Jumat, 1 Agustus 2014

News / Travel

"Gugatan" Melky Goeslaw dari Bibir Pasifik

Rabu, 19 September 2012 | 15:58 WIB

PENYANYI Melky Goeslaw menuangkan ”gugatannya” dalam sebuah lagu, ”Morotai Menangis”, ketika menyaksikan tanah kelahirannya tercabik ledakan bom tentara Amerika Serikat saat Perang Dunia II (1939-1945).

Pertengahan tahun 2005, kami, sejumlah wartawan, bertemu Melky di Manado, Sulawesi Utara, untuk mendiskusikan nasib Morotai. ”Kita menggugat Amerika (Serikat) dengan lagu,” katanya.

Melky sempat menulis beberapa bait lagu ”Morotai Menangis” lewat deskripsi kematian dua pemuda Morotai yang tewas terkena ranjau bom di laut. Deskripsi ”Morotai Menangis” seperti lagu diciptakan Melky dekade tahun 1980-an, ”Hiroshima dan Nagasaki”.

Morotai, pulau kecil di ujung utara Kepulauan Halmahera, Maluku Utara, menjadi kawasan penuh drama kehidupan. Sejumlah peristiwa penting terjadi di kawasan itu. Pulau Morotai menjadi kawasan penting tentara Amerika Serikat dalam Perang Dunia II.

Tahun 2000, Morotai sempat terusik kerusuhan Ternate. Nama Morotai menjadi ikon Provinsi Maluku Utara yang kemudian memanggungkan event nasional Sail Morotai tahun 2012 pekan lalu.

Ribuan orang datang ke Morotai meski wilayah itu agak sulit dijangkau. Padahal Morotai memiliki Bandara Pitu Strip, peninggalan tentara AS.

Roda ekonomi Morotai yang berpenduduk 53.000 orang dengan luas wilayah daratan 2.314,9 kilometer persegi nyaris tak bergerak. Sebagian warga hidup miskin. Beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke sana, kami menyaksikan rumah- rumah warga yang sebagian berdinding papan dan anak-anak ke sekolah tanpa memakai alas kaki.

Penghasilan utama warga Morotai adalah dari nelayan dan perkebunan. Sebagian nelayan Morotai mengadu nasib dengan bekerja pada kapal-kapal ikan milik pengusaha Filipina.

Dari Kota Manado, Morotai relatif lebih mudah dijangkau dengan kapal ke Tobelo selama 12 jam, kemudian naik speed boat ke Morotai selama 2 jam. Dari Ternate, ibu kota Maluku Utara, orang harus mengganti angkutan 3 kali, yakni speed boat ke Sofifi lalu melewati jalan darat ke Tobelo selama lima jam dan disambung naik perahu motor ke Morotai.

Penting

Menjual Pulau Morotai untuk go international memang jauh lebih mudah daripada daerah lain di Tanah Air. Bagi AS dan sekutunya, Pulau Morotai memiliki arti sangat penting, khususnya saat AS hendak melancarkan serangan balasan yang menentukan terhadap seluruh kepentingan Jepang di Filipina dan Korea di era Perang Pasifik (1941-1945). Pulau itu dijadikan tempat konsolidasi ribuan tentara angkatan darat, laut, dan udara.

Bisa jadi tak satu warga Morotai pun menduga sebelumnya bahwa negerinya telah masuk dalam skenario inti perang Pasifik. Mereka sedikit pun tidak tahu bahwa mereka telah menjadi bagian dari dendam dan tekad I shall return-nya Panglima Divisi VII AS Jenderal Douglas MacArthur.

Warga Morotai hanya mampu terkejut bercampur takut dan kagum ketika menyaksikan gelombang ratusan pesawat terbang Sekutu meraung-raung memecah kesunyian malam pada September 1944. Penaklukan Morotai berlangsung tanpa perlawanan berarti dari Jepang.

Sulitnya pasukan Jepang menerobos ke Morotai karena di sekeliling pantai pulau itu Sekutu menebar bom-bom ranjau laut. Itu memang telah dipersiapkan untuk menangkal terobosan pasukan berani mati Jepang yang bermarkas di sepanjang pantai Teluk Kao dan Malifut, pantai timur Halmahera, 40 mil arah barat dan selatan Morotai.

Masih banyak ranjau bom di laut Morotai yang tak sempat dijinakkan oleh tentara sekutu sebelum meninggalkan Morotai. Dan bom itu terus meledak memusnahkan warga Morotai.

Itu sebabnya, Melky Goeslaw mencoba menggugat AS dengan lagu ”Morotai Menangis”. Sayang, lagu itu tak sempat terpublikasikan sampai Melky menutup mata untuk selamanya tahun 2006. (Jean Rizal Layuck)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: