Minggu, 23 November 2014

News / Travel

Kisah Sedih WNI di Perantauan...

Sabtu, 8 September 2012 | 07:15 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com - Inilah kisah sedih yang kerap menimpa beberapa warga negara Indonesia di luar negeri. Terlantar tanpa tahu kemana bisa mendapatkan bantuan, menghilang tanpa kabar, hingga sanak keluarganya tak bisa lagi menghubunginya.

Dan yang sangat menyedihkan adalah, berita terakhir yang saya dapat, dimana seorang wanita Indonesia menemui ajalnya di Perancis, tanpa satu pun keluarga di Indonesia yang mengetahuinya. Wanita tersebut tak melaporkan soal keberadaannya di negara asing yang kini ditinggali karena tak tahu, malas hingga merasa tak butuh.

Padahal, justru itulah langkah awal yang sebaiknya dilakukan bagi warga Indonesia saat berpergian ke suatu negara untuk jangka waktu lebih dari tiga minggu hingga mereka yang akan menetap di suatu negara, untuk alasan sekolah, pekerjaan dan menikah.

Sebenarnya, Kedutaan Indonesia maupun Konsulat Jenderal Indonesia yang  berada di suatu negara sebagai perwakilan pemerintah kita sering mengadakan acara sosialiasi. Istilahnya, temu muka secara langsung dengan warga Indonesia yang berada di negara asing.

Saya yang berada di Montpellier, urusan segala macam administrasi dipegang oleh KJRI. Mereka yang berada di daerah di ibukota dan wilayah sekitarnya, dipegang oleh KBRI.

Mengapa lapor diri itu hukumnya wajib? Karena, dengan kita melaporkan keberadaan diri di negara asing, otomatis status kita tercatat sebagai warga Indonesia yang saat ini sedang bermukim negara setempat. Dan mereka yang misalnya datang untuk pertukaran pelajar, magang kerja, hingga liburan yang memakan waktu lebih dari tiga minggu pun akan dapat diketahui oleh pihak kedutaan atau konsulat, keberadaan kita di negara setempat.

Memang masih banyak yang berpikir, mungkin cukup dengan hanya datang ke wakil pemerintahan Indonesia, saat akan perpanjang paspor saja, dalam arti, kalau bukan urusan penting, tak terlintas untuk melaporkan diri. Bahkan ada yang beberapa kali datang ikut acara nasional yang diadakan KJRI karena mendengar berita tersebut dari teman, namun masih juga tak terpikir untuk memberikan informasi mengenai keberadaannya di negara tersebut.

Beberapa bulan yang lalu, dari FB-lah saya mendengar kabar miris, sangat menyedihkan. Kepergian seorang wanita Indonesia untuk selamanya setelah melahirkan. Tentu saja wafatnya wanita ini saja sudah merupakan kabar duka, namun dibelakang kepedihan itulah yang paling membuat saya, sampai mengelus dada.

Karena wanita Indonesia itu ternyata sudah sekitar enam tahun berada di Perancis, hanya dia tak pernah sekali pun melaporkan keberadaannya di negara ini. Hingga selama jangka waktu lama itu, baik pihak wakil pemerintah Indonesia di Perancis, maupun sanak keluarganya tak ada yang tahu jika wanita tersebut berada di Perancis.

Mungkin pembaca langsung menilai jika itu adalah kesalahan dari wanita tersebut. Memang, ada cerita lain dibalik kepedihan yang dialami wanita itu. Wanita tersebut ternyata selama di Perancis ini berstatus ilegal. Pasangannya yang membawanya ke Perancis tak mau memberikan laporan tentang keberadaan wanita (pacarnya) itu. Hingga saat wanita tersebut menutup mata abadi, keluarganya di Indonesia baru mengetahui jika anak mereka selama bertahun-tahun, merantau di luar negeri dan menghilang telah telah menjadi jenazah.

Dan yang jadi masalah, status ilegal wanita itulah yang membuat masalah besar bagi keluarga di tanah air, saat hendak, datang ke Perancis untuk menguburkan anak mereka, dan sekaligus cucunya yang hanya bertahan hidup beberapa hari saja, menyusul kepergian sang ibu.

Bagi saya, jika melihat lebih dalam, kegetiran ini sebenarnya bisa saja dihindari. Karena pasangannya yang tak mau melaporkan keberadaan wanita Indonesia itu di Perancis, mungkin memberikan informasi pincang dan kelam kepada wanita malang tersebut. Hingga sang wanita pun sampai tak berani memberikan kabar kepada siapa pun, jika dirinya berada di Perancis tanpa status jelas.

Kejadian tragis ini bisa dihindari dengan bantuan beberapa temannya yang katanya mengetahui kesulitan wanita Indonesia tersebut, dengan memberikan informasi kepada KBRI atau KJRI setempat.

Nah, mungkin disinilah yang kerap terjadi kesalahpahaman. Banyak memang beberapa orang yang langsung berpikir ke arah deportasi jika ketahuan selama ini tinggal dengan status gelap, saat nantinya melapor ke KBRI atau ke KJRI. Tak disangkal, dulu memang pernah terjadi kejadian ini, yakni pemulangan ke Indonesia, karena datang tanpa izin legal.

Namun, saat ini, tak lagi seperti itu. Dalam acara sosialisasi yang diadakan oleh KJRI di bulan Juli lalu, yang kali itu berlangsung di kota Perpignan, Perancis Selatan, di sinilah, diterangkan banyak sekali informasi mengenai status kita sebagai WNI yang berada di luar negeri.

Seperti jika terjadi kesulitan dari mulai masalah administrasi hingga rumah tangga. Bahkan, informasi penting lainnya yang memudahkan kita sebagai warga indonesia di negara asing.

Tentu saja kasus, meninggalnya wanita Indonesia itu saya bicarakan dan meminta jalan keluar seandainya kasus serupa terjadi, dimana adanya WNI yang dibawa, lalu ditelantarkan atau tak dilaporkan keberadaannya oleh pasangan mereka, apakah jalan yang harus diambil?

Rupanya, kasus seperti yang saya lontarkan di acara tersebut bukan untuk yang pertama kalinya. Hanya selama ini tak sampai berakhir kepada cerita tragis. Karena para pihak KBRI dan KJRI, di masa ini, sudah dapat berdiplomasi dengan mesra dengan negara setempat.

Hingga, istilahnya main deportasi bisa dihindari, jika memang masih ada jalan keluar yang terbaik. Bantuan, dari mulai penyelesaian dengan orang yang membawanya, hingga antara Indonesia dengan pihak pemerintah setempat, selalu diusahakan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Namun, memang jalan keluar positif itu bisa diraih jika kita warga Indonesia sendiri yang mau turut berpartisipasi. Saling membantu. Misalnya kasus sedih yang saya utarakan itu bisa saja dihindari seandainya ada salah satu dari kenalannya yang memberikan kabar kepada pihak wakil pemerintahan Indonesia.

Bukan bermaksud untuk mengadu, tentunya. Karena KJRI sendiri menyatakan bukan hak mereka untuk menghakimi, namun mencari jalan keluar yang terbaik.

Pernah kejadian ditelantarkannya wanita Indonesia di Perancis juga terjadi. Untungnya, berkat dorongan dari kenalannya itulah dia akhirnya berani mengadukan masalah kesulitan yang dialaminya kepada KJRI. Hingga para wakil setempat, langsung bergerak untuk memberikan perlindungan kepada wanita tersebut.

Kasus lainnya yang sering terjadi juga berupa penipuan anak buah kapal. Diberangkatkan seolah akan dipekerjakan dalam sebuah kapal, ternyata pada akhirnya, ditelantarkan setelah uang terkuras habis. Dalam kasus inilah, mengapa pentingnya, mengetahui dengan jelas, informasi lengkap perwakilan Indonesia di negara yang akan kita datangi. Berjaga-jaga, jika musibah datang.

Para pelajar yang berniat menimba ilmu di negara asing pun, langkah yang harus dilakukan saat kedatangan adalah lapor diri. Dengan pemberitahuan inilah, maka berbagai informasi bisa kita dapatkan. Dari mulai perkumpulan para pelajar Indonesia di negara setempat, hingga proses administrasi lainnya.

Dengan melaporkan diri, kita juga jadi mengetahui banyak hal yang rasanya tak terlintas dibenak untuk menjadi patokan dan masukan kita, selama bermukim di luar negeri. Misalnya saya, berkat lapor diri saat saya datang ke Perancis, perkumpulan masyarakat Indonesia bisa saya dapatkan di kota saya, hingga tak lagi merasa terlalu sendiri di perantauan.

Lalu, karena nama saya telah tercatat, maka setiap kali dilaksanakan sebuah acara sosialisasi, acara nasional (kemerdekaan, keagamaan dll), maka biasanya saya akan mendapatkan undangan untuk hadir di KJRI.

Di acara seperti inilah, kita menjadi mengenal lebih jauh, beberapa pasangan campuran, pelajar yang sedang menimba ilmu hingga undangan untuk acara bazar makanan dan produk Indonesia lainnya bisa kita dapatkan.  Tak berarti kita juga dipaksa harus selalu aktif dalam setiap kegiatan.

Hanya, jika kita berada di perantauan, kita memang harus lebih waspada tiga kali lipat. Janganlah hanya datang atau melaporkan saat situasi sudah rawan. Paspor habis, lupa diperpanjang, sementara akan pulang kampung, barulah terbirit-birit meminta bantuan kepada KBRI atau KJRI setempat.

Atau seperti kasus seorang pelajar Indonesia yang berada di kota saya, hampir tak bisa meneruskan kuliahnya karena lupa memperpanjang paspornya, sementara untuk memperpanjang izin tinggalnya di Perancis ini, salah satu syarat yang dibutuhkan adalah paspor yang masih berlaku. Jadilah pelajar dibuat tunggang langgang, kerepotan mengurus segalanya dan masalahnya. Pasalnya selama berada di Prancis, pelajar tersebut tak pernah melaporkan keberadaanya kepada pihak KJRI.

Untung saja, pihak konsulat berhasil menyelesaikan secara cepat. Hingga sang pelajar, dapat meneruskan pendidikannya kembali, hanya harus dengan proses, merepotkan semua pihak dan stres luar biasa.

Cobalah, sesekali juga mengecek website dari perwakilan Indonesia di negara tempat kita tinggal. Karena disitulah kerap terdapat informasi terbaru dan juga penerangan administrasi lainnya. Ikutilah, jika mendengar adanya acara sosialisasi yang diadakan oleh pihak KBRI atau KJRI. Karena saat itulah, kita bisa sekaligus menggunakan kesempatan bertanya segala macam hal yang kita ingin ketahui. Bahkan, kadang dipakai secara ajang, untuk perpanjang paspor, laporan diri untuk pendatang baru, penyampaian berbagai kasus dan masih banyak lainnya yang kita bisa diskusikan.

Janganlah malas untuk melindungi diri kita sendiri di perantauan ini. Bahkan, meskipun hanya berada untuk beberapa bulan, tetaplah melindungi diri kita dengan memberikan informasi lengkap tentang diri kita kepada wakil pemerintahan Indonesia di negara setempat. Hal ini sangat penting selalu diikuti, khususnya jika kita memang masih berniat menjadi WNI.

Namun jika tidak pun tak ada salahnya selalu mengikuti acara sosialisasi atau acara lainnya yang diadakan wakil pemerintahan Indonesia di luar negeri hingga perkumpulan yang masih berhubungan dengan Indonesia. Karena, banyak sekali manfaat yang bisa kita petik.

Tak bisa dipungkiri, mungkin berita miris mengenai para tenaga kerja di beberapa negara yang harus mengakhiri hidupnya atau terlunta hingga teraniaya, kerap membuat banyak masyarakat Indonesia menjadi segan untuk berlisaturahmi dengan para perwakilan pemerintahan Indonesia, di negara asing. Padahal, justru dengan membina kerja sama inilah banyaknya musibah justru bisa dihindari.

Memang tak selamanya hidup itu dipenuhi oleh jalan mulus, kadang tergelincir. Dan sampai dimana jatuhnya itu yang kita tak bisa tahu. Dalam acara sosialisasi yang saya datangi bulan lalu itu, pepatah bijak terdengar, "Bukan hanya kami para wakil resmi dari pemerintah Indonesia yang saat ini bertugas di KJRI atau KBRI yakni para diplomat di negara saat ini kami berada, namun kita semua inilah, yang berarti Anda yang saat ini sedang bermukim di negara asing juga  merupakan para wakil, diplomat Indonesia di negara asing ini. Dari masyarakat Indonesia inilah, hubungan baik antar negara bisa terjalin, tersebarnya kebudayaan Indonesia dan bantuan kepada sesama masyarakat Indonesia di perantauan asing ini bisa terbina, agar tak ada lagi kepincangan. Karena mereka yang hidup di luar negeri ini adalah para diplomat Indonesia." (DINI KUSMANA MASSABUAU)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana