Minggu, 23 November 2014

News / Travel

Sumpang Labbu, Terowongan Khasnya Bone

Jumat, 16 November 2012 | 16:50 WIB

BONE, KOMPAS.com - Bagi Anda yang pernah melakukan perjalanan darat dari Kota Makassar ke Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pastinya melewati sebuah terowongan batu yang disebut Sumpang Labbu.

Jalan poros sepanjang 176 kilometer yang menghubungkan Kota Makassar dengan Kabupaten Bone ini dahulunya dibangun oleh kolonial Belanda konon demi menghindari serangan pasukan Kerajaan Gowa yang tak terima dengan perjanjian Bongaya dan melakukan gerilya di pegunungan bagian selatan pulau ini.

Perjalanan panjang yang melelahkan dengan meliputi tikungan tajam dan pendakian dengan jurang dalam cukup membuat pengguna jalan jenuh di atas kendaraan.

Namun, setelah sampai di Desa Liliriawang, Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone, pengguna jalan akan disuguhi sebuah terowongan dan pemandangan indah dengan panorama pegunungan.

Sumpang Labbu, demikian warga setempat menyebut nama terowongan yang terbuat dari batu cadas ini, Sumpang Labbu berarti Jalan Berdebu dulunya disebut batu goroe atau batu massebboe berarti batu berlubang.

Proses pembuatan terowongan ini menurut sejumlah warga setempat dilakukan dengan cara dipahat oleh ribuan warga lokal yang dipekerjakan secara paksa oleh kolonial Belanda.

Tak ayal pengerjaan akses yang kini menjadi jalur transprovinsi ini pun memakan ribuan korban jiwa.

"Katanya dibuat dengan cara dipahat dan banyak korban jiwa karena dulu semua orang di sini dipaksa kerja rodi oleh Belanda. Kalau ada warga lari, ditembak. Tapi ini hanya cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat," beber Anwar Kepala Kecamatan Bengo yang ditemui Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Seiring dengan perkembangan zaman, terowongan inipun banyak disinggahi oleh para pengguna jalan sekedar melepas penat.

Terowongan sepanjang 8 meter dengan lebar 5 meter ini saat ini menjadi tempat primadona bagi pengguna jalan yang lelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan.

Apalagi saat ini telah dibangun sarana peristirahatan tepat di atas terowongan. Di tempat ini, warga dapat menyaksikan pemandangan berupa pegununagan yang hijau serta kesejukan udaranya yang menggoda warga untuk terlelap di siang hari.

"Pokoknya kalau kita sudah duduk di atas, pasti ngantuk sekali karena sejuk sekali anginnya," ujar Edy salah seorang pengguna jalan asal Makassar yang mampir sekedar melepaskan penat.


Penulis: Kontributor Bone, Abdul Haq
Editor : Tri Wahono