Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Mei 2013 | 21:32 WIB
Tips Menghadapi Pengemis Saat Melancong
Penulis : Fitri Prawitasari | Ni Luh Made Pertiwi F | Selasa, 31 Juli 2012 | 10:20 WIB
Dibaca:
|
Share:
KOMPAS/HERU SRI KUMORO Wisatawan asing menyusuri jalan sembari menikmati kapal dan aktivitas buruh bongkar muat barang di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Jumat (20/7/2012). Pemerintah optimistis target 8 juta wisatawan asing berkunjung ke Indonesia optimistis dicapai. Selain mengandalkan tempat wisata konvensional seperti pantai, candi, museum, dan atraksi budaya, maraknya konser artis luar negeri juga mendorong kedatangan turis asing.

KOMPAS.com – Freddy (31) selalu ingat saat perjalanan wisatanya ke Saigon, Kamboja. Saat asyik makan, ia dan bersama teman didatangi seorang ibu. Awalnya, Freddy tidak paham dengan maksud si ibu. Apalagi si ibu tak bisa berbicara bahasa Inggris. Ternyata, si ibu minta uang ke Freddy.

“Dia pengemis. Ya, akhirnya menolak kasih dengan isyarat pakai tangan saja. Lalu dia pindah ke meja sebelah,” cerita Freddy.

Wisata ke negara-negara berkembang, sama halnya melancong ke berbagai daerah di Indonesia, anak jalanan dan pengemis menjadi pemandangan umum. Wisatawan pun kerap terganggu dengan pengemis. Apalagi pengemis yang meminta dengan cara memaksa.

Di negara-negara seperti India, Kamboja, Vietnam, Filipina, termasuk Indonesia, pengemis usia anak-anak pun mudah ditemukan. Seringkali para pengemis ini masuk dalam sindikat pengemis.

Beberapa pengemis juga menerapkan pola meminta dengan memaksa ataupun mengancam. Kejadian serupa bisa Anda temukan pula di negara-negara berkembang lainnya, tak hanya di Indonesia.

Sebaiknya, Anda tidak memberikan uang kepada pengemis. Jika memang ingin membantu, salurkan bantuan Anda di yayasan atau organisasi yang fokus memberikan bantuan kepada anak-anak jalanan.

Jangan mengusir. Jika berhadapan dengan pengemis dan pengamen, janganlah mengusir ataupun bertingkah kasar. Tetaplah jaga kesantunan. Cukup menolak dengan menggelengkan kepala dan mengangkat telapak tangan ke arahnya sebagai tanda menolak.

Jika tetap memaksa, tolak secara konsisten namun tak kasar. Cukup katakan "maaf" atau "tidak" dengan nada tegas.

Memberi makan. Memberi pengemis barang boleh-boleh saja. Apalagi kalau pengemis anak-anak, lebih baik memberikan barang daripada uang. Sebab, banyak pengemis anak-anak yang merupakan bagian dari sindikat.

Uang yang mereka terima pada akhirnya untuk orang tua atau ketua sindikat. Barang yang diberikan bisa berupa kaus atau payung jika mereka mengemis saat kehujanan.

Namun tetap lihat-lihat situasi, karena kadang si anak pun bisa kena omelan jika menerima barang dan bukannya mendapatkan uang. Kalaupun Anda mau memberikan makanan, pastikanlah itu bukan sisa. Pesankan makanan yang baru buat pengemis tersebut.

Pedagang bukan pengemis. Tak hanya pengemis, kadang kala penjual suvenir maupun makanan menjual dagangannya dengan sikap agresif. Pedagang usia anak-anak seringkali menjual dengan memaksa sampai wisatawan tidak tega.

Saya pernah melihat turis domestik saat melancong ke daerah di Nusa Tenggara yang memberikan begitu saja uang ke anak-anak yang menjajakan suvenir. Ia sendiri tidak mengambil barang dagangan yang dibeli karena menganggap tidak memerlukan barang tersebut.

Bisa ditebak, si anak pun kegirangan karena mendapatkan uang tetapi barang dagangan masih utuh dan bisa dijual ke orang lain. Di lain kesempatan, kejadian serupa kembali saya temukan saat berkunjung ke sebuah daerah di Pulau Sumatera.

Bedanya, si anak menolak uang pemberian turis. Ia memaksa si turis harus mengambil barang dagangannya. Sebab, jika ia mengambil uang tetapi pembeli tidak mengambil barang yang dibelinya, itu berarti dirinya adalah pengemis. Ia tak mau disamakan dengan pengemis.

Jika Anda menemukan kasus seperti ini, belilah dagangan yang mereka jajakan. Jangan memberikan uang secara cuma-cuma karena hal ini hanya akan mengajarkan mereka untuk bersikap menjadi pengemis. 

Editor :
I Made Asdhiana