Rabu, 16 April 2014

News / Travel

Kamoro dan Pesan Kultural "Maramowe"

Rabu, 1 Agustus 2012 | 15:10 WIB

Baca juga

Mata Thimotius Samin Tayareyau (62) berbinar-binar saat memasuki halaman Bentara Budaya Jakarta, Senin (30/7/2012) malam. Penerbangan Timika-Jakarta yang baru saja ditempuhnya selama 7 jam sama sekali tak membersitkan tanda-tanda kelelahan pada wajahnya.

Selama enam hari, mulai Selasa (31/7/2012) hingga Minggu (5/8/2012), Thimotius bersama tujuh pengukir lainnya dari suku Kamoro memamerkan karya-karyanya di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). ”Ini kesempatan untuk lebih mengenalkan Kamoro, salah satu suku asli Papua,” ujar tokoh masyarakat suku Kamoro ini.

Sebelumnya, acara serupa bertajuk ”Pekan Ragam Papua: Orang Kamoro” telah digelar di Bentara Budaya Bali, sejak 22 Juni hingga 1 Juli lalu. Acara ini diprakarsai Papua Center FISIP Universitas Indonesia yang didukung PT Freeport Indonesia.

Tujuh pengukir yang menyertai Thimotius merupakan generasi muda berusia rata-rata 30 tahun. Mereka adalah sedikit pria muda Kamoro yang tertarik menekuni seni ukir.

”Saya yakin seni ukiran Kamoro berkembang di tangan anak-anak muda ini,” ujarnya. Mereka adalah Herman Kiripi, Yohanis Awakeyau, Anaklitus Teko, Yosef Ukapoka, Sabinus Kaokayahe, Polikarpus Athaapoka, dan Yakobus Erepa.

Para pengukir yang lazim disebut maramowe itu adalah mitra binaan Kal Muller, ahli linguistik asal Amerika Serikat yang selama 17 tahun terakhir giat mengembangkan seni ukir Kamoro.

Kecakapan mengukir mereka warisi secara turun-temurun. Lewat seni ukir mereka mengekspresikan dinamika orang-orang Kamoro yang lekat dengan alam: sungai, pantai, mangrove, dan hutan tropis.

Para maramowe muda itu tak hanya piawai mematrikan mata pahat ke batang kayu. Mereka juga mahir menyanyi dan menari, seperti yang diperagakan dalam acara pembukaan pameran, Selasa petang.

Uniknya, tabuhan tifa bisa mereka selaraskan dengan tabuhan gong, alat musik dari logam, yang sesungguhnya tidak lazim bagi masyarakat Papua.

Mathea Mamoyau (48), aktivis perempuan Kamoro mengatakan, acara ini jangan hanya dimaknai dengan fisik karya ukiran, tetapi juga menyangkut kebudayaan Kamoro secara lebih luas. Kemampuan mengadopsi gong adalah cerminan betapa Kamoro terbuka dan memahami kemajemukan. ”Sekarang orang luar Papua juga harus lebih memahami Papua,” katanya.

Hal itu sejalan dengan ungkapan Direktur Eksekutif Papua Center FISIP UI Bambang Shergi Laksmono bahwa Kamoro—dan lebih dari 250 suku lainnya di Papua—hendaknya menjadi bagian dari gerbang perubahan. Namun, tentu saja perubahan dan pembangunan itu tidak lepas dari akar budaya lokal. Penekanan senada diungkapkan Meutia Hatta, antropolog UI yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya mengapresiasi kegiatan ini sebagai upaya membangun pemahaman terhadap Papua sebagai bagian dari Nusantara.

Kini, soal seni ukir Papua, Kamoro mampu tampil mengimbangi pamor Asmat. (NAR)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: