Senin, 24 November 2014

News / Travel

Berani Coba Sate Keong?

Rabu, 1 Agustus 2012 | 08:16 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com - Menyantap daging ayam, ikan, atau sapi sudah biasa. Tetapi sesekali cicipi kelezatan daging keong nan kenyal untuk berbuka puasa. Berani coba?

Keong sawah ternyata sangat nikmat bila dijadikan lauk makan atau hanya sekedar camilan. Kecuali Anda orang Sunda, nama sate tutut mungkin agak aneh terdengar di telinga.

Kata "tutut" berasal dari Bahasa Sunda yang berarti keong sawah. Belakangan, sate tutut menjadi kudapan favorit yang banyak dicari oleh sebagian masyarakat Jakarta. Warung-warung pinggir jalan yang menjual sate tutut mulai bermunculan di Jakarta.

Salah adalah satunya Sate Toetoet Ibu Sumartini. Warung ini berlokasi di pinggir Jembatan Tol Jagorawi, Cililitan, Jakarta Timur. Pemiliknya sepasang suami-istri bernama Hironimus dan Suhartini.

"Sate ini namanya sate toetoet untuk membedakan dengan yang lain," ungkap Hironimus.

Sesuai namanya, sate tutut menggunakan bahan utama keong sawah yang diolah. Keong sawah didapat dari para produsen dari berbagai daerah seperti Cirebon, Depok, dan daerah lain.

"Yang kami pilih keong kualitas terbaik, dari macam-macam daerah Cirebon, Depok, banyak lah," katanya.

Dalam pembuatan sate, sebelumnya keong dipilih yang besar-besar. Kemudian keong dicuci dengan cara direndam. Kemudian, daging dicungkil dari cangkangnya. Baru setelah itu, daging ditumis. Satu tusuk sate, terdiri dari lima sampai enam daging keong.

Selain sate, ada juga sup tutut. Bahannya tidak berbeda dengan sate, yaitu keong sawah namun dipilih yang kecil-kecil. Keong dicuci bersih kemudian direbus dengan berbagai bumbu seperti kunyit, lengkuas, dan daun sereh.

Salah satu trik Hironimus dalam mengolah keong adalah dengan merendamnya menggunakan air beras. Ia lakukan hal tersebut untuk menghilangkan rasa amis dan kotoran-kotoran yang menempel di keong.

"Kami juga tidak pakai mecin, jadi semuanya alami dari bumbu rempah," tambah Suhartini.

Rasa sup yang sangat segar berasal dari rempah-rempah yang menjadi bumbunya. Rasa keong atau tutut sangat nikmat dan kenyal, tambahan bumbu yang menyatu dengan daging.

Saat menikmati sate maupun sup, makin mantap jika dilengkapi dengan sambal kacang yang diberi sedikit perasan jeruk nipis dan kecap. Selain nikmat, tutut juga dipercaya memiliki khasiat lain yaitu sebagai obat liver, maag, dan hepatitis B.

Hironimus mengaku beberapa waktu lalu dirinya menderita penyakit liver akut, bahkan hampir meninggal. Namun, setelah rutin mengonsumsi sup keong, lama kelamaan sakitnya membaik.

Layaknya pedagang pinggir jalan, jangan kaget saat melihat warung Sate Toetoet Suhartini ini.  Ia menjadikan bagasi mobil sebagai warung sate, pengunjung yang datang dapat menyantap sate dengan lesehan di trotoar jalan.

"Saya sengaja buat seperti ini agar unik, jadi orang lewat bisa langsung lihat, penasaran dan beli," kata Hironimus.

Harga untuk satu porsi sate sangat murah yaitu Rp 10.000 berisi sepuluh tusuk sate. Bisa juga sate dibeli per tusuk dengan harga Rp 1.000. Sedangkan untuk sup, harganya yaitu Rp 3.000 per mangkuk. Jika ingin dibungkus dan dibawa pulang, sebungkusnya seharga Rp 5.000.

Jika Anda penasaran ingin mencicipi Sate Toetoet ini, Anda harus datang lebih awal. Selama  bulan Ramadahan, Hironimus membuka warung satenya mulai pukul 16.30. Sate maupun sup langsung habis diserbu pembeli dalam waktu beberapa jam.

"Kebanyakan pembeli yang datang sebelum magrib, mungkin dibuat makanan berbuka buat mereka, dan juga setelah pulang shalat tarawih, banyak yang pada mampir ke sini," tuturnya.

Sejak pertama kali dibuka satu bulan lalu, Warung Sate Toetoet selalu ramai pembeli. Pembeli yang tahu kelezatan sate dan sup buatannya selalu datang lagi dan lagi.

Seperti Hendra, salah satu pembeli yang ditemui Kompas.com. Menurut Hendra, ia merupakan salah satu pelanggan yang sering mengunjungi warung sate ini karena murah dan rasanya yang lezat.

"Rasa tututnya kenyal dan harganya juga terjangkau. Saya sering ke sini, kemarin juga saya habis dari sini," katanya. 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Fitri Prawitasari
Editor : I Made Asdhiana