Kamis, 2 Oktober 2014

News / Travel

Weekend Yuk!

Batik sampai Koteka, Berburu Oleh-oleh di Jayapura

Jumat, 5 Oktober 2012 | 16:40 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com – Kota Jayapura menjadi surga berburu oleh-oleh khas Papua. Selain sejak lama berkembang pesat menjadi kota yang dihuni oleh lintas penduduk dari berbagai daerah di Indonesia, kota ini menjadi kota pelajar dan ibu kota Provinsi Papua. Tak heran, sangat mudah menemukan aneka suvenir sebagai buah tangan saat kembali ke daerah asal. Cukup mampir ke daerah Pasar Hamadi. Pilihan lain adalah berburu aneka makanan maupun bahan masakan di pasar tradisional. Berikut beberapa barang yang harus dalam daftar belanja Anda.

Batik Papua. Mari berburu batik dengan motif-motif Papua. Aneka gambar cendrawasih, tifa, sampai motif kapak batu. Simbol cecak dan buaya pun juga banyak ditemukan di desain batik. Tentu aneka patung suku seperti suku Asmat maupun Sentani juga kerap muncul.

Warna-warna dominan adalah warna tanah dan merah batu bata. Namun, batik Papua juga hadir dengan warna-warna cerah menggoda seperti biru terang, kuning, merah, ungu, hingga merah jambu.

Salah satu toko favorit untuk berburu batik papua adalah toko Aneka Batik yang berada di Jalan Percetakan I. Aneka Batik memiliki dua toko di Jayapura. Namun di pusat kota Jayapura sendiri terdapat beberapa toko yang menjual batik papua.

Aneka Batik menjadi favorit karena motif dan warna yang dijual beragam. Serta harga yang bervariasi. Di sini dijual kain meteran dengan harga mulai dari Rp 30.000 per meter. Harga tergantung dari jenis kain, proses pembuatan, sampai pengunaan prada.

Kain sutra dengan teknik batik canting tentu lebih mahal. Di toko ini juga dijual busana untuk perempuan maupun kemeja dan pakaian anak-anak dari batik Papua. Konon, batik-batik ini sebenarnya dibuat di Pulau Jawa, tetapi hanya boleh dijual di Jayapura.

Mau yang lebih autentik bisa mampir ke Batik Port Numbay Papua yang berada di Kotaraja, Jayapura. Jimmy Affar, pemilik workshop batik tersebut, menjadi seorang seniman batik Papua dan seringkali disebut-sebut sebagai pelopor batik Papua.

Jika mampir ke workshop batik miliknya, tampak para mace (sebutan khas Papua untuk ibu) sibuk mencanting batik. Motif-motif dipikirkan sendiri oleh Jimmy dan ia merancang busana batik untuk perempuan. Di sini Anda bisa membeli batik Papua baik berupa kain maupun busana jadi. Tentu harganya lebih mahal, karena batik canting dan sebagian besar menggunakan bahan sutra.

Koteka dan Noken. Berburu suvenir unik dengan nuansa kayu dan temali, maka Pasar Hamadi menjadi pilihan tepat. Di sepanjang tepi Jalan Sentral Hamadi berjejer toko cenderamata. Setiap toko berjualan hal yang sama, koteka berbagai ukuran, noken atau tas khas Papua, sampai patung dan asbak dengan desain suku Asmat.

Ada pula, gelang dari akar dan gantungan kunci. Pilihan lain adalah lukisan kulit kayu. Jika memilih lukisan kulit kayu, coba cari motif orang menunggang ular besar yang merupakan legenda masyarakat Sentani. Namun, aneka lukisan lain bercorak khas Papua bisa juga menjadi pilihan Anda.

Koteka yang dijual memiliki beragam ukuran dan jenis bahan koteka. Tentu saja ini adalah koteka-koteka yang khusus dibuat untuk suvenir. Sehingga setiap koteka biasanya diberikan lukisan dengan motif-motif suku di Papua. Koteka dijual dengan kisaran mulai dari Rp 30.000.

Matoa. Buah asal tanah Papua ini begitu unik. Jika beruntung dan datang di saat musim berbuah Matoa, Anda bisa membelinya dengan harga lebih terjangkau. Walaupun tak bisa dibilang murah, karena kisaran harganya Rp 30.000 – Rp 80.000 per kilogram tergantung jenisnya.

Tetapi, jika tak lagi musim berbuah, harga pun melonjak. Bisa-bisa harga per kilogram mencapai Rp 50.000 bahkan lebih dari Rp 130.000 untuk jenis tertentu.

Matoa di Papua biasanya ada dua jenis yang dijual yaitu Matoa Kepala dan Matoa Papeda. Ada banyak penjaja buah matoa di Abepura tepatnya di Jalan Raya Abe-Kotaraja. Pilihan lain adalah berkunjung ke pasar tradisional.

Buah Matoa sendiri seperti buah rambutan. Walaupun kulitnya tak berbulu seperti rambutan. Namun daging dan biji di dalam kulitnya mirip rambutan. Berwarna putih, lembut dan berair banyak, serta terasa manis.

Agak sulit mendeskripsikan rasa dari buah Matoa. Ada rasa manis berair seperti rambutan, leci, dan kelengkeng. Lalu, ada pula buah Matoa yang memiliki selintasan rasa dan aroma seperti durian. Bahkan ada buah Matoa yang sedikit terasa kelapa.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor : kadek