JAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah daya tarik wisata yang berada di tengah masyarakat setempat menjadi sangat penting. Sebab, dukungan yang diberikan oleh masyarakat dapat meningkatkan berbagai aspek, baik sosial, budaya, maupun ekonomi masyarakat.
Seperti salah satu kriteria penilaian yang ditetapkan oleh Cipta Award 2012, yaitu melihat bagaimana peran masyarakat terhadap daya tarik wisata setempat. Menurut Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenpar dan EK), Firmansyah Rahim, Ciptra Award 2012 bukan sekadar kompetisi, melainkan juga peningkatan pengelolaan daya tarik wisata.
"Peningkatan pengelolaan daya tarik wisata dilihat dari berbagai aspek yang menjadi penilaian dalam kegiatan ini, yaitu aspek lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi," ungkapnya saat jumpa pers Anugerah Cipta Award di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (25/7/2012).
Sementara itu, Kasubdit Pengembangan Daya Tarik Wilayah IV Kemenpar dan EK, Eiffy Effendy, mengungkapkan, peran serta masyarakat setempat terhadap sebuah daya tarik wisata menjadi salah satu aspek dominan.
"Apakah masyarakat ikut mendukung kemajuan daya tarik wisata tersebut atau justru malah terjadi konflik dengan masyarakat setempat akibat keberadaan daya tarik wisata,” jelasnya.
Citra Pesona Wisata atau Cipta Award 2012 sendiri merupakan ajang penganugerahan kepada pengelola daya tarik wisata. Ajang ini menjadi salah satu wujud apresiasi pemerintah untuk mendorong pengelola wisata dalam meningkatkan kualitas pengelolaan daya tarik wisata. Tahun ini, Cipta Award memasuki tahun ketiga dengan jumlah peserta terdiri dari 144 daya tarik wisata dari 25 provinsi di Indonesia.
Junus Satrio Atmodjo, salah satu Dewan Juri Cipta Award 2012, mengungkapkan bahwa dalam penghargaan Cipta Award, pengembangan tempat wisata setiap tahun merupakan hal terpenting.
"Pengembangan yang dilakukan oleh tempat wisata dari tahun ke tahun, apakah mengalami perbaikan atau sama dengan tahun sebelumnya," kata Junus.
Selain itu, Eiffy menambahkan, indikator lain dalam penilaian adalah daya tarik wisata harus diusulkan oleh Dinas Pariwisata setempat. Hal ini agar Dinas Pariwisata Provinsi setempat memiliki pengawasan kepada daya tarik wisata tersebut. Dengan demikian, lanjutnya, mereka melakukan seleksi sebelum daya tarik tersebut menjadi nomine.
"Dengan demikian, daya tarik wisata tersebut merasa 'dianggap’ oleh pemerintah daerah setempat, tidak seperti dianaktirikan,” jelas Eiffy.
Ajang tersebut, tambah Eiffy, juga merupakan salah satu sarana pembinaan kepada daya tarik wisata. Menurut dia, pihak juri tidak sekadar menilai, tetapi juga memberikan masukan kepadat daya tarik wisata tersebut.
"Tidak hanya menilai, tetapi juga memberikan masukan-masukan kepada daya tarik wisata bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan, namun tetap memperhatikan aspek-aspek lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi," jelasnya.
Eiffy menjelaskan, tidak semua provinsi di Indonesia mengikuti kegiatan ini. Sebab, terdapat beberapa pemerintah daerah yang kurang tanggap dengan adanya kegiatan tersebut. Hal ini disebabkan oleh berbagai kendala.
Misalnya, lanjut Eiffy, ada daerah yang tidak mempunyai dana untuk meningkatkan pelayanan daya tarik wisata. Ada pula daya tarik wisata yang ingin diikutsertakan dalam kegiatan ini, tetapi kurang didukung oleh pemerintah setempat.
Penghargaan Cipta Award 2012 akan merebut sembilan piala yang terbagi menjadi tiga jenis daya tarik wisata, yaitu alam, budaya, dan buatan. Setiap jenis dibagi menjadi tiga kategori, yaitu daya tarik wisata yang dikelola oleh pemerintah, BUMN atau Swasta, dan masyarakat.
Kegiatan penilaian terhadap nominasi daya tarik wisata akan dilakukan hingga 10 September 2012. Adapun pelaksanaan Penganugerahan Cipta Award akan dilaksanakan pada 27 September, bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia.