Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Travel

Sate Maranggi, Dingin di Luar, Hangat di Dalam

Minggu, 25 November 2012 | 07:56 WIB

KOMPAS.com - Suasana ramai menghiasi sebuah kedai sate di Jalan Pegadaian, Cipendawa, Pacet, Jawa Barat. Pengunjung yang terdiri dari anak muda serta keluarga tersebut mungkin tak melihat jam yang telah menunjukkan pukul 23.00 WIB, hampir tengah malam. Di depan kedai sate layaknya restoran yang menyajikan sate lainnya, berasap itu, terpampang sebuah neon box yang bertuliskan 'Sate Maranggi Pak Maskur Tahun 1990'.

Kompas.com yang kebetulan melewati jalan Pegadaian, beberapa waktu lalu itu pun tertarik melipir ke kedai dengan dominasi bambu itu. Sedikit bersembunyi dari dinginnya malam di wilayah perbukitan, mungkin sama dengan alasan para pengunjung lainnya, mungkin juga tidak.

"Mau pesan apa mas? Daging saja atau campur lemak?" tanya seorang pegawai kedai dengan hangat.

Dua puluh tusuk, sepuluh daging sementara sepuluh lainnya lemak menjadi pilihan santapan makan tengah malam kala itu. Berdasarkan sajian, bentuk sate maranggi layaknya sate pada umumnya yang sedikit gosong bercambur bumbu kecap. Gurih. Dinginnya malam itu pun membuat tangan tak sabar mencicipi sajian sate tersebut.

Rupanya, alasan bersembunyi dari dinginnya angin malam tak sepenuhnya benar, juga tak sepenuhnya salah. Keduanya berpadu apik di dalam hangat dan empuknya sate maranggi ini. Sedikit menyiratkan kesimpulan, mengapa orang-orang di sekitar saya rela tengah malam mengunjungi Kedai Sate Maranggi Pak Maskur.

Rahmat Hidayat, salah satu penanggung jawab kedai sate itu atau yang biasa disebut mandor, mengatakan, Kedai Sate Pak Maskur dikelola oleh satu keluarga sejak tahun 1990. Sebagai usaha keluarga, kedai sate khas Purwakarta ini memiliki resep jitu dalam mengolah daging sate. "Soal resep sate, kita tidak ada yang tahu. Yang tahu cuma mereka yang bekerja di unit dapur. Memang dibuat begitu biar tetap terjaga resep keluarga kita," ujar Rahmat.

Meski sate yang diolah dari daging kambing itu berasal dari Purwakarta, pihak keluarga Pak Maskur pun melakukan modifikasi yang pada akhirnya membuat sate maranggi-nya menjadi terkenal, bahkan lebih terkenal dari daerah asal. "Kalo versi aslinya sate dicampur kacang dan kecap. Kalau di kita pakai oncom paling sama cabe rawit," terangnya.

Benar saja, gurih dan hangatnya sate maranggi memang tidak lengkap jika hanya dimakan 'polos' tanpa dicampur oncom dan kecap. Apalagi, pemilik kedai memadukan sate dengan dua pilihan sumber karbohidrat, nasi atau ketan. Tentu saja, keduanya disajikan dalam kondisi hangat. "Satu hari bisa dua baskom sate penuh. Kalau pengunjung paling ramai Sabtu, Minggu atau perayaan-perayaan, misalnya tahun baru," ujar Rahmat.

Jika anda tengah berada di kawasan Puncak, tinggal menyusuri Jalan Raya Puncak sekitar 20 menit lagi setelah Istana Negara Cipanas, kedai sate maranggi ini cocok menjadi penutup wisata. Rasakan paduan dingin hawa perbukitan dengan hangatnya sate maranggi bersama kerabat atau sanak saudara tercinta.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : I Made Asdhiana