Selasa, 21 Oktober 2014

News / Travel

Telaga Warna, Harmoni nan Jelita

Rabu, 22 Agustus 2012 | 08:30 WIB

LEMBAYUNG senja mulai beradu dengan cahaya rembulan hingga memantulkan semburat jingga, hijau, dan biru pada muka air Telaga Warna, sebuah danau sunyi di sudut Dataran Tinggi Dieng. Kicau burung liar yang terbang di sela-sela rimbun hutan di sekelilingnya seolah melayangkan imaji akan harmoni damai alam nirwana di sana.

Jelitanya Telaga Warna, sebuah danau di dataran setinggi 2.093 meter dari permukaan laut ini, telah lama mengundang penasaran turis lokal hingga mancanegara. Berada di wilayah administratif Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Anda dijamin tak akan menyesal mengunjunginya.

Seperti namanya, keunikan telaga ini adalah dapat memantulkan warna air secara bergantian. Terkadang menjadi berwarna hijau dan kuning, biru dan kuning, atau berwarna-warni mirip pelangi. Variasi warna ini dipengaruhi cuaca, waktu, dan tempat melihatnya.

Beragam pandangan coba menguak misteri di balik perubahan warna telaga. Satu legenda yang berkembang di warga Dieng, pada suatu ketika ada cincin milik bangsawan setempat yang bertuah tetapi terjatuh ke dasar telaga. Cahaya dari cincin ini yang konon memendar dari dasar telaga.

Adapun dari kajian ilmiah, jutaan tahun lalu Telaga Warna merupakan kawah gunung berapi yang mengandung belerang. Kandungan sulfur yang tinggi dan ganggang merah di dasar telaga menyebabkan pembiasan warna-warna indah kala air telaga terkena sinar matahari.

Tak jauh dari Telaga Warna, ada telaga yang berukuran lebih kecil bernama Telaga Pengilon. Airnya yang jernih seperti cermin (pengilon) itulah yang membuat penduduk memberi nama itu. Mitos penduduk, danau ini bisa untuk mengetahui isi hati manusia. Bila ia terlihat cantik atau tampan ketika memandang air telaga itu, hatinya baik.

Matahari kembar

Terlepas dari segala legenda dan mitosnya, kecantikan dua telaga itu tak terbantahkan, termasuk saat Kompas berkunjung akhir Juni lalu. Masuk melalui pintu gerbang utama, Anda disambut jalan setapak dengan hutan rimbun di kanan kiri. Berujung di sebuah pertigaan, Telaga Warna terhampar di depan mata. Air kehijauan di dalamnya terlihat tenang, tak beriak sedikit pun.

Jika ingin menuju Telaga Pengilon, ambil jalan yang bercabang ke kanan hingga sampai di hamparan padang rumput luas. Hamparan rumput yang mungkin mengingatkan kita pada lanskap film Little House on the Prairie yang pernah diputar di televisi nasional pada era 1990-an. Nah, Telaga Pengilon berada di balik hamparan rumput tadi.

Mengelilingi kedua telaga ini di beberapa tempat tampak permukaan telaga yang menggelegak dan mengeluarkan gelembung-gelembung kecil. Fenomena ini terjadi akibat kandungan sulfur di dalam air.

Bagi pencinta fotografi, Anda dapat menemukan obyek indah dengan tambahan sedikit keringat. Di pintu belakang telaga terdapat sebuah jalan setapak menanjak ke arah salah satu bukit yang memagari telaga bernama Bukit Cikunir. Jalan tanah ini sangat sempit, hanya cukup untuk dilewati satu orang. Tanjakannya memang tidak begitu terjal, tetapi cukup licin mengingat kawasan Dieng sering dilanda hujan.

Beberapa ratus meter mendaki, Anda akan sampai di puncak bukit dengan pemandangan yang akan membuat siapa saja terpesona. Saat mata memandang ke bawah, Telaga Warna terhampar indah dikelilingi gunung dan bukit berhutan lebat. Air di pinggir telaga berwarna ungu cantik bergradasi dengan warna hijau di tengah dan hijau pucat di pusat telaga. Di ujung lain, hamparan padang rumput memisahkannya dengan Telaga Pengilon.

Memandang lurus ke depan, barisan perbukitan dari Gunung Prau dan Gunung Pakuwaja berderet memutar. Di kejauhan tampak gunung kembar Sumbing-Sindoro yang terkadang berselimut kabut tipis seperti lapisan kapas.

Sedikit tips bagi yang ingin menikmati keindahan lanskap secara sempurna. Sebaiknya mendaki puncak Bukit Cikunir sekitar pukul 05.00. Bahkan, jika cuaca cerah, matahari terbit dari ujung cakrawala bisa terlihat seperti matahari kembar akibat bayangannya terpantul di atas Telaga Pengilon yang sangat bening.

Yang baru sampai di telaga ini pada sore hari tak perlu berkecil hati. Menikmati keindahan danau kala senja sembari mencicipi jagung bakar hangat bersama keluarga dan orang-orang tercinta sungguh tak kalah berkesan.

Tiga goa

Untuk mencapai Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng, wisatawan dari Jakarta dapat menempuh perjalanan dengan pesawat melalui Yogyakarta atau Semarang. Sesampainya di kedua kota tadi, Anda dapat naik angkutan darat tujuan Wonosobo. Dari Wonosobo telah tersedia mikrobus khusus bagi wisatawan menuju Dieng.

Jika menempuh perjalanan darat, wisatawan dari Jakarta dapat melintasi jalur tengah melalui Bandung-Purwokerto-Wonosobo-Dieng atau melalui jalur utara Cirebon-Tegal-Purwokerto-Wonosobo.

Jangan khawatir kemalaman di Dieng. Saat ini, sekitar 46 homestay sederhana dilengkapi fasilitas air panas dapat dipilih sebagai tempat istirahat bersama keluarga. Losmen-losmen ini berada sangat dekat dengan kompleks Telaga Warna. Telaga ini juga hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari kompleks Candi Arjuna yang menjadi pusat magnet wisata di dataran tinggi yang terletak di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara tersebut.

Selain danau, ada juga tiga goa, batu belik, dan batu tulis di kompleks wisata Telaga Warna. Ketiga goa tersebut adalah Goa Semar, Goa Sumur, dan Goa Jaran. Banyak orang bersemadi di Goa Semar dengan tujuan menginginkan keselamatan. Di antaranya, banyak yang berstatus pejabat di negeri ini.

Tak jauh dari Goa Semar terdapat Goa Sumur dengan arca wanita membawa kendi di depan mulut goa. Goa ini memiliki semacam kolam kecil yang airnya konon bertuah. Banyak yang percaya bahwa air di goa ini bisa menyembuhkan sejumlah penyakit dan membuat kulit jadi lebih bagus. Umat Hindu menggunakan air dari sini untuk upacara Muspa atau Mebakti. Sementara Goa Jaran dipercaya warga setempat untuk semadi para wanita yang sulit mendapatkan keturunan.

Akhirnya, kala malam menjelang dan hawa dingin kian menyergap, tepat waktunya mencari makanan hangat selepas lelah menikmati semua obyek wisata di kompleks Telaga Warna. Menyantap mi ongklok khas Wonosobo sambil menyeruput minuman khas purwaceng niscaya menghangatkan raga. Jangan lupa, konon purwaceng berkhasiat menambah daya tahan tubuh dan stamina bagi kaum pria. Hmm... siapa tak tertarik. (Gregorius Magnus Finesso)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: