Rabu, 1 Oktober 2014

News / Travel

Menyaksikan Keunikan Budaya Moko di Pulau Alor

Selasa, 16 Oktober 2012 | 13:22 WIB

KOMPAS.com - Museum ini berada di Kota Kalabahi, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota yaitu di Jalan Diponegoro, Kalabahi. Museum 1.000 Moko menyimpan beragam benda peninggalan pra-sejarah dan benda sejarah.

Museum ini adalah salah satu bukti betapa budaya di pulau ini dapat begitu sangat beragam dan unik. Dinamai Museum 1.000 Moko karena moko mewakili kebudayaan orang Alor dan dianggap sebagai benda adat yang bernilai budaya sangat tinggi. Sementara itu, angka 1.000 menunjukkan keanekaragaman suku sekaligus bentuk harapan masyarakat Pulau Alor.

Koleksi yang tersimpan di Museum 1.000 Moko cukup beragam, yaitu alat tenun, kain tenun, gerabah, alat nelayan tradisional, alat pertanian, meriam portugis, senjata peninggalan Jepang, baju adat, alat berburu tradisional, dan tentunya koleksi unggulan yaitu moko. Benda koleksi di museum ini terus diperlengkapi dimana museum ini berambisi mengoleksi moko dalam jumlah banyak hingga 1.000 atau lebih.

Masyarakat Alor sendiri menyebut moko sebagai sebutan untuk nekara perunggu yang umumnya dikenal sebagai salah satu benda sejarah peninggalan kebudayaan Dongson di Vietnam Utara. Orang Alor sendiri percaya bahwa Moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi. Hampir dipastikan tidak ada masyarakat adat di Nusantara yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Pulau Alor.

Dalam sejarah peradaban Pulau Alor, moko digunakan sebagai belis atau atau mas kawin. Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor, yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang.

Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor, moko digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Selain sebagai alat musik tradisional, dahulu moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor. Hal inilah yang sempat menyebabkan inflasi di kawasan tersebut pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

Sekarang Moko berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin serta simbol status sosial. Dalam adat dan istiadat pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon istrinya, itu karena moko dipercaya dapat mengikat pernikahan.

Hingga kini, adat menjadikan moko sebagai mahar masih terus berlangsung. Suku di Alor yang masih menetapkan mas kawin dengan moko adalah suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya moko yang disanggupi saat membayar mas kawin.

Selain menyimpan koleksi moko, Museum 1.000 Moko juga memajang beragam benda budaya dan barang bersejarah yang ada di daerah ini. Uniknya hampir 80 persen benda koleksi museum tersebut merupakan warisan dari koleksi seorang warga keturunan China di Kalabahi, bernama Toby Retika. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kalabahi pada September 2003 dan menyerahkan seluruh hasil koleksinya itu kepada Pemerintah Kabupaten Alor.

Gedung Meseum 1.000 Moko diresmikan Gubernur NTT, Piet A Tallo, pada 4 Mei 2004. Kehadiran museum ini adalah sebagai tempat bagi masyarakat untuk mengetahui, menyaksikan, mengagumi, dan juga mempelajari kebudayaan yang ada di Pulau Alor.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: