Selasa, 16 September 2014

News / Travel

Benteng Lohayong, Cikal Bakal Misi Portugis di Flores

Senin, 22 Oktober 2012 | 20:37 WIB

BONGKAHAN beton berusia 500-an tahun berserakan di tebing sampai bergelantungan di bibir pantai, mengisyaratkan ketidakpedulian pemerintah dan masyarakat sekitar terhadap benteng yang dibangun Portugis pada 1555-1603 itu. Misi Katolik Portugis di daratan Flores dan sekitarnya berawal dari benteng itu. Benteng itu disebut ”Port Henricus XVII”, merupakan bagian dari ziarah religius ”Semana Santa” di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Benteng terletak sekitar 20 meter dari bibir pantai di ujung barat Desa Lohayong, Flores Timur, dengan ketinggian sekitar 50 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari bekas reruntuhan benteng dapat dipantau secara jelas kapal dan perahu layar yang melintas di Selat Solor, antara Pulau Solor dan Pulau Adonara, Flores Timur.

Sebuah meriam peninggalan Portugis yang tertutup semak belukar tergeletak persis di tepi tebing dengan moncong mengarah Selat Solor, yang biasa dilalui kapal-kapal asing zaman dulu. Meriam yang lain mengarah ke timur dan barat. Di bagian barat benteng itu tumbuh sebuah pohon beringin dengan akar bergelantungan.

Nie Kolin (81), penutur lisan sejarah Solor di Desa Kawatung, pekan lalu, mengatakan, sampai 1850-an, kawasan benteng Portugis itu disebut kota. Sebab, waktu itu hanya wilayah itu yang memiliki fasilitas permukiman yang cukup lengkap dengan pelabuhan laut yang masih layak disinggahi kapal atau perahu. Semuanya dibangun Portugis.

Pelabuhan itu digunakan saudagar Portugis untuk mengangkut kayu cendana dan gaharu dari Pulau Solor. Setiap bulan sebuah perahu mendarat di pelabuhan itu. Kayu itu diperoleh dari hutan sekitar.

Penduduk lokal masih primitif, percaya akan hal-hal mitis-magis. Mereka tidak mudah menerima ajaran baru yang diajarkan Portugis. Mereka pun tidak berani menempati pantai itu karena takut terhadap serangan musuh. Zaman itu kehidupan suku-suku saling serang. Mereka membangun permukiman di bukit atau ketinggian agar tidak mudah dijangkau musuh.

Nelayan dari luar

Tahun 1870-an, Lohayong diduduki nelayan dari luar. Mereka memanfaatkan sebuah pelabuhan yang ditinggalkan Portugis yang masih tampak layak untuk pendaratan perahu dan hasil tangkapan.

”Cerita ini diceritakan oleh ayah yang mendapat cerita dari kakek. Tentu kakek juga mendapat cerita dari moyang dan seterusnya. Ada tujuh atau delapan turunan dari suku Kolin yang memiliki cerita ini,” kata Nie.

Penduduk asli Solor memiliki marga (suku), antara lain, Kolin, Herin, Hayon, Tukan, Kaha, dan Kroon. Kini, mereka menyebar di seluruh daratan Pulau Solor dan di luar Solor, seperti Pulau Adonara, Lembata, dan daratan Flores. Suku Kolin sebagai pemegang sabda, ajaran, juru bicara, dan penutur sejarah. Koten sebagai pimpinan pemerintahan dan suku lainnya berperan sebagai warga biasa.

Tidak banyak literatur yang menjelaskan kehadiran benteng tersebut, termasuk tahun pembangunan, dimulai oleh siapa, serta dari mana Portugis mendapatkan pasir dan semen.

Antropolog Jerman, Paul Arndt (1886-1962), antara lain, menyebutkan benteng itu didirikan 1555-1603 dibawa kekuasaan raja Portugis Henricus XVII sehingga disebut juga ”Port Henricus”. Di dalam benteng terdapat sebuah katakombe dengan satu unit kamar yang belum bisa dibuka sampai hari ini.

Misi Katolik di Flores dan Timor dimulai dari Solor sehingga dalam literatur tua gereja Katolik disebutkan ”Misi Solor”. Sebutan ini diperkuat dengan sejumlah peta tua tentang pulau-pulau di ujung timur Flores, disebut Kepulauan Solor dan Selat Solor. Padahal, Solor jauh lebih kecil (tiga kecamatan) dibandingkan dengan Pulau Adonara (tujuh kecamatan) dan Pulau Lembata (14 kecamatan).

Meninggalkan benteng

Sekretaris Daerah Flores Timur Anton Matutina mengatakan, sekitar tahun 1600, Portugis meninggalkan benteng itu karena terus mendapat serangan dari penduduk lokal, yang masih primitif. Portugis kemudian bergeser ke Larantuka dan sebagian melanjutkan perjalanan ke Sikka.

Mengenai penduduk yang sedang berdiam di Lohayong saat ini, ia mengatakan, mereka itu datang kemudian dengan status sebagai nelayan. Mereka memanfaatkan sebuah dermaga yang dibangun Portugis dan masih layak dipakai sampai 1800-an.

Kepala Desa Lohayong II Thahir Kasim mengatakan, benteng itu berukuran 52 x 36 meter. Didirikan bangsa Portugis sekitar 1557 bertujuan melindungi diri dari serangan penduduk lokal yang telah menganut agama Islam.

”Kalau Belanda mengusir Portugis tentu penduduk di Lohayong ini beragama Protestan, tetapi faktanya menganut agama Islam. Siapa yang mengusir Portugis dari Lohayong, kita akan diskusi bersama ahli sejarah dan sejumlah tokoh Katolik tentang hal ini untuk mencari kebenaran sejarah,” kata Thahir.

Peziarah ”Semana Santa”

Sekretaris Desa Lohayong II Abdullah Imran menuturkan, setiap tahun, sekitar 500 orang mengunjungi benteng itu. Mereka kebanyakan peziarah ”Semana Santa”, Jumat Agung di Larantuka, dan para turis mancanegara.

Sesuai peraturan Desa Lohayog, pengunjung dikenai pungutan Rp 25.000 per pengunjung lokal dan Rp 100.000 per pengunjung asing. Namun, Imran tidak menjelaskan manfaat pungutan itu. Kondisi benteng sendiri dalam keadaan hancur, porak poranda.

Banyak peneliti benteng heran dengan kondisi reruntuhan benteng. Meski campuran beton sudah 500-an tahun silam, bongkahan beton itu tidak mudah hancur. Pasir dan semen atau campuran bahan memiliki cekatan (rekatan) yang sangat kuat.

”Peneliti dari Jerman coba menguyah campuran itu untuk mengetahui apakah terasa asin atau tidak, tetapi rasanya biasa saja. Mereka bahkan membawa sedikit campuran ke negara asal untuk penelitian lebih lanjut,” kata Imran.

Nilai religius

Putra Solor yang juga Pastor Paroki Baniona, Rm Silvester Siku Pr, mengatakan, benteng Henricus di Lohayong merupakan salah satu peninggalan Portugis yang diyakini sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai religius. Di dalam benteng itu sekitar delapan pastor dari kongregasi Dominikan dibunuh penduduk asli. Mereka adalah martir dalam mewartakan agama Katolik.

Benteng ini sebagai bagian dari rangkaian ziarah rohani ”Semana Santa”, Jumat Agung di Larantuka, selain gereja tua di Wure, Adonara. Sangat disayangkan kalau benteng itu berada di lokasi yang tidak nyaman bagi para peziarah.

”Mempertahankan Misi Solor sebagai cikal bakal agama Katolik tumbuh dan berkembang di seluruh daratan Flores sampai Timor Leste, sebaiknya dibangun sebuah taman doa rohani di Solor. Para peziarah diarahkan ke tempat itu,” kata Silvester.  (KORNELIS KEWA AMA)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: