Jumat, 18 April 2014

News / Travel

Cantiknya Panorama Danau Toba dari Puncak Menara Tele

Rabu, 4 Juli 2012 | 11:10 WIB

Baca juga

KOMPAS.com – “Pulangnya lewat Jalan Tele saja. Mampir di Menara Tele. Pemandangannya dari sana cantik sekali. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri,” tantang Bupati Samosir Mangindar Simbolon.

Saat itu, Kompas.com telah merencanakan perjalanan pulang dari Samosir menuju Medan melalui Pelabuhan Tomok ke Pelabuhan Ajibata dengan kapal feri. Ya, ini merupakan jalur umum yang dipilih wisatawan untuk keluar dan masuk Pulau Samosir.

Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba, Sumatera Utara tersebut sebenarnya memiliki empat akses. Tiga akses adalah dengan naik kapal feri melintasi Danau Toba, yaitu melalui Ajibata-Tomok, Simanindo-Tigaras, dan Nainggolan-Muara.

Paling favorit tentu saja Ajibata-Tomok yang merupakan akses pertama kali lewat feri. Apalagi Pelabuhan Ajibata berada di Kabupaten Prapat yang memang merupakan destinasi wisata tenar sejak masa Belanda.

Padahal, akses melalui jalur darat tak kalah menariknya. Jika dilihat dari peta, Pulau Samosir ternyata tak benar-benar terpisah dari daratan Sumatera Utara. Ada sebuah jembatan yang dibuat di masa pemerintahan Hindia Belanda yang menghubungkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera.

Akses jalur darat ini melalui jalanan yang disebut dengan Jalan Tele. Nah, perjalanan melalui Jalan Tele biasanya menjadi pilihan terakhir bagi wisatawan yang hendak datang mau pun keluar dari Pulau Samosir. Apa pasal? Jalan yang ditempuh berkelok-kelok dan menaik, tanpa ada jeda.

Tak hanya itu, lebar jalan hanya sekitar tiga meter. Curam sudah pasti, apalagi dulu jalanan di Jalan Tele masih belum begitu bagus. Di musim hujan, rawan longsor. Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang?

Jalan Tele yang menghubungkan Samosir dengan Kabupaten Humbang Hasundutan tersebut ternyata tak seseram yang ditakutkan orang. Pada pertengahan bulan Mei lalu, saat Kompas.com melewati jalanan tersebut, kondisinya cukup baik.

Pengendara mobil memang perlu konsentrasi ekstra saat menyetir. Jalanan berkelok dan cenderung tajam. Namun, si pengemudi bersiaplah gigit jari. Sebab, panorama sepanjang perjalanan begitu cantik.

Bukit hijau memanjakan mata. Matikan pendingin mobil dan buka jendela mobil. Lalu, rasakan kesejukan udara yang menyegarkan. Beberapa pohon pinus muncul di tengah-tengah rumput bukit. Sesaat, seperti berada di perbukitan Swiss atau Austria.

Sementara di kejauhan tampak Danau Toba yang biru. Pun Gunung Pusuk Buhit yang legendaris, semakin lama semakin terlihat di pelupuk mata. Ah, benar kata Mangindar, pemandangan di Jalan Tele begitu cantik.

Menara Pandang Tele

Setelah menyetir selama kurang lebih sejam dari Pangururan, di sisi kiri jalan sebuah menara menjulang di tepi bukit. Menara Pandang Tele menjadi menu wajib kunjung saat melewati Jalan Tele.

Menara dengan tiga lantai itu menjulang tinggi, begitu mencolok karena tak ada bangunan lain di sekitarnya. Hanya sebuah rumah di dekat menara milik Hongkom Situmorang, penjaga Menara Pandang Tele. Sebuah rumah makan sederhana ada di bagian depan rumahnya.

Nah, bersiaplah naik ke atas menara. Tak terlalu capai, karena hanya terdiri dari tiga lantai. Sebelumnya, bayar dulu tiket masuk sebesar Rp 2.000 per orang. Saat naik, Anda akan terkesiap dengan panorama di depan mata.

Bukit hijau, air Danau Toba yang biru, lalu di sisi kanan Gunung Pusuk Buhit menjulang tampak gagah. Di hari cerah, langit biru semakin membuat pemandangan begitu menawan. Mata tak akan bosan menatap kecantikan panorama.

Di bukit sisi kanan menara, Anda akan melihat garis-garis putih. Itu adalah air terjun. Ada banyak air terjun di kawasan tersebut. Di kejauhan tampak pula Pulau Samosir. Gunung Pusuk Buhit yang misterius dan dipercaya sebagai asal usul orang Batak pun tampak di sisi sebelah kiri dari menara.

Naiklah terus sampai ke puncak. Di puncak menara terdapat bangku dari beton untuk duduk-duduk. Sementara dinding empat sisinya terbuat dari kaca. Sehingga pengunjung dapat melihat panorama dengan aman.

Sayangnya, kaca-kaca ini tak terawat kebersihannya. Alih-alih, melihat panorama dengan nyaman, kotornya kaca malah menghalangi pemandangan. Sementara hampir di setiap sisi dinding di puncak menara, baik di kursi maupun di langit-langit, penuh dengan coretan usil.

“Ramai sekali kalau akhir pekan, apalagi liburan sekolah. Bisa per bulan 2000 orang datang ke sini kalau lagi musim liburan,” kata Hongkom.

Jangan sekedar melihat-lihat, coba tanyakan mengenai panorama yang ada di depan mata kepada Hongkom. Ya, ibarat sebuah peta tiga dimensi, Hongkom bisa menjelaskan desa-desa menarik yang ada di Samosir sambil menunjuk letaknya dengan jari.

Akses dan akomodasi

Menara Pandang Tele masih masuk dalam administrasi Kabupaten Samosir. Walau pun secara letak sudah berada di Pulau Sumatera, bukan Pulau Samosir. Lokasinya sekitar 12 kilometer dari Pangururan, ibu kota Kabupaten Samosir.

Sehingga, perjalanan dari Pangururan ke Menara Pandang Tele sekitar satu jam perjalanan darat. Dari Pelabuhan Ajibata yang berada di Prapat menuju Pelabuhan Tomok di Samosir ditempuh dengan kapal feri selama sekitar setengah jam.

Perjalanan darat dari Pelabuhan Tomok menuju Pangururan bisa ditempuh dengan motor ataupun mobil dengan lama perjalanan sekitar satu jam. Anda bisa menyewa motor atau mobil untuk menuju Pangururan. Bisa juga dengan angkutan umum maupun becak motor.

Sementara itu, perjalanan ke Menara Pandang Tele harus dengan menyewa mobil, sebab tidak ada angkutan umum yang melewati jalan tersebut.  Setelah melewati Menara Pandang Tele, satu jam perjalanan darat kemudian, Anda akan sampai di Jalan Sidikalang-Medan.

Ada baiknya perjalanan melalui Jalan Tele ini Anda lewati untuk menuju Pulau Samosir, bukan keluar dari Pulau Samosir. Sehingga saat sampai di Menara Pandang Tele, Anda akan mendapatkan pengetahuan lebih dari Hotdi mengenai desa-desa menarik yang patut dikunjungi di seputar Gunung Pusuk Buhit.

Setelah itu, Anda bisa menginap di hotel yang berada di Pangururan. Di kota ini terdapat hotel-hotel kelas melati, pun sebuah resor tepi Danau Toba. Bisa juga menginap di resor-resor yang terdapat di kawasan wisata Tuktuk, jaraknya sangat dekat dengan Pelabuhan Tomok.

Sepanjang perjalanan melewati Jalan Tele, agak susah mencari tempat makan maupun toilet. Oleh karena itu, setelah menikmati pemandangan di Menara Pandang Tele, makanlah di rumah makan yang berada di rumah Hongkom.

Menu andalannya adalah nasi goreng. Jangan buru-buru menyelesaikan makanan, pesanlah kopi hangat. Sambil menyesap kopi hangat, Anda bisa tetap menikmati panorama Danau Toba dari ketinggian. Sebuah gambaran yang akan melekat lama di ingatan Anda.

 


Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary