Selasa, 22 Juli 2014

News / Travel

Pacoa Jara, Tidak Pernah Luntur

Selasa, 18 September 2012 | 13:48 WIB

MATAHARI menyengat dengan teriknya saat kuda-kuda yang dikendalikan oleh joki-joki mungil saling berpacu melintasi arena pacuan yang kering dan berdebu seluas lapangan sepak bola. Tanpa pelana dan hanya menggunakan penutup kepala yang tidak standar, para joki yang berumur rata-rata di bawah sepuluh tahun itu berlomba menjadi yang terdepan di arena pacuan kuda Lembah Kara, Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (8/9/2012).

Pacoa jara merupakan istilah Dompu untuk pacuan kuda. Biasanya, pacoa jara digelar setiap tahun untuk menyambut hari besar, seperti hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pesertanya selain berasal dari Dompu juga datang dari sejumlah daerah seperti Bima, Sumbawa, Taliwang, dan Lombok.

Jumlah peserta tahun ini 511 kuda yang terbagi dalam 12 kelas, mulai dari kelas terendah ’TK’ (tinggi kuda rata-rata 1,12 sentimeter dan berumur di bawah 2 tahun) hingga kelas tertinggi ’C’ (kuda dewasa dengan tinggi rata-rata 1,30 sentimeter). Lomba ini berlangsung selama seminggu menggunakan sistem gugur di setiap kelasnya.

Kuda pacuan adalah kuda istimewa. Perawatannya pun tak sembarangan. Kuda dimandikan dengan air panas yang dicampur rempah-rempah. Selain itu, porsi makanan juga diperhatikan agar kuda dapat berlari kencang saat di lintasan. Karena balapan berlangsung seminggu, para pemilik kuda membangun tenda-tenda di sekitar arena pacuan.

Pacoa jara di Dompu telah berlangsung turun-temurun. Di era modern jara tetap bertahan dengan segala tradisinya. (Hendra A Setyawan)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: