Senin, 20 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 20 Mei 2013 | 06:02 WIB
Kuliner Sate
Semua Bicara Indonesia
Penulis : Josephus Primus | Selasa, 10 Juli 2012 | 21:00 WIB
|
Share:
Josephus PrimusSate ayam blora adalah satu dari delapan menu sate di TeSaTe.
Foto:

KOMPAS.com - Sementara Anda menyantap menu sate ayam blora di resto TeSaTe di bilangan Jalan Sam Ratulangi, Jakarta Pusat, pernak-pernik di sekitar memberi kesan bicara Indonesia. Ada pintu masuk bertuliskan aksara Jawa. Lalu, lampu-lampu bulat di atas Anda juga beraksen tulisan itu.

Bersama saudara tuanya, Satay Khas Senayan, TeSaTe mengedepankan menu sate.

Ada juga buku komik tentang wayang di situ. Termasuk, seperangkat kecil gamelan. "Kami menampilkan kesan Indonesia kontemporer," kata Marketing Manager Food Division SuryaDarma Enterprise Mochammad Reza, kemarin.

Reza yang boleh dibilang mengomandani resto di bawah naungan grup Melawai itu mengatakan, gerai di Sam Ratulangi adalah yang ketiga setelah di Mal Pacific Place (SCBD) dan Senayan City. "Sampai akhir tahun ini, kami berencana membuka satu lagi cabang di kawasan selatan Jakarta," kata Reza.

Bersama saudara tuanya, Satay Khas Senayan, TeSaTe mengedepankan menu sate. Bedanya, Satay Khas Senayan terbilang gaek lantaran sudah ada sejak 1974. Sampai kini, Satay Khas Senayan sudah memiliki 25 cabang di Jakarta.

Sementara, TeSaTe hadir sejak 2010. "Segmen TeSaTe adalah A dan A+. Sementara, Satay Khas Senayan lebih menyasar A dan B," imbuh Reza.

Reza mengaku, sasaran konsumennya dalah kalangan muda usia. Pihaknya percaya, kalangan ini juga menjadi salah satu agen perubahan sekaligus generasi penerus pelestari kebudayaan Indonesia. Tantangannya adalah membenahi penampilan gerai agar terkesan kontemporer alias tidak kuno. "Makanya, kami membuat tampilan gedung seperti ini," katanya.

Resto di Sam Ratulangi yang berlantai tiga, termasuk satu ruangan bawah tanah, memang termasuk anyar. Soalnya, gerai yang menempati sudut jalan tersebut baru diperkenalkan kepada publik pada 1 Juni lalu. "Kami mengundang warga sekitar jalan ini untuk mencicipi makanan di sini. Lumayan animonya," kata Reza lagi.

Selain sate, tersaji juga menu iga sapi bumbu paniki, nasi oncom, oseng-oseng kecipir, cendol duren, gulai pakis, hingga minuman cincau. Tak ketinggalan, hidangan camilan seperti tahu isi.

Lalu, agar lebih membuat kesan Indonesia melekat kuat, terang Reza, musik tradisional seperti gamelan jawa plus sinden (penyanyi) menjadi pengiring saat berbagai tamu menikmati hidangan di gerai yang didominasi oleh warna putih ini. "Sehabis Idul Fitri nanti, akan ada penampilan keroncong," kata Reza sedikit berpromosi.

 
Editor :
Josephus Primus