Kamis, 24 Juli 2014

News / Travel

Menari di Ombak Pantai Watukarung

Selasa, 27 November 2012 | 10:40 WIB

Oleh Runik Sri Astuti

Obyek wisata Pantai Watukarung di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, tak hanya menawarkan pesona pasir putih perawan. Gugusan pulau karang hitamnya begitu kokoh menjulang. Di sela-sela karang itu, gelombang laut meliuk-liuk bak penari, menantang peselancar memacu adrenalinnya.

Jarum jam tepat menunjuk angka 12.00 siang ketika Samuel Tana menyembul dari perairan di Pantai Watukarung di Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Oktober 2012. Peselancar asal Queensland, Australia, ini kemudian berjalan di atas pasir putih bersih yang menghampar di sepanjang pantai.

Tangan kanan peselancar dengan julukan ”Number Eight” ini mengapit sebuah papan seluncur berwarna dominan putih. Baju yang basah membuat tubuh kekar pria yang lebih kurang berusia 24 tahun ini tampak jelas.

Menyusul di belakang Samuel adalah Made, peselancar asal Malaysia yang sudah lama tinggal dan menetap di Bali. Bertiga dengan Robert, peselancar asal Inggris, mereka mengakhiri petualangan ”menari” di atas ombak Pantai Watukarung pada tengah hari itu.

”Ombaknya sungguh luar biasa walaupun di siang hari. Memiliki kekuatan yang penuh sehingga sangat menantang. Hilang sedikit keseimbangan, pastilah akan terpeleset dan jatuh. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan luar biasa untuk bisa melewati sela-sela spot yang rawan,” ujar Samuel.

Kelas dunia

Samuel, Made, dan Robert hanyalah segelintir turis mancanegara yang menikmati sensasi mengarungi ombak di Pantai Watukarung pada siang itu. Di lepas pantai, ada puluhan turis dari berbagai negara, seperti Australia, Jerman, bahkan Amerika Serikat, yang unjuk kebolehan meliuk di atas gulungan ombak.

Sebagian dari mereka bukan turis biasa, melainkan peselancar profesional yang berpengalaman menjelajah pantai-pantai dengan ombak kelas dunia. Samuel, misalnya, mengaku menekuni olahraga selancar sejak berumur 10 tahun. Kini, ia menekuni bisnis pariwisata di Bali dengan fokus selancar.

”Ombak di sini tidak bisa disamakan dengan di Bali karena itu banyak peselancar dari Bali yang ke sini. Mereka rata-rata membutuhkan waktu lumayan lama untuk menyelami karakter ombak di sini,” kata Made.

Pantai Watukarung merupakan salah satu dari puluhan pantai yang memesona di Kabupaten Pacitan. Pantai ini terletak sekitar 35 kilometer dari alun-alun atau pusat pemerintahan daerah. Perjalanan ke lokasi itu harus ditempuh dengan kendaraan roda empat atau sepeda motor pribadi atau sewa karena memang tak ada angkutan umum yang memfasilitasi pengunjung.

Waktu tempuh sekitar satu jam bagi mereka yang belum pernah berkunjung ke lokasi ini. Hal itu karena akses menuju tempat wisata ini hanya jalan yang lebarnya sekitar 4 meter. Kondisi jalannya memang sudah beraspal, tetapi banyak lubang di sana-sini. Pemandangan perbukitan dengan pepohonan lebat di kawasan Pegunungan Sewu akan menemani sepanjang perjalanan.

Harus hati-hati

Pengemudi disarankan berkendara dengan hati-hati dan waspada. Pasalnya, kondisi jalan banyak diwarnai tikungan, kelokan, tanjakan, dan turunan yang sangat tajam. Di beberapa titik, jarak pandang pengemudi bahkan bisa kurang dari 1 meter. Akibatnya, sangat rawan terjadi tabrakan dengan kendaraan dari arah berlawanan.

Secara umum sebenarnya tidak sulit untuk menemukan pantai ini karena warga desa setempat telah memasang papan petunjuk arah. Tinggal diikuti dan bila ragu, bertanyalah kepada warga sekitar. Niscaya mereka akan mengarahkan dengan penuh keramahan.

Sesampainya di Watukarung, pengunjung biasanya langsung menuju ke pantai tempat berlabuh para nelayan. Hal itu sangat wajar sebab aktivitas di sini sangat ramai karena terdapat tempat pelelangan ikan yang menjadi pusat transaksi perdagangan hasil melaut.

Namun, jangan terburu-buru senang. Sebab, surga yang sesungguhnya berada di balik batu karang. Letaknya hampir bersebelahan dengan pelabuhan ikan. Pantai ini kondisinya lebih bersih dan tidak bau amis. Sejauh mata memandang yang terhampar hanya pasir putih bersih, tanpa ternodai keberadaan kapal nelayan.

Hamparan pasirnya yang luas mengundang pengunjung bermain, berlari, bahkan bergulung di atasnya. Pengunjung bebas berekspresi seperti membangun istana pasir, saling lempar dengan gumpalan pasir, hingga menyelimuti atau mengubur diri di dalam pasir.

Permainan pasir bukanlah satu-satunya daya tarik bagi wisatawan. Pengunjung bisa berenang di air laut yang sangat jernih dengan warna hijau kebiru-biruan. Di dasar laut terdapat batu karang pipih berwarna hitam yang sangat menawan. Pada musim kerang laut, dasar air akan dipenuhi aneka jenis kerang.

Tidak seperti tempat wisata pada umumnya, pengunjung Pantai Watukarung tidak dikenai biaya retribusi yang dihitung per kepala. Pengunjung cukup membayar biaya parkir kendaraan Rp 5.000 untuk roda empat dan Rp 2.000 untuk roda dua. Itu pun tanpa dikenai biaya tambahan yang dihitung per jam seperti jika kita parkir di mal.

Kepala Desa Watukarung Wiwid Pheni Dwiantari mengatakan, walaupun sudah banyak dikunjungi wisatawan asing, Pantai Watukarung belum secara resmi dibuka sebagai obyek wisata. Oleh karena itu, sampai kini tidak ada data resmi jumlah kunjungan wisatawan domestik atau asing di kawasan itu.

”Penyebabnya, ya karena tidak ada anggaran. Menurut rencana, baru tahun 2013, Pantai Watukarung akan dikembangkan sebagai obyek wisata. Sejumlah fasilitas umum, seperti area parkir, kamar mandi umum, hingga tempat berjualan, akan dibangun,” katanya.

Wiwid mengatakan, pemerintah dan masyarakat desa tidak meragukan potensi obyek wisata ini. Hal itu karena sudah banyak investor yang masuk. Hampir semuanya berasal dari luar kota, terutama Bali dan Jakarta. Sebagian besar membeli tanah dan membangun penginapan di tepi pantai.

”Para investor ini pula yang selama ini mempromosikan Pantai Watukarung pada wisatawan asing, selain para agen wisata. Kami berharap keberadaan obyek wisata ini mampu membangkitkan ekonomi penduduk desa yang hampir 90 persen mengandalkan hasil mencari ikan di laut,” ucapnya.

Nah, bagi anda yang tertarik dengan pesona Pantai Watukarung, tunggu apalagi. Atau bagi mereka yang bingung hendak berwisata, pantai ini bisa memperkaya referensi. Kehadiran para wisatawan asing sepanjang tahun membuktikan betapa pesona pantai ini telah mendunia sebelum dikenal di jagat pariwisata Nusantara.

 


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: