Sabtu, 30 Agustus 2014

News / Travel

Bersepeda Menyelami Pesona Alam Ubud

Sabtu, 15 September 2012 | 09:42 WIB

Berita Terkait

PAGI yang ditunggu itu akhirnya tiba. Sepeda sudah dipancal, bendera start pun dikibarkan.

Begitu diangkat, 114 peserta Kompas Bali Bike langsung meluncur menembus keramaian Kota Denpasar. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu serta Panglima Daerah Militer Wilayah IX Udayana Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya yang mengibarkan bendara start pun turut menggowes bersama peserta.

Hari itu, Jumat (14/9/2012), para penggowes mulai menaklukkan jalan-jalan arah timur Bali sepanjang 102 kilometer. Suasana penuh kebersamaan mewarnai perjalanan dari Nusa Dua hingga Ubud.

Godlief Matatula (52), salah seorang penggowes, membayangkan sejumlah destinasi eksotik yang akan disinggahi. Menurut dia, kian masuk ke desa-desa, suasana tambah asyik. Apalagi ketika sampai di Ubud. Keringat yang bercucuran dan lelah pulih saat peserta menikmati makan siang dan suasana di Museum Puri Lukisan, Ubud.

Museum itu menjadi salah satu tempat wisata yang disinggahi Kompas Bali Bike. Museum ini tertua di Ubud yang didirikan tahun 1956. Di puri yang elok itu tersimpan karya-karya emas dari seniman Bali dan luar negeri.

Di museum didapati patung Goddess Pertiwi yang dibuat tahun 1933 karya Ida Bagus Nyana, lukisan Balinese Market 1955 karya Anak Agung Gede Sobrat, dan lukisan ”The Dream of Dharmawangsa” tahun 1939 karya I Gusti Nyoman Lempad, juga karya pelukis Walter Spies dan Rudolf Bonnet.

Sejumlah tokoh negara dan pemerintahan, di antaranya Robert F Kennedy, Jaksa Agung AS tahun 1962, dan Ratu Juliana (Belanda, tahun 1972), pernah singgah di museum ini.

Tradisional-modern

Ketua Yayasan Ratna Wartha Museum Puri Lukisan Ubud, Tjokorda Gde Putra Sukawati mengatakan, Museum Puri Ubud adalah museum tradisional modern Bali. Di tempat ini pengunjung bisa melihat perjalanan karya seni rupa dan kriya Bali, mulai dari yang masih tradisional hingga yang sudah tersentuh seni modern.

Di Ubud, kehidupan modern sudah mewarnai hidup masyarakatnya, tapi akar budaya Bali masih terjaga baik sehingga kawasan Ubud ini mempunyai nuansa yang berbeda. ”Tidak ada hiburan malam yang ingar-bingar, semuanya menyatu dengan suasana alam,” ujar Putra.

Perubahan memang mulai mewarnai Ubud. Minimarket yang beroperasi 24 jam mulai bermunculan, begitu juga gerai Starbuck. Padahal menurut Putra, gerai-gerai seperti itu tak seharusnya ada. Namun, Ubud masih menjadi magnet wisata yang memesona. (NIT/SEM/COK)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : I Made Asdhiana
Sumber: