkunegara VII.

Atilah mencoba mendekatkan realitas sejarah dengan seni pertunjukan lewat ziarah, napak tilas sepak terjang pemberontakan Pangeran Sambernyawa dan Matah Ati, pada 28-29 Mei lalu. Dari perjalanan itu terjelaskan mengapa lantai panggung drama tari dibuat miring. Jay Subiyakto, direktur artistik ”Matah Ati”, menunjuk bukit di Selogiri itu sambil duduk di dangau sawah.

”Inspirasi saya dari bukit itu. Saya sebenarnya malah ingin ’Matah Ati’ dipentaskan di sini,” kata Jay.

Antara panggung dan situs sejarah memang bertalian. Tata gerak memutar di pentas ”Matah Ati”, misalnya, diinspirasi oleh posisi makam Matah Ati di Gunung Wijil, sebuah bukit kecil di Desa Kaliancar, Selogiri, Wonogiri. ”Gerak memutar, melingkar-lingkar, itu diambil posisi makam Matah Ati yang berada di tengah, dikelilingi oleh makam pengikutnya,” kata Atilah di Gunung Wijil.

Napak tilas itu seperti perjalanan menghayati sejarah, selain juga menikmati panorama yang pernah menjadi panggung nyata sang sejarah. Peserta diajak menapaki situs, petilasan yang pernah dijamah Matah Ati dan Pangeran Sambernyawa. Mereka, misalnya, diajak merasakan segarnya air Sendang Siwani. Di sendang atau mata air itu, dulu, RM Said dan pasukannya beristirahat dan mengatur strategi perlawanan gerilyanya.

Penghayatan itu akan mereka bawa kembali ke pentas pertunjukan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 22-25 Juni dan di Mangkunegaran, Solo, pada 8-10 September.

Mangkunegaran

Perlawanan sang pangeran berakhir dan di kemudian hari pada 1757 berdirilah Pura Mangkunegaran. Dan, RM Said bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara. Adapun Raden Ayu Matah Ati bergelar Bendara Raden Ayu Mangkunegara Sepuh.

Napak tilas berawal dari Pura Mangkunegaran di Solo, yang didirikan RM Said pada 1757. Mangkunegaran pada era Lady Gaga terbuka untuk umum, termasuk keputren yang dulu terlarang dimasuki pria. Tamu diterima di Bangsal Pracimayasa yang dirancang arsitek Herman Thomas Karsten pada tahun 1920 dengan gaya paduan Jawa-Eropa. Arsitek berkebangsaan Belanda ini juga dikenal sebagai perancang Pasar Gede Harjonegoro, Solo, dan Loji Gandrung yang menjadi rumah dinas Wali Kota Surakarta.

Di bangsal yang dikitari taman ini, para tamu disambut tari Srimpi Mandrarini. Tari gemulai empat penari ini dicipta pada era Mangkunegara V (1881-1886). Srimpi ini menggambarkan prajurit perempuan yang tengah berlatih olah kanuragan. Itulah mengapa penari menggunakan cundrik atau keris kecil dan panah. Srimpi Mandrarini menjadi pengingat bahwa Mangkunegaran mempunyai sejarah keprajuritan perempuan seperti dirintis Matah Ati.

Dari Mangkunegaran, napak tilas bergerak menuju Bukit Astana Mangadeg, sebuah bukit di Kecamatan Matesih, Karanganyar, sekitar 30 kilometer arah timur Solo.

Di puncak bukit yang terletak pada ketinggian 750 meter dari permukaan laut itu terdapat makam RM Said. Di bukit itu pula, ia bersemadi di antara hari-hari pemberontakannya yang berlangsung selama 16 tahun.

Pendakian menuju puncak bukit di lereng Gunung Lawu itu terasa menyegarkan. Panas matahari siang teredam lebatnya hutan dengan pepohonan besar. Di antaranya pohon beringin tua dengan akar-akar menjalar dan menancap, mencengkeram kukuh di tanah.

Sepanjang perjalanan terdengar kicau burung dan tonggeret (Cicada) alias garengpung, pertanda musim panas telah menjelang. Nun jauh di dasar jurang terlihat sungai mengalir di bebatuan. Suara kemerosok air sungai terdengar sampai di puncak bukit. Nun jauh di bawah bukit masih ada bukit-bukit yang lebih rendah yang tampak seperti gundukan hijau dikitari persawahan. Bertetangga bukit dengan Mangadeg adalah Astana Giribangun, tempat Pak Harto dan Ibu Tien dimakamkan.

Mangadeg sungguh menjadi tempat tetirah yang indah. Bisa dibayangkan ratusan tahun lalu ketika Pangeran Sambernyawa bergerilya dan bermenung diri dalam semadi di kesunyian bukit dan hutan. Di tempat itulah ia merumuskan semacam doktrin perjuangan yang disebut Tri Darma, yaitu rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki), wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan), dan mulat sarira hangrasa wani (berani bermawas diri).

Sejarah dan semangat dari bukit ke bukit itu kini menjelma dalam pergelaran drama tari....


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: