Rabu, 3 September 2014

News / Travel

Mengunjungi Makau Kota Sejarah

Jumat, 16 November 2012 | 13:34 WIB

DI tengah perairan bergelombang kecil, seorang nelayan bercaping mengayuh jukung (perahu kecil dari bambu). Ketika nelayan itu hendak menjala ikan, sayang terpeleset dan jatuh ke laut.

Hanya dalam sekian detik, nelayan itu tersangkut di pucuk tiang setinggi 7 meter dari kapal besar, yang muncul dari dalam perairan. Itu bagian adegan awal dari cuplikan pertunjukan The House of the Dancing Water, Makau, China, pertengahan Oktober 2012.

Menyaksikan pertunjukan kombinasi akrobatis sirkus, opera, dan tarian balet arahan Franco Dragone terkesan memang spektakuler. Hanya dari kolam buatan yang tak terlalu luas, tidak hanya kapal besar yang muncul, tetapi juga rumah klasik China. Pranata panggung juga mampu menciptakan suara badai, kilat yang menggelegar, dan hujan buatan yang indah.

The House of the Dancing Water, pertunjukan berbasis air ini, memikat dengan didukung pemain-pemain opera, pesilat, dan atlet-atlet andal, mulai dari loncat indah hingga sejumlah cabang olahraga, termasuk pebalap motor trail. Seluruh pertunjukan berdurasi dua jam, didukung tata cahaya dan sound system multimedia, menggambarkan inspirasi kreatif akar kebudayaan China.

Permainan tata cahaya tidak hanya di The House of The Dancing Water. City of Dream juga menampilkan pertunjukan multimedia Dragon’s Treasure. Pertunjukan bercerita soal empat naga berkekuatan misterius, membawa penonton berpetualang di kerajaan yang penuh keajaiban. Semua ini tersaji dalam tata visual dan suara yang dahsyat di gedung teater tertutup berbentuk telur.

Ada pula pertunjukan gratis di depan gedung Wynn Makau. Wisatawan bisa menyaksikan Performance Lake, yakni tarian air mancur, gratis. Air mancur ini bisa menari dengan tata cahaya lampu sangat indah, disertai musik klasik sampai musik populer. Pertunjukan ini berdurasi 15 menit. Iluminasi terdiri dari berbagai unsur, seperti air, cahaya, warna, dan api, membutuhkan 200 titik air dan tempat yang mampu menampung 800.000 galon air.

Manager Komunikasi dan Relasi Publik Kantor Pemerintah Pariwisata Makau Indonesia, Ningsih A Chandra mengemukakan, sejumlah atraksi multimedia itu bagian pengembangan destinasi wisata baru di Makau, di samping destinasi kasino dan balap mobil yang sudah melegenda sejak tahun 1954.

Pemandu wisata Makau, Esther Lou, mengemukakan, Makau menginvestasikan pendapatan dari kasino supaya kota berkembang. Pendapatan dari kasino luar biasa, bisa mencapai Rp 15 miliar dalam setengah bulan saja. Tujuannya, menjadikan kota Makau kota perpaduan museum bangunan klasik, juga Makau sebagai kota modern dengan gedung-gedung pencakar langit yang memancarkan pelangi di malam hari.

Sebagai miniatur kota-kota di Eropa, perpaduan kekayaan arsitektur serta budaya Portugis dan China telah mewarnai tata kota dan kuliner yang melimpah di Makau. Di sejumlah kawasan wisata, terutama permukiman lama, dapat dijumpai jalan-jalan dari paving bebatuan khas kota-kota kecil di Eropa.

”Batu-batu ini dibawa Portugis 400 tahun lalu ke Makau. Saat itu, fungsi batu-batu sebagai pemberat kapal. Maklum, Portugis kala itu tidak sekaya bangsa Eropa lain. Dari Makau, barulah kapal itu bermuatan hasil bumi dan barang berharga lain,” kata Esther Lou.

Pusat sejarah Makau

Jalan paving bebatuan bisa dinikmati di Senado Square (Largo do Senado), tempat favorit wisatawan. Di plaza ini terdapat air mancur yang dikelilingi bangunan-bangunan bersejarah bergaya Portugis—kini berfungsi sebagai kantor Pemerintah Makau.

Kalau sore hari, wisatawan yang beruntung dapat menikmati pertunjukan musik di panggung terbuka atau acara perayaan publik lainnya. Lokasi ini juga menjadi pusat belanja suvenir seraya menikmati kuil-kuil tua dan gereja bergaya neoklasik.

Tidak jauh dari Senado Square, terdapat landmark Makau, yaitu reruntuhan Katedral St Paul, Gereja Master Dei yang didirikan pada 1602-1640 dan pada 1835 terbakar, tetapi tidak dibangun kembali. Sebagai kesatuan, Gereja Master Dei, Universitas St John, dan Bukit Benteng (Mount Fortress) merupakan bangunan kaum Jesuit dan dianggap ”acropolis” Makau.

Dua museum penting yang perlu dikunjungi di Makau adalah Museum Maritim (Museu Maritimo) dan Museum Makau (Museu de Macau). Kedua museum ini memiliki koleksi paling komplet untuk menambah cakrawala wisatawan mengenai Makau sebagai jalan sutra dan memahami sejarah peraduan kehidupan bangsa Portugis berintegrasi dengan penduduk China lokal. Museum Makau juga mengenalkan perpaduan arsitektur rumah orang Portugis dengan orang China.

Di Museum Maritim, terdapat sajian lengkap soal kapal-kapal Portugis yang tiba kali pertama di Makau, juga ada kehidupan pelaut China di masa lalu. Makau adalah kota yang selalu dilanda badai topan selama Juli-September. Upaya pemerintah melindungi warganya dari serangan topan bisa dilihat di museum ini. Di sini terdapat sejumlah alat pemantau dan foto-foto dahsyatnya bencana topan.

Bangunan-bangunan lama dan bersejarah ternyata hingga saat ini masih terawat dengan baik di Makau. Seperti halnya Museum Rumah Taipa, kompleks sejumlah rumah asli Portugis awal abad ke-20. Rumah ini menampilkan furnitur gaya campuran Barat dan China. Bahkan, ada rumah tua besar untuk pesta reuni orang-orang Portugis kalau ke Makau.

Tak heran, mudah sekali dijumpai kuil-kuil Tao dari zaman Dinasti Ming, gereja-gereja bergaya Baroque dari abad ke-18, benteng besar di bukit dari abad ke-17, rumah-rumah pesisir China bergaya klasik, teater tertua di Asia, dan mercuasuar pertama bergaya Barat.

Menurut sejarah, Makau, kota kecil di tepi pantai di hilir Sungai Pearl dari Guangzhou (Kanton), adalah pelabuhan bagian dari jalan sutra yang ramai disinggahi kapal-kapal dari Eropa. Sekarang ini, Makau, kota berpenduduk sekitar 500.000 orang, menjadi daerah istimewa (special administrative region) dari China, seperti halnya Hongkong.

Makau terbagi empat wilayah, yaitu Coloane, kampung tua di Makau; Taipa adalah lokasi bandara Makau; Makau Peninsula yang menjadi area favorit para wisatawan; serta Cotai, daerah yang terkenal dengan kasino dan kehidupan malamnya. Cotai dan Makau Peninsula sebagian daratannya hasil reklamasi pantai dalam 20 tahun terakhir ini.

Portugis kali pertama tiba pada 1550 atau 400 tahun silam di desa pesisir yang disebut A-Ma, oleh penduduk setempat berarti penghormatan kepada Dewi Laut. Kuilnya menghadap pintu masuk pelabuhan, belakangan menjadi pintu gerbang terkemuka antara China, Jepang, India, dan Eropa.

Dari segi bisnis, Makau dikenal sebagai tempat judi dan perdagangan candu sebelum tahun 1841. Sesudahnya, candu sudah meredup, tetapi perjudian dan kasino menjadi daya tarik perkembangan kota kecil Makau. Bahkan, Makau dikenal sebagai Las Vegas-nya Asia yang terbesar di dunia. Bertolak dari tujuan itu, tak heran Makau kini gencar menarik wisatawan untuk berkunjung.

Data orang Indonesia yang berkunjung ke Makau juga mengalami peningkatan, dari 200.000 sampai 225.000 wisatawan per tahun, kemungkinan terus bertambah seiring kemudahan menjangkau Makau dari Jakarta dengan penerbangan lebih kurang delapan jam, transit melalui Kuala Lumpur, Malaysia. Jumlah ini belum termasuk kunjungan wisatawan negara lain yang dalam setengah tahun bisa mencapai 800.000 turis asing.

Manajer Komunikasi AirAsia Indonesia, Audrey Progastama Petriny menyatakan, AirAsia juga telah menerapkan layanan fly-thru untuk destinasi internasional dari Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung menuju Guangzhou, Shenzhen, Makau, dan Hongkong.

Kelebihan utama layanan fly-thru adalah bagasi penumpang yang akan diproses langsung menuju destinasi terakhir. Artinya, penumpang tidak harus melakukan proses pemindahan bagasi dari destinasi awal ke destinasi berikutnya. Penumpang pun juga terbebas dari urusan imigrasi.

”Layanan ini memungkinkan penumpang menikmati proses check in dengan mudah dan cepat, ditambah dengan adanya fitur self check in melalui website AirAsia (web check in). Mereka juga akan menghemat biaya untuk aplikasi visa di lokasi transit,” kata Audrey Progastama. (WINARTO HERUSANSONO)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: