Jumat, 31 Oktober 2014

News / Travel

Gubernur Bali: Bandara Buleleng Harus Jadi

Senin, 3 Desember 2012 | 14:57 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menginginkan pembangunan bandar udara di Kabupaten Buleleng harus jadi karena pengaruhnya besar untuk keseimbangan ekonomi di Pulau Dewata.

"Pokoknya harus jadi, entah di timur atau barat sepanjang memenuhi teknis penerbangan," katanya saat menemui perwakilan warga Kabupaten Buleleng, di Denpasar, Minggu (2/12/2012).

Menurut dia, Bali memerlukan bandara alternatif di luar Bandara Ngurah Rai karena akan kewalahan jika jumlah wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata mencapai lebih dari lima juta.

"Perluasan bandara saat ini hanya terminalnya dan tidak mungkin ada perluasan ’runway’ atau landasan pacu," ujarnya.

Ia menyampaikan, dengan rata-rata kunjungan wisatawan asing sekitar 2,8-3 juta setahun ditambah dengan kunjungan wisatawan domestik sekitar 7 juta, bandara sudah padat. Apalagi kalau nanti jumlah wisatawan asing dan nusantara menjadi 15 juta setahun.

Pastika mengharapkan berbagai kalangan jangan ribut-ribut dulu dan cepat alergi dengan kehadiran investor.

"Penyakit kita ini seringkali langsung bilang ’no’ dengan investor sehingga orang asing memandang daerah kita tidak kondusif," ujarnya.

Tidak dimungkiri pandangan seperti itu karena tidak sedikit investor yang hanya menyedot kekayaan dari Bali lalu hasilnya dibawa keluar.

"Istilahnya mereka hanya membangun di Bali, bukan membangun Bali," ujarnya.

Mantan Kapolda Bali ini mengatakan sudah sempat berbicara langsung dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan tentang pembangunan bandara di Buleleng, termasuk agar pembiayaannya bisa dibiayai oleh konsorsium BUMN dan pemerintah daerah.

"Saya sendiri sebenarnya tidak setuju jika memakai investor asing. Tetapi kalau mau cepat, ya harus pakai investor," katanya.

Ia mengharapkan ke depan pihak-pihak yang tidak berkompeten di bidang penerbangan jangan terlalu banyak berkomentar karena dikhawatirkan hal tersebut akan membuat investor menjadi takut.

Ia mengatakan sebelumnya sudah ada investor India yang tertarik membiayai pembangunan bandara di Buleleng dengan bernuansakan Hindu, namun diurungkan melihat ramainya komentar penolakan dari komponen masyarakat Bali.

Data PT Angkasa Pura I menyebutkan bahwa hingga November 2012  jumlah penumpang mencapai 12.771.874 yang terdiri dari 6.594.830 penumpang domestik dan 6.177.044 penumpang internasional.

"Pemerintah pusat sudah melakukan studi kelayakan di 10 lokasi paling potensial untuk sebuah bandara baru di Bali. Sepuluh lokasi itu di Kabupaten Tabanan, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Buleleng," kata Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng Arya Sukerta di Singaraja.

Namun akhirnya pemerintah pusat menganggap Kabupaten Buleleng yang paling layak, tepatnya berada di kawasan Gerokgak, bandara itu rencananya dibangun.

Selain itu, pemerintah juga akan mengembangkan Gerokgak sebagai kawasan konservasi, Sangsit sebagai kawasan permukiman, dan Kubu Tambahan sebagai kawasan perluasan objek wisata pantai.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Herry Bhakti S Gumay di Nusa Dua beberapa waktu lalu menyatakan bahwa hasil studi kelayakan di Gerokgak sudah tepat.

"Namun ada proses yang harus dilaksanakan sebelum memulai pembangunan," katanya di sela-sela pertemuan Menteri Transportasi se-ASEAN.

Ia juga meminta Pemkab Buleleng menyediakan lahan seluas 160 hektare. "Apakah di Buleleng ada lahan datar seluas 160 hektare?" katanya.


Editor : kadek
Sumber: