Minggu, 23 November 2014

News / Travel

Menyusuri Malam Kota Bangkok

Kamis, 13 September 2012 | 09:35 WIB

Oleh Dwi Bayu Radius & Mawar Kusuma

Bangkok tak pernah tidur. Pergantian waktunya menampilkan pesona berbeda. Di waktu malam, Bangkok mengumbar seluruh daya pikatnya.

Mari berlayar sambil bersantap malam dengan sentuhan kelas dunia di Bangkok. Demikian slogan yang diumbar penyedia jasa pelayaran dengan kapal pesiar yang menyusuri Sungai Chao Phraya di Bangkok, Thailand.

Gedung River City di tepi Chao Phraya malam itu penuh sesak, termasuk di dalamnya rombongan wisatawan Indonesia yang ikut dalam tur bersama Mandala Airlines. Kami akan menyusuri sungai yang membelah kota yang terkenal dengan anggreknya itu dengan kapal Royal Chao Phraya Princess.

Tidak ada tempat duduk yang tersisa. Semua 300 kursi di kapal berpendingin udara itu terisi penuh. Perlahan kapal bergerak, membelah sungai yang bermandikan cahaya dari bias lampu-lampu kapal dan jembatan yang membentang di atas Chao Phraya. Perahu-perahu tradisional Thailand berseliweran. Sejumlah kuil besar di Bangkok dengan pagoda-pagodanya yang megah dan menjulang tinggi juga diselimuti cahaya lampu.

Hidangan khas Thailand satu demi satu disajikan. Hidangan yang disajikan prasmanan ini sudah siap disantap. Tersedia 10 hidangan utama, dua sup, beberapa hidangan pembuka, serta buah-buahan dan kue. Sup istimewa yang disajikan malam itu adalah sup udang beraroma pedas.

Saat menyesap sup, rasa pedas dan asam langsung menyergap. Rasa sup seperti tom yam goong yang biasa dijual di restoran-restoran di Jakarta, tetapi jauh lebih kaya rempah. Sup juga lebih meriah dengan potongan jamur, udang, lengkuas, serai, cabai, dan daun jeruk. Saat menikmati sajian, terasa sejuknya angin yang berembus dari sela-sela pintu kabin.

Sajian andalan lain adalah deep fried shi sha moh fish. Santapan ikan itu digoreng hingga kering dan berwarna coklat keemasan. Daging ikan berbentuk tipis dengan duri lumat dalam gigitan. Bunyi kriuk-kriuk spontan menyusul saat mulut mengunyah garingnya potongan ikan seukuran sarden itu.

Santapan menjadi istimewa karena disajikan dengan isi telur ikan tersebut. Karena itu, ikan terasa garing di luar, tetapi lembut di dalam. Rasa hidangan itu seperti ikan kembung, tetapi lebih renyah. Jika berselera, ikan pas dicocol dengan saus sambal atau kecap asin dan potongan cabai rawit.

Malam kian larut. Lagu ”Bad Romance” yang dipopulerkan Lady Gaga dinyanyikan penyanyi lokal. Sang biduan pun dengan lincah berkeliling meja untuk mengajak tamu bergabung mendendangkan lagu. Di kapal itu terdapat sekitar 40 meja.

Tarif untuk menikmati pesiar sebesar Rp 1.200 baht atau sekitar Rp 360.000 per orang. Mereka yang tertarik juga bisa menggunakan restoran terapung itu untuk pesta pernikahan, acara kantor, perayaan ulang tahun, hingga seminar.

Kapal berangkat setiap hari sekitar pukul 19.00. Dermaga tempat kapal bertolak adalah 23 Trok Rongnamkhaeng, Siphaya Pier, Yota Road, Bangkok. Tempat itu bisa ditempuh dengan transportasi umum, yakni skytrain, menuju Taksin Station yang berada di tepi Chao Phraya, dilanjutkan perahu ke River City. Pilihan lain adalah kereta MRT menuju Hualumphong Station dilanjutkan dengan bus nomor 1, 75, atau 35.

Tak terasa, dua jam sudah kapal ini menyusuri malam di Chao Phraya. Saatnya kapal untuk bersandar.

Hiburan malam

Hujan yang membasuh sejak sore hingga dini hari tak sanggup menghentikan riak kehidupan malam di Bangkok. Rombongan dari Indonesia yang datang ke Bangkok untuk penyuntingan akhir produksi film Mama Cake yang diproduksi Falcon Pictures sempat kaget ketika pemandu wisata lokal telah memesan hotel di Nana Red Light District. Rupanya, mereka mengira kami adalah wisatawan yang sedang mencari hiburan ala Bangkok. Rombongan hanya ingin melihat Bangkok di waktu malam.

Nana Red Light District memang dikenal sebagai kawasan hiburan malam terbesar di Bangkok. Pemandu wisata pasti akan merekomendasikan Nana Red Light District karena berdekatan dengan dua lokasi lampu merah lain, yaitu Soi Cowboy dan Patpong. Soi Cowboy juga terletak di Sukhumvit, sedangkan Patpong bisa ditempuh 30 menit perjalanan kereta.

Gemerlap lampu-lampu bar di Nana Red Light District kontras dengan jalanan yang mulai becek oleh hujan. Pedagang-pedagang kaki lima dengan gerobak dorongannya setia menjajakan dagangan. Tusukan aneka daging hingga beragam jenis buah-buahan segar sampai kalungan bunga dibiarkan terbasuh hujan di atas gerobak dagangan.

Di depan Bar Night-Morning, seorang ibu menggendong bayi perempuan yang baru berusia sekitar satu tahun. Ibu itu mengulurkan gelas plastik ke arah turis-turis asing yang sedang asyik bercanda dengan pelayan bar. Seorang turis lalu mengulurkan uang kertas 10 baht. Satu baht setara dengan Rp 300.

Keriuhan malam di Nana Red Light District sejatinya berpusat di Nana Entertainment Plaza (NEP). Pusat hiburan ini berupa gedung tiga lantai yang disesaki bar.

Hormat untuk raja

Thailand memang menawarkan keragaman obyek wisata dengan sasaran wisatawan yang bermacam-macam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Di tengah hiruk-pikuk industri pariwisata itu, satu hal yang sangat menarik adalah tingginya kecintaan rakyat Thailand kepada Raja Thailand, Bhumibol Adulyade, dan Permaisuri Ratu Sirikit.

Foto Raja Bhumibol terpajang di bandara hingga menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di Bangkok. Gambar Ratu Sirikit dalam ukuran raksasa juga diperlakukan sama, salah satunya tampak di Pusat Perbelanjaan Mah Boon Krong. Rakyat Thailand juga akan menghentikan aktivitas apa pun ketika lagu kebangsaan berkumandang.

Pengalaman menarik kami kecap ketika menonton bioskop di Paragon Cineplex. Sebelum film diputar, semua penonton tiba-tiba berdiri sebelum kemudian terdengar lagu kebangsaan ”Phleng Chat Thai” dengan iringan pemutaran film perkembangan Thailand di bawah pemerintahan Raja Bhumibol Adulyade.

”...Bangsa Thailand cinta damai, namun dalam perang kami bukanlah penakut. Persatuan negara tidak akan terancam, berjuang hingga tetes darah terakhir. Majulah Thailand, pertahankan kemenangan!”


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: