Kompas.com/Ni Luh Made Pertiwi F.Seorang pengunjung berfoto bersama dengan peserta Solo Batik Carnival 2012 usai tampil dalam pentas di Stadion Sriwedari, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (30/6/2012).KOMPAS.com – Sebelas tahun lalu, kota kecil bernama Jember mengadakan sebuah pagelaran busana di tengah jalan. Semarak karnaval dengan busana warna-warni karya muda-mudi kota itu sempat mengalami pro dan kontra.
Kini, Jember mendunia berkat karnaval yang bertajuk Jember Fashion Carnival. Kota-kota lain di Pulau Jawa, pun luar Pulau Jawa pun mulai melirik kesempatan membuat karnaval serupa. Lalu, muncul karnaval-karnaval busana. Sebut saja Semarang Night Carnival, Jogja Java Carnival, dan Solo Batik Carnival.
Solo Batik Carnival mengusung karnaval yang menguatkan ikon kota Solo yaitu batik. Solo memang tenar sebagai kota batik. Kampung Laweyan dan Kampung Kauman membuktikannya. Batik telah tumbuh dan berkembang menjadi bisnis batik di kampung kecil itu selama beratus-ratus tahun.
Pada tahun 2012 ini, Solo Batik Carnival dihelat untuk yang kelima kalinya, pada 30 Juni lalu. Event ini pertama kali diadakan di tahun 2008 dan sempat dibantu oleh Dynand Fariz, otak di balik Jember Fastion Carnival. Ibaratnya, jika berbicara karnaval di Indonesia, maka tokoh yang tepat adalah Dynand Fariz.
Vakum selama tiga tahun, Dynand kembali membantu merancang Solo Batik Carnival. Berbeda dengan mengelola Jember Fashion Carnival, menurut Dynand, Solo sudah memiliki segala yang diperlukan dibandingkan Jember, saat ia memulai Jember Fashion Carnival.
“Solo Batik Carnival ini bisa menjadi ikon wisata baru buat Solo. Sebuah wisata karnavalnya Solo. Solo ini padahal sudah siap secara hotel dan bandara. Malah Solo rugi kalau tidak punya karnaval,” ungkap Dynand kepada Kompas.com, Rabu (4/7/2012).
Menurutnya, berbeda dengan Jember, saat ia memulai Jember Fashion Carnival, Jember belum memiliki hotel yang bagus dan infrastruktur yang masih minim. Jember, lanjutnya, justru berkembang sebagai destinasi wisata akibat Jember Fashion Carnival.
Tema “Metamorfosa” diangkat sebagai konsep untuk busana-busana yang dipentaskan di Solo Batik Carnaval 2012. Dengan tema tersebut, ungkap Dynand, terjadi peningkatan proses kreatif yang lebih detail dengan tema yang lebih mengena.
“Kostum untuk karnaval itu harus diriset, tidak bisa sembarangan dibuat. Proses kreatifnya tahun ini sudah mulai kuat. Yang pasti kuncinya untuk SBC tahun depan harus ada perubahan tema, standar penggunaan batik tentu tetap,” jelasnya.
Ia menuturkan, animo pengunjung SBC yang sempat menurun tahun-tahun kemarin sudah mulai kembali. Menurut Dynand, dua tahun terakhir, penonton merasa tidak ada perubahan atau sesuatu yang baru.
“Tahun ini kita coba pentas indoor yaitu di stadion. Memang tidak penuh banget. Tapi ini wajar, penonton ingin menilai dulu SBC V seperti bagaimana,” katanya.
Efek ke Pariwisata
Prie dari Gava Holiday, sebuah biro perjalanan wisata di Solo, termasuk salah satu orang yang bergerak di biro perjalanan wisata Solo yang membuat paket wisata yang digabungkan dengan penawaran menonton SBC di Stadion Sriwedari.
Paket ini, menurut Prie, pertama kali ditawarkan. Sebab, tahun-tahun sebelumnya, SBC diselenggarakan berupa karnaval di jalanan sehingga sulit untuk dibuatkan paket wisata. Hanya saja, penjualan paket wisata SBC tersebut masih di bawah target.
“Paket tur yang kami buat masih di bawah target. Secara angka di paket tidak banyak yang ambil full package. Biasanya hanya ambil room (kamar) dan tiket menonton SBC di stadion. Saya hanya dapat tiga family saja,” tuturnya.
Namun, menurutnya, hal tersebut wajar. Sebab, tahun ini merupakan kali pertama dibuatkan paket wisata SBC. Jadi, lanjutnya, semacam uji coba paket wisata SBC. Sebelumnya, kata Prie, SBC identik dengan outdoor (di luar ruangan) yaitu karnaval di jalanan. Baru tahun 2012 ini SBC juga memiliki konsep indoor (dalam ruangan) yaitu di Stadion Sriwedari.
“Secara personal, saya pribadi jika tahun depan masih ada SBC indoor, tetap akan jual kembali paket wisata tersebut,” tutur Prie.
Ia menuturkan wisatawan yang menggunakan jasa biro perjalanan wisatanya belum terlalu berminat untuk mengambil paket wisata SBC.
“Saya sebagai operator yang handle paket wisata SBC memang yang buat lalu share ke teman-teman travel agent lain. Tapi so far, responnya tidak begitu bagus,” ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan Marketing & Communication Coordinator Solo Paragon Hotel Nicky Olivia. Ia menuturkan, tamu yang menginap di hotel menjelang SBC didominasi keluarga yang datang untuk wisata saat liburan sekolah.
“Banyak yang tidak tahu ada SBC. Mereka datang karena liburan sekolah dan SBC menjadi bonus mereka,” katanya.
Namun, berbeda dengan Nicky, Best Western Premier Hotel Solo yang mendapat “panen” tamu dari SBC. Secara lokasi, hotel ini memang diuntungkan karena berada di Jalan Slamet Riyadi yang dilewati karnaval SBC.
“Tamu kami yang menginap banyak yang datang ke Solo memang karena mau menonton SBC,” kata Sales Coordinator Best Western Premier Hotel Solo Okky Rahadian Hutama.
Manajemen Penonton
Salah satu catatan panitia mengenai penyelenggaraan SBC tahun 2011 adalah manajemen penonton. Tahun lalu, penonton merangsek masuk ke Jalan Slamet Riyadi. Antusiasme penonton tak terelakan. Taman-taman seputar jalanan pun rusak.
Di penyelenggaraan 2012, panitia berusaha menyiasatinya dengan mengadakan pertunjukan di dalam Stadion R Maladi Sriwedari. Lapangan bola disulap menjadi pentas peragaan busana. Lengkap dengan catwalk berkarpet merah dan sorotan lampu.
Sayang, catwalk memang belum maksimal. Sesekali karpet copot terkena gesekan sepatu para model. Layar yang berada di belakang para model untuk memudahkan menonton pagelaran tersebut terlalu kecil untuk ukuran Stadion Sriwedari yang kecil.
Meski demikian, beberapa penonton yang rajin mengikuti SBC mengakui ide pementasan di Stadion Sriwedari merupakan terobosan yang bagus. Pihak panitia sengaja membuat pentas pertama di stadion untuk memfasilitasi para penonton yang ingin menonton secara nyaman.
“Kita jadi sudah belajar dua konsep, indoor dan outdoor. Ruangan tertutup bagus untuk pagelaran. Tinggal menambah tata cahaya,” kata Dynand.
Tentu, kenyamanan pun ada harganya. Harga tiket dijual mulai dari Rp 25.000, Rp 75.000, dan Rp 200.000. Malam itu, bangku-bangku VIP sekelas Rp 200.000 penuh terisi. Di kelas ini, penonton tak hanya bisa menikmati SBC dengan nyaman, tetapi juga mendapatkan makan malam.
Makan malam yang disajikan pun memberikan kesan tersendiri. Lauk pauk yang dihidangkan merupakan kuliner khas Solo, pun kudapannya. Uniknya lagi, di penghujung acara, penonton diberi kesempatan untuk berfoto bersama dengan peserta SBC 2012.
Alhasil, lapangan pun makin ramai dengan para penonton yang turun untuk berfoto. Apalagi, setiap peserta tampil menawan dan memiliki keunikan busana tersendiri. Tak hanya peserta dewasa, tampak pula peserta anak-anak.
Kelar pentas di dalam stadion, peserta pun melakukan kirab di jalanan. Jalan di kota Solo ibarat panggung catwalk bagi para model SBC.
Panitia bekerjasama dengan aparat setempat telah menutup hingga 25 titik ruas jalan untuk kelancaran proses karnaval. Pun telah menyediakan 24 titik parkir. Hal ini diperlukan sebab, peserta SBC akan memperagakan busananya di jalanan.
Ya, mereka harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilometer di Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stadion Sriwedari sampai Balaikota Surakarta, melewati pula Jalan Jendral Sudirman. Seperti tahun lalu, penonton kembali merangsek ke jalan.
“Memang perlu waktu belajar, penonton yan baik memberikan keleluasaan bagi peserta yang mau tampil di jalan. Tapi kalau sampai sudah merapat masuk ke jalan, penonton memang belum belajar,” ungkap Dynand.
Awal-awal penyelenggaraan Jember Fashion Carnival, lanjut Dynand, memang pernah merasakan hal yang serupa yaitu penonton yang merapat ke jalan. Namun berbeda dengan kondisi saat SBC V kemarin, para peserta masih bisa berjalan dengan nyaman.
“Kemarin itu penonton sudah masuk jalan, sangat dekat dengan peserta hingga peserta tidak dapat jalan. Padahal di belakang penonton ada ruang kosong,” ujar Dynand.
Jika dibandingkan tempat penyelenggaraan Jember Fashion Carnival, Jalan Slamet Riyadi sebagai tempat jalan peserta SBC lebih lebar. Sayangnya, tak ada pembatas yang jelas antara penonton dan peserta.
“Di Jember, sebelum peserta mulai jalan, sudah ada pagar pembatas, border line, dan border man. Orang-orang ikut menjadi pembatas. Border man kemarin di SBC itu kalah dengan bendungan massa. Border baru bergerak saat parade sudah berlangsung, bukan sebelumnya,” kata Dynand.
Namun, lanjutnya, hal-hal tersebut masih bisa diperbaiki di tahun depan penyelenggaraan SBC VI. Hanya perlu koordinasi dan pembelajaran penonton bagaimana menonton karnaval dengan baik.
Hal lain yang berkembang dari tahun 2011 adalah workshop bagi peserta SBC 2012. Sebelumnya, para peserta juga diberikan workshop mengenai pembuatan busana saat tampil nanti. Waktu workshop pun mencapai enam bulan, salah satunya adalah dengan melihat langsung pembuatan batik di sentra-sentra batik Solo, seperti Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman.
Mereka tak sekedar belajar teori, tetapi mempraktekan langsung dengan membuat pola batik hingga desain busana. Nantinya, busana itu akan mereka peragakan di SBC. Lalu setiap desain dikoordinasikan agar sesuai tema SBC 2012 “Metamorfosa”.
Konsep “Metamorfosa” dijewantahkan sebagai proses sebuah kain polos menjadi kain batik yang sudah jadi. Ada empat tahap yang dilalui selembar kain polos, mulai dari kain yang baru jadi, pemberian malam sesuai pola, pewarnaan, lalu kain batik jadi.
Ibarat kupu-kupu, selembar kain polos bisa berubah menjadi kain yang cantik. Demikian pula dengan Solo Batik Carnival. Seakan sesuai dengan tema yang diangkat, karnaval ini telah melalui empat tahun dan berkembang menjadi sebuah karnaval kebanggaan Kota Solo.

