Rabu, 26 November 2014

/

PENCARI SUAKA

Saat Terbaik untuk Masuk ke Australia

Kamis, 28 Juni 2012 | 02:29 WIB

Kebijakan terhadap pencari suaka kembali menjadi perdebatan politik hangat di Australia saat ini, menyusul tenggelamnya sebuah kapal minggu lalu di perairan Indonesia dan Australia yang memakan korban lebih dari 90 orang.

Tragedi pencari suaka ini kembali menimbulkan diskusi bagaimana mengurangi korban jiwa bagi mereka yang ingin masuk ke Australia. Mengapa ratusan orang di dalam kapal tersebut mau mempertaruhkan nyawa mereka? Mengapa dalam kurun enam bulan terakhir sudah hampir 5.000 pencari suaka tiba di Australia?

Sepintas tak tampak banyak alasan mengapa gelombang pengungsi meningkat pesat. Keadaan negara asal para pengungsi, seperti Irak, Afganistan, Iran, Pakistan, dan Sri Lanka, walau tidak baik juga tidak lebih buruk, misalnya daripada satu atau dua tahun lalu.

Lalu mengapa mereka menggunakan waktu sekarang untuk berlomba-lomba masuk ke Australia? Selain faktor cuaca, faktor utama terletak di ibu kota Australia, Canberra.

Sekarang ini praktis tak ada kebijakan apa pun yang membuat para pencari suaka menghentikan usaha mereka. Kebijakan Pemerintah Australia hanya menerima para pencari suaka yang datang dan memproses mereka secepat mungkin.

Mengapa tidak ada kebijakan yang bisa dijalankan? Karena pemerintahan Partai Buruh yang berkuasa tak memiliki cukup suara di parlemen guna mengegolkan rencana kebijakan mereka.

Partai Buruh sebenarnya pernah mengusulkan apa yang mereka sebut ”solusi Malaysia”. Dalam rencana tersebut, 800 pencari suaka yang baru tiba di Australia akan dikirim ke Malaysia guna diproses. Sebagai imbalannya, Malaysia akan mengirim 4.000 orang yang sudah dipastikan berstatus pengungsi sebagai syarat mendapat suaka.

Kebuntuan

Solusi Malaysia dianggap akan mengurangi gelombang pencari suaka karena mereka yang dikirim ke Malaysia kemudian akan masuk dalam antrean paling belakang. Saat ini sudah ada 100.000 pengungsi dalam daftar antrean suaka.

Namun, solusi Malaysia ini tidak mendapat dukungan karena Malaysia bukan penandatangan konvensi PBB mengenai pengungsi. Para aktivis pembela pengungsi juga mengkritik cara Malaysia menangani para pengungsi.

Pemerintahan sebelumnya di bawah Perdana Menteri John Howard pernah membuka pusat pemrosesan pengungsi di Nauru di kawasan Pasifik. Dengan memindahkan mereka ke Pasifik, pemerintah kala itu juga berharap kedatangan akan berkurang karena mereka tidak mendapat jaminan akan bisa langsung masuk ke Australia.

Kebijakan Nauru pernah dikritik Partai Buruh. Kelompok oposisi sekarang mengusulkan ”solusi Nauru” dan juga mengusir kembali kapal yang hampir mendekati Australia. Usulan ini tidak didukung oleh angkatan laut dan pabean.

Kebuntuan politik inilah yang digunakan oleh para gembong penyelundup manusia untuk mengirim para pengungsi sebanyak mungkin ke Australia saat ini. Mereka sadar cepat atau lambat jendela kesempatan itu akan ditutup.

Selain itu, berbagai kebijakan dan desakan yang muncul belakangan secara tidak langsung juga menguntungkan para gembong penyelundup. Australia sekarang tak lagi menahan atau mengadili anak buah kapal (ABK) asal Indonesia di bawah umur.

Pihak berwenang Australia menengarai, para gembong penyelundup sengaja mencari ABK di bawah umur sehingga semua bisa dipulangkan segera setelah mengantar pencari suaka.

Andai pun mereka dinyatakan bersalah, para ABK asal Indonesia ini mungkin diiming- imingi janji bahwa kondisi penjara di Australia ”lebih baik” daripada kehidupan di daerah asal. Penjara Australia berfasilitas ”lengkap”, para narapidana bisa bekerja dan mendapatkan imbalan 8-20 dollar Australia (sekitar Rp 76.000-Rp 190.000) per minggu.

Manajemen penjara pernah dilaporkan mencoba menahan gaji para napi asal Indonesia karena dianggap para napi itu memetik ”keuntungan” dari tindak kriminal mereka. Namun, langkah tersebut dianggap tak adil dan diprotes.

Dengan tidak adanya kompromi solusi dan juga faktor penekan lain guna mengurangi kedatangan pencari suaka, tak mengherankan sentimen antipengungsi di Australia sekarang ini semakin meningkat. (L Sastra Wijaya, koresponden Kompas di Adelaide, Australia)


Editor :