Senin, 20 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 20 Mei 2013 | 05:14 WIB
Bertamu ke Rumah Tjong A Fie
Selasa, 26 Juni 2012 | 13:04 WIB
|
Share:
KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANARumah keluarga Tjong A Fie tampak dari depan.
Foto:

Oleh Aufrida Wismi Warastri & Putu Fajar Arcana

DUA ekor singa sedang duduk menunggu para tamu. Di atasnya seekor naga membelit daun pintu sehingga gerbang tampak kokoh. Dua jenis binatang yang hidup dalam mitologi China itu segera membawa kita menyusuri abad ke-19.

Di sepotong Jalan A Yani, Medan, berderet-deret bangunan tua bergaya indie. Cuma satu bangunan di sisi kanan jalan memiliki gaya berbeda. Ia dibangun di atas perpaduan gaya China, Eropa, dan Melayu. Perpaduan gaya itu sudah pasti mencerminkan siapa si pemilik rumah: Tjong A Fie. Pada abad ke-19 Tjong A Fie dikenal sebagai pengusaha lintas benua dan kapitan atau pemimpin masyarakat Tionghoa di Medan. Tjong A Fie bahkan termasuk dalam jajaran orang terkaya di Asia Tenggara.

Keturunan Tjong A Fie yang tersebar di sejumlah negara merasa rumah itu adalah bagian dari sejarah Kota Medan, sehingga perlu dibuka untuk umum. Pada saat peringatan 150 tahun kelahiran Tjong A Fie, Juni 2009, rumah yang sering disebut mansion di lahan seluas 6.000 meter persegi itu dibuka untuk umum.

Dengan tiket Rp 35.000, Anda bisa berkeliling ditemani seorang pemandu yang akan menerangkan sejarah rumah indah itu. Ruangan-ruangannya berikut pernak-perniknya sebagian besar masih asli seperti pertama kali dibangun tahun 1895 hingga tahun 1900, seperti kusen, lantai, dan perabot-perabotnya.

Elliza Olivia (19), pemandu kami, mengatakan, rumah terbagi dalam tiga bagian, yakni ruang inti yang berada di tengah, sayap kiri dan sayap kanan. Sayap kanan sampai kini masih digunakan oleh keluarga Tjong A Fie sehingga yang dibuka untuk umum adalah bangunan utama dan sayap kiri rumah. Total ada 35 ruangan di dalam banguan seluas 4.000 meter persegi itu.

Dulu rumah sayap kanan digunakan sebagai ruangan bagi pembantu-pembantu Tjong A Fie. Adapun ruang utama digunakan Tjong A Fie dan keluarganya.

Sumur surga

Pengunjung akan diajak masuk melalui pintu sebelah kiri gedung yang dihiasi dengan beberapa set meja-kursi tua yang tertata rapi dan berbagai pernak-pernik hiasan. Di salah satu dinding tertempel pesan-pesan Tjong A Fie sebelum ia meninggal, termasuk menggunakan kekayaannya untuk membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu.

Memasuki ruang utama, kita akan menemukan ruang terbuka persis di tengah bangunan yang disebut sumur surga. Selain menjadi ventilasi udara yang membuat seluruh ruangan sejuk, ruangan itu juga tempat keluarga Tjong A Fie membakar dupa dan ritual keagamaan.

Jika memandang ke atas dari sumur surga, mata kita akan tertumbuk pada jendela-jendela besar bercat kuning-hijau khas Melayu. Jendela-jendela itu didesain dengan cita rasa dan ukiran Melayu, dan dari situlah udara menyejukkan seluruh ruangan di lantai atas.

Di depan sumur surga terdapat ruang penerima tamu yang disekat dengan dinding ukiran kayu berwarna merah dan emas. Ruangan dibagi tiga, yakni ruang depan-tengah, kiri, dan kanan. Ruang tengah digunakan Tjong A Fie untuk menerima tamu umum, ruang di sebelah kiri untuk me- nerima tamu-tamu dari masyarakat Tionghoa, sedangkan ruangan di sebelah kanan khusus untuk menerima tamu Sultan Deli dan keluarganya. Perabotnya pun menyesuaikan dengan kebudayaan sang tamu. Di ruang China, pernak-perniknya berasal dari China, sedangkan di ruang Melayu, pernak-perniknya bernuansa Melayu.

Naik ke lantai dua terdapat ruangan luas yang sering digunakan sang kapitan untuk menggelar pesta dansa bagi tamu-tamunya. Ruangan itu dipenuhi jendela-jendela besar yang menghadap ke halaman. Dari jendela itu terlihat pemandangan halaman rumah dan Jalan Kesawan.

Adapun di sisi belakang sumur surga baik di lantai satu maupun lantai dua terdapat ruang sembahyang atau wihara. Di situlah altar Kwan Te Kong dan Dewa Kwan Kong diletakkan. Di ruangan tersebut rapat-rapat keluarga juga sering diselenggarakan. Saat menatap ke langit-langit, gambar-gambar bunga dengan warna dari tumbuhan terlihat menarik. Adapun di wihara lantai satu disemayamkan abu leluhur Tjong A Fie.

Ruang tidur Tjong A Fie terdapat di sisi kiri wihara di lantai satu. Lantai ruangan menggunakan terakota. Terdapat tempat tidur kayu berkelambu, lemari, lemari hias, meja-kursi di dalam ruang pribadi Tjong A Fie. Baju-baju Tjong A Fie juga tergantung di salah satu sudut ruangan.

Di belakang ruang tidur dan wihara terdapat ruangan memanjang yang digunakan sebagai ruang makan dengan gaya Eropa. Di ruangan inilah keluarga Tjong A Fie menjamu tamu-tamunya. Satu ruangan lagi di sebelah kanan wihara lantai satu digunakan sebagai ruang pameran foto sejarah Tjong A Fie.

Di situlah foto keluarga, kegiatan Tjong A Fie, hingga pemakamannya di tahun 1921 yang dihadiri ribuan orang dipajang.

Tjong A Fie yang asli dari Tiongkok datang pertama kali ke Medan pada tahun 1880 sebagai pekerja saat geliat ekonomi muncul di Sumatera Timur berkat perkebunan tembakau. Karena ketekunan, kemampuannya bergaul, dan menyelesaikan masalah di perkebunan ia dipercaya banyak orang hingga ditunjuk menjadi seorang kapitan dan menjadi kepercayaan Sultan Deli.

Ia menikah tiga kali, yang pertama di Tiongkok, yang kedua dengan gadis dari Penang dan mempunyai tiga anak, tetapi kemudian istrinya meninggal, dan terakhir dengan gadis Tionghoa asal Binjai, Liem Koei Yap, yang berusia 16 tahun. Liem memberikan tujuh anak. Bersama Liem dan tujuh anaknya itu Tjong A Fie tinggal di rumah megah itu.

Ia terkenal membangun berbagai fasilitas umum di Kota Medan, seperti Masjid Gang Bengkok dan penyumbang pembangunan Masjid Raya Medan. Ia juga membangun berbagai wihara, kuil, sekolah, gereja, jembatan, dan pelopor perkeretaapian di Sumatera Timur.

Rumahnya dibuka saban hari pukul 10.00 hingga pukul 17.00, termasuk hari Minggu, kecuali pada saat hari libur nasional.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
I Made Asdhiana