Selasa, 2 September 2014

News / Travel

Keindahan Alas Purwo

Sabtu, 14 Juli 2012 | 12:48 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com - Taman Nasional Alas Purwo terletak di ujung timur Pulau Jawa. Taman nasional ini masuk ke dalam dua kecamatan sekaligus yaitu Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo. Satu hal yang pasti, taman nasional tersebut berada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Geliat ekowisata pun terlihat di Taman Nasional Alas Purwo. Sebuah harapkan, akan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan konservasi ini, dapat membantu pemerintah daerah mengelola kawasan yang dilindungi tersebut.

Untuk mencapai kawasan seluas 43.420 hektar ini, Anda bisa memilih rute Banyuwangi kota  mengarah ke Kecamatan Muncar. Lalu melewati Kecamatan Pasar Anyar dan sampailah di Kecamatan Tegaldlimo.

Sekitar sepuluh kilometer dari Kecamatan Tegaldlimo melalui Jalan Makadam, Anda akan menemukan Pos Rawabendo. Pos ini merupakan gerbang utama Taman Nasional Alas Purwo.

Jumat

Anda bisa menuju tempat penangkaran penyu di Pantai Ngagelan sebagai permulaan akhir pekan Anda. Perjalanan dari Pos Rawa Bendo menuju Pantai Ngagelan, semacam mengurai daftar kekayaan vegetasi hutan Alas Purwo. Di kanan dan kiri jalan, tampak hutan bambu lebat, berganti dengan hutan pohon mahoni.

Berdasarkan ekosistemnya, hutan di taman nasional alas purwo dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau atau mangrove, hutan tanaman, hutan alam dan hutan penggembalaan.

Pada bulan Januari hingga September, Pantai Ngagelan menjadi tempat bertelur empat jenis penyu. Penyu Abu-abu dengan nama latin Lupidochelys olivaceae, penyu hijau atau Chelonian mydas, penyu sisik atau Eretmocheyls imbricate, dan penyu belimbing atau Dermochelys coriacea.

Di pantai berpasir putih halus nan bersih ini, terdapat penangkaran anak penyu dari empat jenis penyu tersebut. Jika Anda datang di waktu yang tepat, Anda bisa ikut serta melepaskan penyu yang berusia lima bulan ke alam bebas.

Setelah menengok generasi-generasi penerus penyu langka, Anda bisa melanjutkan tour de jungle Alas Purwo ke wilayah Bedul, tepatnya Segoro Anak Bedul Resort Grajagan. Kata Bedul, diambil dari nama ikan unik yang hidup di sekitar sungai di kawasan ini.

Di kawasan Taman Nasional Alas Purwo tepatnya sepanjang Sungai Segoro Anak Bedul dengan luas 1.200 hektar ini terdapat 26 jenis mangrove. Untuk menanam mangrove, Anda butuh perahu atau biasa disebut gondang-gandung, yang mengantar Anda ke hutan mangrove.

Plesir Anda di kawasan sungai masih berlanjut. Usai tanam mangrove, gondang-gandung membawa Anda dan wisatawan lainnya menyusuri sungai. Sesekali tampak pencari kerang di tengah sungai.

Terletak di antara zona perairan dan daratan atau istilah ekologinya daerah ecoton, kawasan ini memiliki keanekaragaman jenis fauna yang relatif tinggi, baik di daratan maupun di sungai.

Fauna daratan pada umumnya menempati bagian atas pohon mangrove seperti burung, insekta, dan primata. Sementara pada sungainya, ikan dan kerang menempati lantai hutan mangrove juga dalam sungai.

Jika Anda datang pada bulan Oktober hingga Desember, Anda akan menemukan fenomena migrasi burung-burung asal Australia ke wilayah Taman Nasional Alas Purwo. Ada sekitar 14 jenis burung migran yang biasanya wara-wiri di udara dan daratan Alas Purwo.

Namun, umumnya yang dijumpai bercengkrama di sekitaran hutan mangrove ini antara lain burung gajahan, trinil, bangau, belibis, ayam hutan, dara laut, dan pecuk ular. Mengagumkan.

Oya, kalau pandangan mata dilemparkan ke seberang anak sungai, tampak kampung nelayan Grajagan, Banyuwangi. Kapal-kapal para nelayan yang berwarna semarak dan berukuran besar bersandar di tepian pantai. Perahu-perahu tersebut, tak ubahnya karya  seni yang indah.

Sabtu

Menyaksikan banteng Jawa dan rusa berkeliaran di padang sabana, menjadi pilihan tepat di Sabtu pagi. Padang penggembalaan Sadengan adalah satu-satunya padang sabana buatan di antara sejumlah penggembalaan yang ada di taman nasional di Indonesia.

Pembuatan sabana ini lantaran sifat hutan Alas Purwo yang didominasi hutan bambu nan lebat, hutan pantai, dengan karakteristik yang berukuran tinggi besar. Demi fungsi pengamatan satwa, dibuatlah sabana dengan rerumputan nan segar.

Tak perlu khawatir mencari tempat untuk bermalam. Di daerah Grajagan terdapat kawasan resor yang bisa Anda singgahi.  Salah satu yang menarik adalah Joyo’s Surf Camp karena di sini adalah tempat berkumpulnya para surfer dunia.

Bolehlah Ada berbangga hati sebagai warga Indonesia. Karena surfing di Grajagan atau populer disebut G-land adalah spot terbaik dengan ombak tinggi dan menantang setelah Hawaii.

Pada musim ombak tinggi antara bulan Juli hingga Oktober, resor ini nyaris tak pernah sepi surfer asing. Belakangan, para surfer juga tertarik dengan geowisata hutan Alas Purwo. Sehingga mereka bisa datang kapan pun, tanpa terpengaruh musim ombak terbaik.

Hal yang menyenangkan dari resor ini adalah tak ada hari tanpa pesta. Maksudnya, barbeque malam-malam di tepi Pantai Plengkung. Wonderful!

Minggu

Nama Alas Purwo diyakini memiliki arti hutan pertama atau hutan tertua di Pulau Jawa. Apalagi ditunjang dengan kondisi alam hutan yang memang memiliki sejumlah situs-situs dengan keunikan alam dan dianggap keramat.

Anda bisa mencoba menyusuri hutan Alas Purwo yang memang memiliki kesan magis. Namun secara kasat mata, Taman Nasional Alas Purwo bisa menjadi pilihan wisata yang lengkap bagi para penyuka jalan-jalan, menjelajah hutan nan asri, mengamati tetumbuhan nan kaya jenis maupun bentuknya.

Tak hanya itu, Anda pun bisa menikmati wisata pantai yang menakjubkan, berselancar dan juga wisata ziarah atau wisata budaya. Belum lagi mengenali budaya, bisa menambah kekayaan pribadi loh, maksudnya kaya akan pengetahuan mengenai kehidupan beraneka ragam suku bangsa di indonesia ini.

Ada sekitar 40 gua di kawasan Alas Purwo ini dan salah satu yang bisa Anda kunjungi adalah Gua Istana. Dari posko pancur tempat Anda meminta izin untuk mengunjungi Gua Istana, Anda harus berjalan kaki sekitar satu jam untuk menyusuri hutan bambu.

Perjalanan Anda memang sedikit akan terhalang ranting ataupun bambu yang roboh. Jadi berhati-hatilah dan gunakan pakaian ataupun alas kaki yang nyaman. Bagi sebagian pengunjung Gua Istana ini digunakan sebagai tempat untuk bersemedi, berdoa, atau lelono.

Dan, mengakhiri akhir pekan Anda di Taman Nasional Alas Purwo, cobalah untuk beranjak ke Pantai Pancur, pantai dengan pasir berbutir kasar atau pasir gotri dan pecahan karang hitam.

Tersembuyi dari keramaian, berada di tengah sunyinya hutan, yang terdengar hanya kicauan burung dan gemerisik gesekan ranting pohon yang tertiup angin. Sebuah pantai yang merupakan nilai tambah bagi para pencari kedamaian di hutan Alas Purwo. (Fitri Oktarini/Citrakalam Misiani/Desima Aritonang)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: