Sabtu, 1 November 2014

News / Travel

Tetap Senyum meski Luka Menggurat

Jumat, 2 November 2012 | 15:54 WIB

Oleh FRANS SARONG

Kampung terpencil, Wojang, medio Juli lalu, berubah riuh. Lecutan cemeti-terutama menjelang senja-bertalu talu. Gelegarnya terdengar hingga radius 1-2 kilometer. Ratusan warga seakan tumpah ke Wojang. Mereka ternyata sedang menggelar caci, atraksi budaya mendebarkan khas Manggarai Raya di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Manggarai Raya wilayah di ujung barat Flores, yang kini merupakan wilayah Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Wojang adalah satu dari sejumlah anak kampung di Desa Rana Kolong, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur.

Jaraknya dari Wae Lengga (kota kecamatan) hanya sekitar 15 km. Ternyata perjalanan hingga Wojang butuh perjuangan berat. Sejak lama jaringan jalannya tidak terurus, hancur, dan berlubang-lubang. Kendaraan yang berani melintas hanya jenis truk kayu yang dimodifikasi menjadi angkutan pedesaan. Itu pun hanya pada Kamis dan Jumat.

Jika harus bepergian pada hari lainnya, hanya mungkin dengan berjalan kaki atau jasa ojek sepeda motor. Kalau dengan ojek, ongkosnya Rp 50.000 untuk perjalanan pergi pulang (pp). Itu artinya lima kali lebih mahal dibandingkan ongkos naik truk. ”Kampung kami biasanya sepi karena masih sangat terisolasi. Beruntung ada caci hingga berubah ramai, meski hanya untuk sehari,” keluh Domi Nggorong, tetua Kampung Wojang.

Pertarungan caci adalah atraksi budaya berupa adu ketangkasan dua lelaki dewasa. Keduanya dengan serius dan sekuat tenaga, saling mencambuk. Itu dilakukan bergantian menggunakan cemeti atau pui dari irisan kulit kerbau yang sudah mengering. Khusus di Manggarai Timur, ujung pui masih disambungkan lagi dengan sebatang lidi atau pori segar hingga guratan luka disertai cucuran darah menjadi risiko bagi pelaga yang tak tangkas menangkis.

Seperti lazimnya, pementasan caci di Wojang, medio Juli lalu, berlangsung di tengah kampung. Sebagian arena merupakan badan jalan. Pementasan praktis tidak mengganggu lalu lintas karena memang tak ada kendaraan yang melintas. Pertarungan bisa melibatkan lebih dari sepasang pelaga sekali turun. Jumlahnya bergantung kapasitas arena pementasan.

Para pelaga biasanya tampil dengan kostum khusus. Umumnya mengenakan celana panjang–standarnya berwarna putih–yang dibalut lagi dengan kain tenun Manggarai, untuk menutupi bagian pinggang ke bawah. Bagian kepala mengenakan ngombo (kain penutup kepala hingga menyisakan sedikit celah di sekitar mata). Bagian depan kepala masih dipasangi hiasan mirip gambaran depan kepala kerbau bertanduk, yang disebut panggal. Bahan utamanya dari kulit kerbau atau kulit sapi yang sudah kering. Bagian badan pelaga dibiarkan telanjang.

Ketika giliran menyerang, pelaga menggunakan pui. Aturannya, pui boleh beberapa kali menyambar angin hingga menimbulkan bunyi menggelegar, sebagai ancang ancang, namun hanya sekali mencambuk lawannya. Begitu seterusnya secara bergantian hingga tiga empat ronde.

Lawannya sebagai penangkis, lazimnya menggunakan alat bantu perisai bernama nggiling-juga dari kulit kerbau yang sudah kering-ditambah lengkungan seberkas ranting bambu atau rotan yang disebut agang. Pertarungan yang mirip tari perang, tidak mengenal kalah menang. Meski demikian, pelaga harus berlaku jujur untuk segera meninggalkan arena bila bagian mukanya terkena cambukan lawan. Insiden itu disebut beke atau rowa. Sementara luka di bagian badan lainnya dianggap sebagai risiko normal bagi pelaga.

Kembali ke pementasan caci di Wojang. Matahari sudah menuju petang dan atraksi kian seru. Tiba giliran Markus Poseng mencambuki lawannya, Yosep Nendong. Markus mengambil ancang-ancang. Sambil berjingkrak jingkrak, ia dengan pui-nya dua kali menyambar angin hingga menimbulkan gelegar merobek suasana. Sesaat kemudian, terdengar jedarrr… setelah lecutan pui Markus beradu dengan nggiling dan agang tangkisan Yosep Nendong.

Entah di mana kelemahannya, lecutan Markus meninggalkan guratan luka menganga disertai cucuran darah segar pada bagian punggung Yosep Nendong. Menariknya, sang lawan seakan tak peduli dengan lukanya itu. Ia tetap lomes (menari), bahkan sambil tersenyum hingga membuat suasana pertarungan bertambah seru tanpa rasa dendam.

Sikap tanpa rasa dendam makin tegas ketika mereka gantian memukul. Ia dan lawannya sama-sama berposisi setengah berlutut dan sambil senyum pula saat serah terima perangkat nggiling dan agang menyusul pergantian peran.

Di Manggarai Raya, caci lazimnya dipentaskan sebagai syukuran panen, pembukaan kampung baru (sese topok) atau pembukaan kebun komunal sistem lodok (sistem pembagian lahan berbentuk jaring laba-laba) di kampung-kampung antara Juli-September. Belakangan, caci juga dipentaskan untuk memeriahkan perayaan HUT kemerdekaan, menyambut tamu terhormat, atau kebutuhan pelancong.

Di Manggarai Barat, sejak beberapa tahun lalu secara rutin dengan agenda pagelaran seni budaya, termasuk pementasan caci. Seperti tahun ini, pagelaran itu berlangsung 14 - 17 Agustus lalu di Labuan Bajo. ”Pagelaran itu selain untuk memeriahkan HUT kemerdekaan, juga upaya pengayaan obyek wisata agar pelancong tahu bahwa pariwisata di Manggarai Barat tidak hanya mengandalkan binatang purba komodo,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat Theo Suardi, Senin (27/8) siang.

Khusus caci di Wojang, dipentaskan sebagai syukuran panen kebun komunalnya. Seperti dijelaskan tetuanya, Domi Nggorong, atraksi itu didahului pemotongan sejumlah babi dan ayam sebagai hewan kurbannya. Dilanjutkan dengan rangkaian ritual kelong woja wole (arakan seberkas mayang padi dari kebun hingga pelataran kampung) sebelum atraksi caci dimulai.

Apa itu caci?

Lorens Bagus (makalah: Manusia Manggarai dan Caci Dalam Telaahan Antropo-Fenomenologi Filosofis, 1994) antara lain menjelaskan, caci sebagai fenomena budaya merupakan media hiburan. Makna lainnya sebagai syukuran panen atau merupakan rangkaian upacara pernikahan.

Atraksi caci juga mengandung ajaran filosofis. Seseorang menjadi jantan, tetapi sekaligus sportif. Para pemain tidak dibenarkan begitu saja melempar nggiling dan agang, tapi harus diserahkan dengan sopan santun kepada lawannya.

Sosiolog Robert MZ Lawang (1993) mengatakan, hakikat caci langsung berhubungan dengan kesucian secara tradisional menurut kepercayaan orang Manggarai. Inti caci tentu saja bukan proses penyucian diri. Namun, caci merupakan kesempatan secara empirik untuk menguji kesucian seseorang.

Bagi mereka yang turun dalam caci, meski sistem perlindungan sudah sedemikian rapinya, tapi tidak jarang terkena beke atau rowa. Biasanya orang yang terkena beke atau rowa selalu dianggap karena ada dosa berat yang dibuat sebelumnya.

Pementasan caci memang mendebarkan karena tak jarang diwarnai guratan luka menganga yang disertai cucuran darah. Namun, pemandangan itu tidak memicu ketegangan karena berlalu dengan penuh senyum dan suka ria, tanpa rasa dendam….


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: