Rabu, 30 Juli 2014

News / Travel

Weekend Yuk!

Keramahan, Awal Mula Pariwisata di Ubud

Sabtu, 10 November 2012 | 17:04 WIB

Berita Terkait

KOMPAS.com — Museum Puri Lukisan harus Anda masukkan dalam daftar tempat-tempat wisata yang ingin dikunjungi di Bali. Bukan sekadar karena museum itu tampil megah dengan arsitektur gaya Bali, melainkan juga karena museum ini merupakan museum tertua di Pulau Bali.

Museum ini sangat mudah ditemukan. Berada di Ubud, Kabupaten Gianyar, dari Pasar Ubud bisa ditempuh dengan jalan kaki ke arah Jalan Campuhan. Lukisan menjadi koleksi utama di museum ini. Bali memang terkenal sebagai rumah dari banyak seniman dunia. Beberapa di antaranya menetap di Ubud, seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan Antonio Blanco.

Di Museum Puri Lukisan, pengunjung diajak melihat lukisan-lukisan Bali sesuai perubahan zaman. Mulai dari lukisan wayang klasik di era sebelum tahun 1930, lalu lukisan di tahun 1930-an, sampai menjelang kemerdekaan Indonesia. Beberapa lukisan yang menggambarkan kehidupan di Bali pada era ini merupakan karya pelukis asing.

Kemudian, berlanjut ke era setelah kemerdekaan Indonesia. Seniman Bali mulai mengadopsi teknik seni Barat, seperti pewarnaan dan penggunaan barat. Namun, tema yang diangkat tetap mencirikan lokalitas.

Nah, penggemar sejarah pasti girang berada di museum ini. Pasalnya, sebuah ruangan menampilkan perjalanan Ubud menjadi sebuah destinasi wisata yang mendunia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pariwisata Ubud telah dipromosikan di seluruh dunia.

Adalah sosok Tjokorda Gde Agung Sukawati yang berada di belakang hal tersebut. Sebagai bangsawan dari kalangan Puri Ubud, ia berkontribusi pada majunya pariwisata di Ubud yang berdampak pula pada Pulau Bali secara umum.

Di tahun 1920-an, keluarga Tjokorda Gde Agung Sukawati menerima turis-turis asing untuk menetap di Puri Saren Ubud. Hal yang tak lazim di masanya. Pasalnya, puri atau kediaman bagi para bangsawan Bali biasanya sangat tertutup.

Alhasil, seniman dunia seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet pernah menetap di puri. Bersama Tjokorda Gde Agung Sukawati, mereka menjadi pelopor pendirian Museum Puri Lukisan yang buka untuk umum di tahun 1952.

Nah, di salah satu ruang pameran, pengunjung bisa melihat perjalanan Tjokorda Gde Agung Sukawati mempromosikan Ubud dan menerima para tamunya dengan keramahan khas Bali. Walau seorang ningrat, ia bagai seorang marketing piawai di dunia pariwisata.

Hal ini terjadi saat Bali belum seperti saat ini, sebuah destinasi wisata yang siap jual. Ia pun tak segan-segan mempromosikan budaya Bali kepada tamu. Di Tahun 1972, Tjokorda Gde Agung Sukawati pernah kedatangan tamu agung, yaitu Ratu Belanda Juliana.

Dengan piawai, Tjokorda Gde Agung Sukawati malah menjamunya dengan makan crorot atau kue tradisional Bali, ditemani dengan minuman air kelapa. Sebuah foto menggambarkan perjumpaan Tjokorda Gde Agung Sukawati dengan Ratu Juliana. Lengkap dengan sebuah informasi unik.

”The coolest drink of the island,” begitu tutur Tjokorda Gde Agung Sukawati kepada Ratu Juliana ketika meminta Ratu mencoba air kelapa.

Sebuah surat dari tahun 1978 yang dipajang di Museum Puri Lukisan, mengambarkan sosok Tjokorda Gde Agung berlaku layaknya seorang manajer hotel. Di dalam surat yang ditujukan kepada seorang tamu yang akan menginap di Puri Saren Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati menuliskan rincian tarif penginapan, tarif sewa mobil, sampai agenda wisata di Ubud.

 

Para seniman yang menetap di Ubud pun digunakan sebagai media mempromosikan Bali ke dunia. Melalui goresan-goresan lukisan mereka, Bali digambarkan begitu eksotis. Para penikmat lukisan yang menyebar di seluruh dunia menjadi terpesona dan akhirnya tertarik melancong ke Bali untuk melihat langsung eksotisme itu.

Surat lain yaitu dari Robert F Kennedy, saudara dari Presiden Amerika Serikat John F Kennedy, di tahun 1962. Saat itu ia dan istri berkunjung ke Ubud dan diterima dengan ramah oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati. Tjokorda  bahkan memberikan lukisan kepada Robert sebagai cenderamata dan menitipkan pula lukisan untuk Presiden Amerika Serikat.

Atas segala keramahan yang ia terima, Robert F Kennedy mengirim surat terima kasih kepada Tjokorda Gde Agung Sukawati. Apa yang dilakukan Tjokorda Gde Agung Sukawati menunjukkan hal paling penting sekaligus paling sederhana jika ingin mengembangkan pariwisata sebuah destinasi. Kata kuncinya hanyalah ”keramahan”.

Penuh ramah dan dengan tangan terbuka, Tjokorda Gde Agung Sukawati membuka pintu Puri Saren Ubud yang biasanya tertutup bagi orang asing. Pada akhirnya, orang-orang asing yang jatuh cinta dengan keramahan ini pun menjadi sarana promosi gratis bagi Ubud dan Bali.

 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : kadek