Minggu, 23 November 2014

News / Travel

Melihat Orangutan di Nyaru Menteng

Jumat, 7 Desember 2012 | 18:42 WIB

KOMPAS.com - Meski tak sepopuler Taman Nasional Tanjung Puting, Nyaru Menteng adalah tempat reintroduksi (pelepasan dan adaptasi dengan alam liar) bagi orangutan yang memiliki peran tak kalah penting dalam usaha penyelamatan dan pelestarian orangutan. Nyaru Menteng tepatnya berada dekat dengan Palangkaraya (sekitar 28 km) dan secara administratif terletak di Desa Tumbang Tahai, Bukit Batu, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Pusat rehabilitasi dan reintroduksi ini terletak di dalam kawasan Arboretum Nyaru Menteng, yang awalnya dimaksudkan hanya untuk pelestarian vegetasi langka. Kini, kawasan tersebut juga mencakup kawasan hutan konservasi tempat orangutan dilepaskan setelah menjalani karantina atau rehabilitasi.

Kebanyakan orangutan yang menghuni Nyaru Menteng adalah bayi orangutan yang kehilangan induknya karena dibunuh atau pun sebab lainnya. Orangutan yang pernah ditangkap manusia juga dilatih dan dirawat dengan baik di sini sebelum siap dilepas kembali ke alam liar.

Pusat reintroduksi orangutan Nyaru Menteng didirikan tahun 1999 oleh Lone Dröscher Nielsen dan Odom Kisar. Lone Dröscher-Nielsen sebelumnya merupakan sukarelawan di Taman Nasional Tanjung Puting yang bertugas mengurusi bayi orangutan.

Setelah 4 tahun mendedikasikan diri di Tanjung Puting, ia memutuskan keluar dan mulai merintis proyek orangutan Nyaru Menteng. Di bawah asuhan Borneo Orangutan Survival (BOS), pusat reintroduksi ini adalah rumah bagi lebih dari 600 orangutan yatim dan yang terlantar.

Hutan di sekitar berfungsi sebagai tempat yang sempurna dimana bayi-bayi orangutan diajarkan dan dilatih untuk bertahan hidup di alam liar. Karena bayi-bayi tersebut yatim, para dokter hewan, asisten, dan pekerja yang berjumlah ratusan yang bertanggung jawab mengasuh mereka, menggantikan peran orangtua orangutan yang sudah mati karena berbagai alasan. Orangutan di sini diberi makan, dimandikan, dan dirawat dengan baik.

Pusat reintroduksi orangutan Nyaru Menteng telah menjadi pusat konservasi orangutan dengan fasilitas lengkap. Di sini tersedia kandang, klinik, kendaraan, hutan dan pulau tempat pelepasan, termasuk ratusan staf. Lokasi klinik, berbagai fasilitas untuk keperluan karantina, dan kandang sosialisasi berada di dalam kawasan berpagar seluas 1,5 ha. Hutan di sekitar kawasan tertutup bagi pengunjung karena merupakan tempat bagi pelatihan orangutan untuk hidup di alam liar.

Lima pulau kecil di sekitar sungai terdekat adalah rumah pertama bagi orangutan untuk memulai hidup baru di alam liar tanpa pengasuh mereka. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Kaja, Begamat, Palas 1, Palas 2, dan Hampapak Matei. Orangutan yang lebih besar ditempatkan di pulau dekat Sungai Rungan, sekitar 8 km melalui jalan darat.

Di pulau-pulau tersebut, orangutan dapat bebas berkeliaran dan belajar keterampilan bertahan hidup di hutan liar. Selain itu, pusat reintroduksi orangutan ini juga memiliki perkebunan buah sendiri dan cagar alam yang besar, tempat bagi orangutan dapat dilepaskan saat mereka siap hidup di alam bebas.

Sebagai pusat konservasi, tujuan dari proyek Nyaru Menteng adalah untuk menyelamatkan orangutan dan juga primata dilindungi lainnya yang direnggut dari habitat asli mereka atau berasal dari penangkaran hewan peliharaan yang sifatnya ilegal. Di tempat ini mereka dikarantina dan dilatih atau dirawat agar siap kembali hidup di habitat asli mereka. Nyaru Menteng juga bertujuan untuk membantu melindungi wilayah hutan yang cukup luas yang tentunya juga mendukung program reintroduksi orangutan ke alam liar.

Kegiatan di Nyaru Menteng telah menarik perhatian sejumlah media sehingga didokumentasikan dalam sejumlah serial TV, seperti “Orangutan Diary” oleh BBC dan “Orangutan Island” oleh Animal Planet.

Nyaru Menteng dalam bahasa Dayak setempat berarti gagah dan berani, sebuah ungkapan yang tepat bagi pusat reintroduksi yang melatih orangutan agar siap kembali ke habitat alami mereka.


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: