Rabu, 23 April 2014

News / Travel

Royal Ambarrukmo Tampilkan Kesenian Cokekan

Jumat, 20 Juli 2012 | 16:03 WIB

Baca juga

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kesenian Jawa yang benama cokekan sudah diambang kepunahan. Pada era tahun 1960  sampai dengan  tahun 1970-an masih menjadi favorit masyarakat Indonesia. Musik cokekan dahulu banyak didengar sebagai kesenian tradisional yang dibawakan oleh pengamen pengamen  di pasar tradisional.

Kesenian cokekan yaitu sekelompok susunan alat bunyi-bunyian karawitan tradisional Indonesia yang terdiri dari rincikan tertentu antara lain: gender barung, siter, ditambah kendang dan gong,  yang personelnya terdiri dari dua orang penabuh instrument musik dan seorang pesinden.  Tetapi adakalanya hanya terdiri dua orang yakni pesinden yang juga memainkan kecapi.

Instrumen musiknya terdiri dari gendang, gong yang terbuat dari bambu dan satu unit kecapi. Lagu-lagu atau gending yang dibawakan terdiri dari gending-gending yang sedang populer pada masa itu. Peralatan instrumennya pun masih sangat sederhana karena  belum ada yang  menggunakan sound system seperti para pengamen masa kini, namun demikian tidak mengurangi kenikmatan bagi para pendengarnya.

Pelaku seni cokekan saat ini bisa dihitung dengan jari tangan, mereka berkarya seni sebetulnya bukan karena hanya telah memiliki dan mencintai seni cokekan akan tetapi juga karena tuntutan ekonomi agar supaya asap dapurnya tetap ngebul.

Untuk melestarikan seni cokekan, Royal Ambabrrukmo bekerja sama dengan Sanggar Dhalang Panuntun, Bantul dan juga didukung oleh BPD PHRI Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan pergelaran seni cokekan di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo, Rabu (18/7/2012) mulai jam 16.30 sampai 18.30 WIB.

"Tujuan dari penyelenggaraan acara tersebut untuk melestarikan seni musik cokekan dan memperkenalkan kembali kepada masyarakat luas mengenai seni musik cokekan. Kami menghadirkan cokekan di hotel, selain sebagai salah satu hiburan untuk para tamu hotel, juga untuk ikut mempromosikan dan melestarikan seni cokekan yang hampir punah," ungkap L Sudarsana, General Manager Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Sudarsana sangat antusias sekali dengan semua kegiatan yang mengangkat kebudayaan tradisional. Sebelumnya di Pendopo  Agung pernah digelar kegiatan belajar bahasa Jawa, komunitas suling bambu, dolanan anak, theater perempuan, belajar tari klasik, belajar macapatan, jemparingan, dan lain sebagainya.

Bahkan belum lama ini, suling bambu juga telah mengadakan pergelaran di Pendopo Agung. "Royal Ambarrukmo akan memaksimalkan semua kegiatan atau aktivitas yang berbau tradisional di Pendopo Agung dan menghidupkan lagi kegiatan yang dulu pernah ada agar dapat kembali dinikmati masyarakat luas," tambah Sudarsana. (*)


Editor : I Made Asdhiana